Senin, 02 September 2024

ADAB-ADAB ZIARAH KUBUR

ADAB-ADAB ZIARAH KUBUR


Hiruk-pikiuk dan gegap gempita dunia ini melalaikan seseorang dari mengingat kematian, padahal tak seorangpun diantara kita yang mengingkari datangnya kematian ini.

Allah ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS. Ali ‘Imran[3]:185).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ.

Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit orang yang bisa melampui umur tersebut” (HR. Ibnu Majah 4236, Tirmidzi 3550 dihasankan Syaikh al-Albani di dalam Ash-Shahihah 757).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan agar kita banyak mengingat kematian.

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ، يَعْنِي الْمَوْتَ

 “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian).” (HR. Ahmad 7925, Ibnu Majah 4258, Tirmidzi 2307, di hasankan Syaikh al-Albani di dalam Al-Irwa’ 682, AL-Misykah 1607).


Hukum Ziarah kubur

Diantara ajaran syari’at ini untuk mengingatkan kematian yaitu dengan ziarah kubur baik laki-laki maupun perempuan.

Dari Buraidah Ibnul Hushaib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ، فَزُورُوهَا.

“Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka (sekarang) berziarahlah” (HR. Muslim 1977).


نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ، فَزُورُوهَا، فَإِنَّ فِي زِيَارَتِهَا تَذْكِرَةً

“Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka (sekarang) berziarahlah, karena hal itu akan mengingatkan (kematian).” (HR. Abu Dawud 3235).

Termasuk perkara penting agar mengetahui adab-adab di dalam ziarah kubur.

Bagi wanita hendaknya tidak sering-sering melakukan hal itu berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَعَنَ اللّهُ زَوَّارَاتِ الْقُبُوْرِ

“Allah melaknat wanita-wanita yang sering menziarahi kubur” dalam riwayat yang lain “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita yang sering ziarah kubur.” (HR. Abu Dawud 2478, Ahmad 8670, Ibnu Majah 1575, Tirmidzi 1056, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahihu Al-Jami’ 5109).

Waktunya.

Begitu pula tidak menentukan waktu-waktu khusus, seperti menjelang lebaran, setiap malam jum’at dan lain-lain karena hal ini tidak ada keterangan dari Al-Qur’an maupun Hadits.

Adapun diantara Adab-adab ziarah kubur yaitu:

1.   Meluruskan niat.

Ziarah kubur merupakan bagian dari ibadah, oleh karena itu hendaknya meluruskan niat agar ikhlas semata-mata karena Allah dan mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah ta’ala berfirman:

ثُمَّ جَعَلْنٰكَ عَلٰى شَرِيْعَةٍ مِّنَ الْاَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ.

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiyah [45]: 18).

2.   Tidak membawa karangan bunga, bunga setaman (nyekar).

Hendaknya kaum muslimin menyadari bahwa banyak budaya di luar islam yang bukan bagian dari ajaran islam kemudian dimasukkan ke dalam islam.

Seperti menabur bunga (nyekar) dengan berbagai macam pernak-perniknya, bukan bagian dari ajaran islam, tidak boleh dilakukan, pelakunya bisa berdosa, apabila telah mengetahui tapi masih melakukan.

Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua buah kuburan, lalu beliau bersabda:

إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِيْ كَبِيْرٍ،أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ، وَأَمَّا الآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيْمَةِ

“Sungguh kedua penghuni kubur itu sedang disiksa. Mereka disiksa bukan karena perkara besar (dalam pandangan keduanya). Salah satu tidak menjaga diri dari kencing. Sedangkan yang satunya lagi, dia kesana kemari menebar namimah (mengadu domba).” Kemudian beliau mengambil pelepah kurma basah. Beliau membelahnya menjadi dua, lalu beliau tancapkan di atas masing-masing kubur satu potong. Para sahabat bertanya, “Wahai, Rasulullah, mengapa Anda melakukan ini?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

 لَعَلَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا.

 “Semoga keduanya diringankan siksaannya, selama kedua pelepah ini belum kering.” (HR. Bukhari 216 Muslim 292).

Perlu diketahui perkara ini merupakan kekhususuan pada Rasulullah, karena beliau terkadang ditampakkan perkara gaib, pada saat itu beliau melihat penghuni kubur sedang disiksa, dan sebagai pembelajaran pada umat beliau.

Para sahabat tidak mengikuti apa yang beliau lakukan, karena itu tidak boleh mengkiaskan pelepah kurma dengan bunga setaman, dengan dalih untuk mengirim penghuni kubur.

Apakah seseorang mengetahui jika penghuni kubur tersebut sedang disiksa, jika demikian berarti dia telah buruk sangka kepada penghuni kubur. (lihat pula Ahkamul Jana’iz, bab Ziarah Kubur, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani).

3.   Tidak mengkhususkan berziarah kubur pada tempat yang jauh.

Adapun Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam pernah mengunjungi makam ibundanya Aminah binti wahb yang berada di sebuah desa bernama Abwa' daerah yang sekarang disebut dengan nama kharibah karena beliau sekedar mampir.

Dari abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:

زَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْرَ أُمِّهِ، فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ، فَقَالَ: اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي، وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِي أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِي، فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ.

“Nabi shallallahu'alaihi wasallam berziarah kepada makam ibunya, lalu beliau menangis, kemudian menangis pulalah orang-orang di sekitar beliau. Beliau lalu bersabda: "Aku meminta izin kepada Rabb-ku untuk memintakan ampunan bagi ibuku, namun aku tidak diizinkan melakukannya. Maka aku pun meminta izin untuk menziarahi kuburnya, aku pun diizinkan. Berziarah-kuburlah, karena ia dapat mengingatkan engkau akan kematian," (HR. Muslim 976, Ahmad 988, Ibnu Majah 1572).

Apa yang dilakukan orang-orang sekarang sangat berbeda jauh dari apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena mereka datang dari jauh menganggap sebuah keutamaan, mengharapkan berkah dari kubur tersebut, sehingga perjalanan kekubur-kubur itu dianggap memiliki keutamaan yang besar, dalam hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang keras.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sakit dan membawa pada kematiannya, Beliau bersabda:

لَعَنَ اللَّهُ اليَهُودَ وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسْجِدًا.

“Allah telah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani yang menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (HR. Bukhari 1330, Muslim 529, Ahmad 1884).

Mereka beribadah disamping kubur-kubur itu.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

Di Sukoharjo Ada Lelaki yang Bisa Bantu Kita Hasilkan Banyak Uang

 

Siswi Jenius Jakarta Temukan Obat Bakar Lemak 17 Kg Sehari

 

Diabetes Bukan Dari Makanan Manis! Temui Musuh Utama Diabetes

 

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: المَسْجِدِ الحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَسْجِدِ الأَقْصَى.

“Janganlah melakukan perjalanan jauh (dalam rangka ibadah) kecuali ke tiga masjid : Masjidil Haram, Masjid Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsha.” (HR. Bukhari 1189, Muslim 1397).

Syaikhul islam menjelaskan tentang hal ini:

وَأَمَّا إذَا كَانَ قَصْدُهُ بِالسَّفَرِ زِيَارَةَ قَبْرِ النَّبِيِّ دُونَ الصَّلَاةِ فِي مَسْجِدِهِ، فَهَذِهِ الْمَسْأَلَةُ فِيهَا خِلَافٌ، فَاَلَّذِي عَلَيْهِ الْأَئِمَّةُ وَأَكْثَرُ الْعُلَمَاءِ أَنَّ هَذَا غَيْرُ مَشْرُوعٍ وَلَا مَأْمُورٍ بِهِ، لِقَوْلِهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ,   لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إلَّا إلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِي هَذَا وَالْمَسْجِدِ الْأَقْصَى

“Adapun jika tujuan safar adalah ziarah kubur Nabi shallallahu alaihi wa sallam saja tanpa bermaksud shalat (beribadah) di masjid Nabawi (jadi tujuannya bukan ibadah ke masjid Nabawi), maka ini adalah khilaf dan pendapat terkuat adalah ini tidak disyariatkan dan tidak diperintahkan” (al-Fatawa al-Kubra li Ibni Taimiyah 5/148).

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid berkata:

Tempat dianjurkannya ziarah kubur adalah kalau kuburan mayat tersebut ada di dalam negerinya. Kalau sekiranya jauh dari negerinya dimana kalau dia keluar dinamakan safar (bepergian), tidak dianjurkan ziarah (kubur) bahkan diharamkan. (https://islamqa.info/id/163231. Juga no 10011).

4.   Melepas alas kaki sebelum masuk komplek pekuburan.

Ketika berziarah kubur disunnahkan untuk tidak memakai alas kaki, hendaknya sebelum masuk alas kaki dilepas terlebih dahulu. Sebagaimana dalam sebuah hadits:

يَا صَاحِبَ السِّبْتِيَّتَيْنِ، أَلْقِ سِبْتِيَّتَيْكَ، فَنَظَرَ الرَّجُلُ، فَلَمَّا رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَلَعَ نَعْلَيْهِ فَرَمَى بِهِمَا.

"Wahai orang yang memakai sendal, celaka engkau, lepaslah sandalmu! Lalu orang itu melihat dan tatkala dia mengetahui (bahwa yang menegurnya adalah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia melepas dan melempar sandalnya," (HR. Bukhari di dalam adabul Mufrad 775, Abu Dawud 3230, dihasankan Syaikh al-Albani di dalam al- Ahkam 139-140).

5.   Mengucapkan salam kepada penghuni kubur muslim.

Para peziarah disunnahkan untuk mengucap salam kepada penghuni kubur dari orang muslim.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَإِنَّا، إِنْ شَاءَ اللهُ لَلَاحِقُونَ، أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ.

"Keselamatan kepada penghuni kubur dari kaum mukminin dan muslimin, kami InsyaAllah akan menyusul kalian semua. Aku memohon keselamatan kepada Allah untuk kami dan dan kalian semua." (HR. Muslim 975).

6.   Tidak berjalan ditengah kubur atau menduduki di atasnya.

Tidak menginjak-injak ataupun duduk di atas kuburan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ، فَتَخْلُصَ إِلَى جِلْدِهِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ.

“Sungguh jika salah seorang dari kalian duduk di atas bara api sehingga membakar bajunya dan menembus kulitnya, itu lebih baik daripada duduk di atas kubur.” (HR. Muslim 971, Abu Dawud 3228, Ahmad 8108).

7.   Mendoakan penghuni kubur dari kalangan kaum muslimin.

Orang beriman dapat memberikan manfaat kepada saudara yang beriman lainnya, meskipun mereka sudah meninggal.

Diantaranya, seperti membayarkan hutang saudaranya, menyolatkan, memohonkan ampun, memberi salam ketika ziarah kekuburanya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah didatangi malaikat jibril dan diperintahkan agar mendoakan kepada penghuni kubur Baqi:

 

إِنَّ رَبَّكَ يَأْمُرُكَ أَنْ تَأْتِيَ أَهْلَ الْبَقِيعِ فَتَسْتَغْفِرَ لَهُمْ.

“Tuhanmu memerintahkanmu agar mendatangi ahli kubur baqi’ agar engkau memintakan ampunan buat mereka.” (HR. Muslim 974).

Meskipun demikian tidak boleh disama ratakan, yaitu dengan mengirim pahala atau menghadiahkan pahala kepada penghuni kubur, karena mendoakan dengan mengirimkan pahala itu berbeda.

Allah ta’ala berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى.

“Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm[53]: 39).

Yaitu sebagaimana tidak dibebankan kepadanya dosa orang lain, maka demikian pula dia tidak memperoleh pahala kecuali dari apa yang diupayakan oleh dirinya sendiri.

Berdasarkan ayat ini Imam Syafi’i dan para pengikutnya menyimpulkan bahwa bacaan Al-Qur'an yang dihadiahkan kepada mayat tidak dapat sampai karena bukan termasuk amal perbuatannya dan tidak pula dari hasil upayanya. (Tafsir Ibnu Katsir, QS, An-Najm [53]:39).

Sayangnya setelah mengalami pergeseran waktu, sebagian besar pengikutnya (Imam Syafi’i)  mulai menyelisihi pendapat beliau ini.

Hal ini dikecualikan dari amal shalih atau setiap bacaan dari anak penghuni kubur tersebut, karena Nabi menyebutkan bahwa anak adalah bagian dari hasil usaha orang tua.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَطْيَبِ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ, وَوَلَدُهُ مِنْ كَسْبِهِ.

“Sesungguhnya yang paling baik dari makanan seseorang adalah hasil jerih payahnya sendiri. Dan anak merupakan hasil jerih payah orang tua.” (HR. Abu Daud 3528, Baihaqi 15743, Ibnu Majah 2290, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam shahih Ibnu Majah 2137).

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ.

"Apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakan kepadanya." (HR. Muslim 1631, Tirmidzi 1376).

Hal ini juga disebutkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani di dalam kitabnya Ahkamul Jana’iz.

8.   Boleh menziarahi kuburan orang kafir namun tidak boleh mendoakan.

Allah melarang orang beriman menshalatkan dan mendoakan orang kafir, namun boleh menziarahi kuburnya.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ.

“Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (QS. At-Taubah [9]:84).

 

اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

(Sama saja) engkau (Nabi Muhammad) memohonkan ampunan bagi mereka atau tidak memohonkan ampunan bagi mereka. Walaupun engkau memohonkan ampunan bagi mereka tujuh puluh kali, Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka. Demikian itu karena mereka kufur kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah tidak akan memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. (QS. At-Taubah [9]:80).

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ.

“Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu adalah kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, itu adalah penghuni neraka Jahannam.” (QS. At-Taubah[9]: 113).

اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي.

"Aku meminta izin kepada Rabb-ku untuk memintakan ampunan bagi ibuku, namun aku tidak diizinkan melakukannya. (HR. Muslim 976, Ahmad 988, Ibnu Majah 1572).

Imam Nawawi rahimahullah berkata:

جَوَازُ زِيَارَةِ الْمُشْرِكِينَ فِي الْحَيَاةِ وَقُبُورِهِمْ بَعْدَ الْوَفَاةِ.

“Bolehnya menziarahi (mengunjungi) orang-orang musyrik semasa hidupnya dan  menziarahi kubur mereka setelah matinya.” (Syarah imam Nawawi, pada hadits imam Muslim ke 975).

9.   Tidak membacakan Al-Qur’an dikuburan.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِى تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

“Janganalah jadikan rumah kalian seperti kuburan karena setan itu lari dari rumah yang didalamnya dibacakan surat Al Baqarah.” (HR. Muslim 1860).

Syaikh al-Albani berkata, “ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan isyarat bahwa kuburan itu bukan tempat untuk membaca Al-Qur’an secara syar’i, oleh karena itu beliau menganjurkan agar membaca AL-Qur’an di dalam rumah-rumah.” (Ahkamul Jana’ij, Bab Ziarah Kubur, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani).

10.                     Tidak mengucapkan perkataan yang dapat menjadikan Allah murka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا، وَلَا تَقُولُوا هُجْرًا.

“Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka (sekarang) berziarahlah jangan berkata yang buruk.” (HR. Ahmad 23052, Nasa’i 2033, Baihaqi di dalam al-Adab 280, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ 4584).

Imam An Nawawi rahimahullah berkata,  bahwa al hujr adalah ucapan yang bathil. (Al-Majmu’ 310/5).

Syaikh Al Albani rahimahullah mengatakan: Disyariatkan melakukan ziarah kubur dalam rangka mengambil nasehat dan petuah serta mengingatkan pada kampung akhirat. Tentunya dengan syarat ketika melakukan ziarah kubur tidak mengucapkan kata-kata yang membuat Allah murka dan marah, seperti berdoa kepada penghuni kubur, beristighatsah (minta tolong) kepadanya selain Allah, men-tazkiyah-nya, menjamin penghuninya pasti masuk ke dalam surga, dan lain sebagainya. (Ahkamul Jana’ij, Bab Ziarah Kubur, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani).

Demikian pula bercanda disaat ziarah, tentu hal ini menyelisihi hikmah ziarah kubur itu sendiri yaitu untuk mengingatkan akhirat atau mati, dan untuk melembutkan hati.

Demikianlah semoga bermanfaat. Aamiin.



-----000-----

 

 

Sragen 02-09-2024

Junaedi Abdullah.

Minggu, 01 September 2024

HAK ALLAH TA’ALA ATAS PARA HAMBANYA. HUD AQIDATAHKA 4.

 


BAB 4.

BERIBADAH KEPADA ALLAH DENGAN RASA HAUF (TAKUT) DAN RAJA’ (HARAP).

 

س ٤ - هَلْ نَعْبُدُ اللَّهَ خَوْفًا وَطَمَعًا ؟

Soal 4: Apakah kita beribadah kepada Allah disertai dengan rasa takut dan harap..?

ج ٤ - نَعَمْ نَعْبُدُهُ كَذَلِكَ .

Jawab: Benar, kita beribadah kepada Allah ta’ala demikian itu.

قَالَ تَعَالَى يَصِفُ الْمُؤْمِنِينَ

Allah ta’ala berfirman mensifati orang beriman ketika mereka berdoa:

{يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ خَوْفًا ، وطَمَعًا} سورة السجدة : ١٦

...Mereka berdoa kepada Rabb mereka dengan rasa takut dan harap..." (QS. As-Sajdah[32]:16)

وَقَالَ :

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

( أَسْأَلُ اللهَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِهِ مِنَ النارِ . ((حَدِيثُ صَحِيحٌ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ(

“Aku meminta kepada Alloh surga dan aku meminta perlindungan kepada-Nya dari Neraka." (Hadits shahih riwayat Abu Dawud 1847, Ahmad 20699, Ibnu Majah 902, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahih Abu Dawud 757).

 

 

-----000-----

 

Penjelasan:

1.   Beribadah kepada Allah hendaknya disertai dengan hauf (takut) dan Raja’(Harap).

Allah ta’ala berfirman:

تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ.

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedangkan mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. As-Sajdah[32]:16).

Firman Allah, “Sedangkan mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap,” takut kepada siksaan-Nya dan berharap kepada pahala-Nya yang berlimpah.(Tafsir Ibnu Katsir, QS. As-Sajdah[32]:16).

 

2.   Rasa hauf (takut) dapat dibangun dengan perasaan rendah dan hina di hadapan Allah ta’ala.

Hal ini dengan mengingat betapa besarnya nikmat Allah, betapa kurangnya rasa besyukur, serta seringnya bermaksiat kepada-Nya, demikian ini dapat menjadikan seseorang merasa rendah dan takut akan siksa-Nya.

Allah ta’ala berfirman tentang nabi Adam ‘Alaihi Salam dengan Hawa:

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf[7]:23).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.

“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat.” (HR Ibnu Majah 4251. Di hasankan syaikh al-Albani).

 

3.   Rasa raja’ (berharap) dibangun dengan rasa cinta yang dalam.

Dengan demikian akan menumbuhkan rasa harap kepada Allah ta’ala. (lihat Syarah Tsalatsatil ‘Ushul Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin).

Berharap amalannya diterima, berharap pahala dari Allah ta’ala, berharap dengan surga Allah ta’ala.

Allah ta’ala memerintahkan agar hambanya hauf (takut) sehingga memohon ampunan-Nya, dan raja’ (harap) dengan surga-Nya, hal ini tertuang dalam firman Allah ta’ala:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ.

“Dan bersegeralah (berlomba-lombalah) kamu untuk (meraih) pengampunan dari Rabbmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Al-‘Imran[3]:133).

 سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ

“Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasulnya.” (QS Al Hadid [57]:21).

 

4.   Ibadah bukanlah sekedar gerakan jasad tanpa ruh.

Ibadah hendaknya juga harus menghadirkan hati. Baik itu mengucap sahadat, shalat, puasa zakat dan lain-lain, sebagaimana seseorang yang sedang melaksanakan shalat, ia tidak hanya bergerak untuk melaksanakan setiap rukunnya saja, tetapi juga harus menghadirkan hati sebagai ruh shalat tersebut.

 

5.   Menjahui prilaku dan sifat ibadah orang munafiq.

Bisa jadi mereka menampakkan kekhusyukan badannya namun hatinya kosong, terpaksa dan membenci.

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas.” (QS. An-Nisa [4]:124).

 

6.   Tidak boleh ibadah kepada Allah hanya dengan raja’ (berharap) saja.

Bila orang beribadah kepada Allah dengan raja’(berharap) saja, baik melakukan dosa besar sekalipun, maka tak ubahnya dengan pemikiran murji’ah.

Sehingga orang yang shalih dan taat dianggap sama dengan para pelaku kemaksiatan. Mereka senantiasa memberikan harapan atas pahala dan ampunan kepada para pelaku maksiat.

Murji’ah mengatakan keimanan itu hanya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat disertai pembenaran dalam hati, tidak bertambah dan tidak berkurang. Mereka tidak memasukkan amal perbuatan sebagai bagian dari keimanan.

Allah ta’ala befirman:

لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ.

“Supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (QS.AL-Fath[48]:4).

وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabbnyalah mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal [8]:2).

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا .

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya, dan yang paling baik di antara kamu sekalian adalah yang paling baik akhlaqnya terhadap isteri-isterinya.” (HR. Ahmad 7402, Tirmidzi 1162, Abu Dawud 4682 dihasan oleh syaikh al-Albani di dalam Ash-Shahihah 284).

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت.

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (HR. Bukhari 6018, Muslim 47).

Adapun keyakinan Ahlu Sunnah sebagaimana yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya, beliau rahimahullah berkata:

"وَمِنْ أُصُولِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ أَنَّ الدِّينَ وَالْإِيمَانَ قَوْلٌ وَعَمَلٌ ، قَوْلُ الْقَلْبِ وَاللِّسَانِ ، وَعَمَلُ الْقَلْبِ وَاللِّسَانِ وَالْجَوَارِحِ ، وَأَنَّ الْإِيمَانَ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ ، وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ ."

"Di antara pokok akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, bahwa agama dan iman terdiri dari: perkataan dan amalan, perkataan hati dan lisan, amalan hati, lisan dan anggota badan. Iman itu bisa bertambah dengan melakukan ketaatan dan bisa berkurang karena maksiat.”( Al ‘Aqidah Al Wasithiyyah).

 

7.   Demikian pula tidak boleh beribadah kepada Allah dengan hauf (takut) saja.

Hal ini akan menjadikan seseorang tidak bisa menerima keadaaan dirinya, menjadikan putusasa, begitu pula mereka akan mengkafirkan orang-orang yang melakukan dosa besar, inilah yang dilakukan orang-orang khuarij.

Orang khuarij memandang para pelaku dosa besar telah menjadikan kafir dan kekal di dalam neraka.

Adapun ahlu sunnah memandang orang yang melakukan dosa besar nakisul iman (imannya kurang) atau fasik dengan kefasikannya, serta iman dengan keimanannya tidak sampai mengkafirkannya, kecuali pelakunya menghalalkan dosa tersebut.

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa[4]:48).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ.

“Orang yang paling bahagia dengan syafaatku di hari kiamat adalah orang yang mengucapkan laa ilaha illallah’ secara ikhlas dari hatinya atau dirinya.” (HR. Bukhari 99)

يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنَ النَّارِ بَعْدَ مَا مَسَّهُمْ مِنْهَا سَفْعٌ ، فَيَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ ، فَيُسَمِّيهِمْ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَهَنَّمِيِّينَ.

Akan keluar sekelompok manusia dari neraka setelah mereka dibakar dengan panasnya neraka. Lalu mereka masuk surga. Penduduk surga menyebut mereka dengan Jahannamiyun.” (HR. Bukhari 6559).

Imam Ahmad berkata:

وَمَنْ لَقِيَهُ مُصِرًّا غَيْرَ تَائِبٍ مِنْ الذُّنُوْبِ الَّتِي قَدْ اسْتَوْجَبَ بِهَا الْعُقُوْبَةَ فَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ، إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ، وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ.

“Barangsiapa yang menemui-Nya dengan tetap melakukan dosa dan tanpa bertaubat dari dosa-dosa yang menyebabkannya berhak mendapatkan hukuman tersebut, maka urusannya diserahkan kepada Allah Ta'ala. Jika Dia menghendaki, Dia menyiksanya dan jika Dia menghendaki Dia mengampuninya.” (Ushulu Sunnah 39, Imam Ahmad bin Hanbal).

Syaikh Dr. ‘Abdus-Salam bin Barjas Alu ‘Abdul Karim berkata:

ومن جملَةِ اعْتِقَادِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ: أَنَّ جَمِيعَ الذُّنُوب , سِوَى الإِشْرَاكِ بِاللَّهِ تَعَالَى - لَا تُخْرِجُ الْمُسْلِمَ مِنْ دِينِ الْإِسْلَامِ، إِلَّا إِنِ اسْتَحَلُّهَا.

“Diantara aqidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah: Bahwasanya semua dosa selain menyekutukan kepada Allah ta’ala tidak mengeluarkan seorang muslim dari Agamnanya kecuali dia menghalalkannya. (Al-Mu’taqadu As-Shahihu Al-Wajibu ‘ala kuli muslimin ‘itiqaduhu).

 

8.   Kesalahan pemahaman orang-orang sufi.

Orang sufi berkata, “Kami tidak beribadah kepada Allah takut dari neraka-Nya dan tidak mengharap dari surga-Nya. Bahkan kami beribadah kerena cinta kepadaNya.”

Demikian pula seorang Sufi yang masyhur Rabi’ah al-Adawiyah, pernah mengutarakan, aku tidaklah menyembah-Nya karena takut neraka dan tidak pula karena berharap surga-Nya sehingga aku seperti orang yang buruk. Akan tetapi aku menyembah-Nya karena kecintaan dan kerinduanku pada-Nya (Ihya Ulumuddin: 4/310).

Atau menganggap, “Orang yang beribadah dengan mengharap surga merupakan ibadahnya para pedagang.”

Menurut mereka, cinta yang murni adalah ketika memberi sesuatu pada seseorang tanpa mengharap balasan. Sebab kebaikan yang dibagikan itu adalah sifat dari kebahagiaan itu sendiri. 

Demikian pula cinta yang mestinya diberikan pada Allah ta’ala. Berbuat baik tanpa harus mengharapkan surga-Nya.

Pendapat orang-orang sufi ini pendapat yang subhat dan menyesatkan, karena panutan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

( أَسْأَلُ اللهَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِهِ مِنَ النارِ . ((حَدِيثُ صَحِيحٌ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ(

“Aku meminta kepada Alloh surga dan aku meminta perlindungan kepada-Nya dari Neraka." (Hadits shahih riwayat Abu Dawud 1847, Ahmad 20699, Ibnu Majah 902, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahih Abu Dawud 757).

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ.

“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu surga, dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka.” (HR. Ahmad 15898, Shahih Ibnu Hibban 868, Dishahihkan Syaikh al-Albani di salam shahih Abu Dawud 757, As-Shahihah 1542).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimaullah mengatakan, “Sebagian ulama salaf mengatakan, “Siapa yang beribadah kepada Allah hanya dengan kecintaan, maka dia Zindiq. Siapa yang beribadah hanya dengan rasa takut maka dia Haruri -maksudnya kaum Khowarij- dan siapa yang beribadah kepada-Nya dengan hanya penuh pengharapan saja maka dia murji’ah. Siapa yang beribadah kepadaNya dengan cinta, rasa takut dan penuh harap, maka dia adalah orang mukmin yang mengesakan.” (Majmu Fatawa 15/21).

9.   Tidak menyamakan Allah dengan makhluknya.

Orang yang beribadah mengharapkan balasan surga dan agar dijauhkan dari neraka bukan berarti tidak ikhlas, justru mereka mentaati Allah dan Rasul-Nya.

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ.

Dan Rabb kalian berkata: ‘Berdoalah kalian kepadaKu, pasti Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari memohon kepadaKu, maka mereka akan masuk ke neraka jahannam dalam kondisi hina.’(QS. Ghafir[40]: 60)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَيْسَ شَىْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ.

Tidak ada sesuatu yang paling mulia di sisi Allah dibandingkan doa.” (HR. Tirmidzi 3370, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahihu-Al-Jami’ 5392).

 

10.                     Orang yang beriman sangat mencintai Allah dan mencintai apa yang dicintai Allah.

Hendaknya mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apa yang dibenci Allah ta’ala.

Allah ta’ala mengabarkan bagaimana kecintaan orang beriman.

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ.

“Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (QS. AL-Baqarah [2]:165).

Demikianlah penjelasan ini semoga bermanfaat. Aamiin.

 

 

-----000-----

 

Sragen 02-09-2024

Junaedi Abdullah.

BAB 7 SOAL 1. TAWASSUL DAN MEMINTA SYAFAAT.

  BAB 7 SOAL 1. TAWASSUL DAN MEMINTA SYAFAAT.     س ١ - بِمَاذَا نَتَوَسَّلُ إِلَى اللَّهِ؟ Soal 1 : Dengan apa kita bertawassul...