Senin, 12 Agustus 2024

SYARAH HUD AQIDATAKA BAB 1 TUJUAN MANUSIA HIDUP.


                      HAK ALLAH TA’ALA ATAS PARA HAMBANYA.

BAB 1.

TUJUAN PENCIPTAAN MANUSIA.

 

 

Soal:

س ۱ - لِمَاذَا خَلَقْنَا الله ؟

1.   Untuk apa Allah menciptakan kita? 

ج 1 - خَلَقْنَا لِنَعْبُدَهُ وَلَا تُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا لِعَقَ بِاللهِ

Jawab: Allah menciptakan kita dengan tujuan agar kita beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan sesuatu apapun dengan-Nya.

وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى فِي سُوْرَةِ الدَّارِيَاتِ :٥٦.

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala di dalam surat Adz-Dzariyat:56.

}وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ}

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (QS. Adz-Dzariyat[51]:56).

وَقَوْلُهُ

Dan sabda Nabi:

(حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا( مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

"Hak Allah atas para hamba-Nya adalah agar mereka beribadah kepada-Nya saja dan tidak menyekutukan dengan sesuatu apapun." (Muttafaqun 'Alaihi, Bukhari 2856, Muslim 30).

 

 

-----000-----

 penjelasan:

1. Allah yang maha mengetahui segala sesuatu, memiliki hikmah, termasuk dalam penciptaan manusia.

 Allah ta’ala berfirman:

 هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ.

“Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Hasyr [59]:24).

Ibnu Katsir berkata:

Adapun firman Allah ta’ala:

{وَهُوَ الْعَزِيزُ}

“Dan Dialah Yang Mahaperkasa.” (Al-Hasyr: 24)

Yakni Zat-Nya tidak dapat dicapai (tidak dapat dikalahkan).

{الحَكِيمُ}

lagi Mahabijaksana. (Al-Hasyr: 24)

(Tafsir Ibnu Katsir, QS.Al-Hasyr [59]:24).

Adapun al hakim memiliki beberapa makna:

 Pertama: Maha bijaksana. Sebagaimana ayat di atas.

وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ.

“Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Hasyr [59]:24).

Kedua: Yang memiliki hikmah.

Allah Subhanahu wata’la berfirman:

حِكْمَةٌ بَالِغَةٌ فَمَا تُغْنِ النُّذُرُ.

“Itulah suatu Hikmah yang sempurna, Maka peringatan-peringatan itu tidak berguna (bagi mereka). (QS. Al-Qamar[54]: 5).


Ketiga: Yang menghukumi diantara hambanya.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ

“Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya?” (QS. At-Tin[95]: 8).

 Keempat: Yang memutuskan perkara diantara hambanya.

فَاصْبِرُوا حَتَّى يَحْكُمَ اللَّهُ بَيْنَنَا وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِين

“Maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah hakim yang sebaik-baiknya.” (QS. Al-A’raf[7]: 87).

Kelima: Yang mengukuhkan segala sesuatu.

Allah Subhanahu wata’la berfirman:

أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا .

“Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa[4]: 82).

Allah ta’ala maha mengetahui segala sesuatu. Allah mengetahui perkara yang sedang terjadi, yang akan terjadi, yang belum terjadi seandainya hal itu terjadi.

Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, secara global maupun secara rinci, baik yang kecil maupun yang besar, yang nampak maupun yang tersembunyi.

Allah mengetahui keadaan sebelum manusia diciptakan, ketika sedang diciptakan diperut ibunya, ketika telah lahir di dunia, ketika keadaan dan takbiat mereka, sampai setelah mereka diwafatkan dan dimasukkan ke dalam surga atau neraka, Allah mengetahui semua itu.

Oleh karena itu Allah memberitahukan kepada malaikat tentang pengetahuan ini apa yang tidak diketahui mereka.

Allah ta’ala berfirman:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.'" Mereka berkata, "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau!" Tuhan berfirman, "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.”(QS. AL-Baqarah [2]:30).

Hingga firman Allah ta’ala:

أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ.

“Bukankah telah Aku katakan kepadamu, bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?” (QS. Al-Baqarah[2]:33).

Allah ta’ala juga berfirman:

لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا.

“Agar kalian mengetahui sesungguhnya Allah maha kuasa terhadap segala sesuatu, dan bahwasanya ilmu Allah meliputi segala sesuatu.” (QS. At-Thalaq [65]: 12).

Orang-orang kafir ketika masuk kedalam neraka menjerit-jerit meminta agar dikembalikan lagi kedunia, Allah maha mengetahui, seandainya mereka dikembalikan lagi ke dunia mereka akan mengulangi kekafiran mereka sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ.

“Seandainya mereka dikembalikan ke dunia, tentu mereka akan mengulang kembali apa yang telah dilarang mengerjakannya. Dan sungguh mereka itu pendusta.” (QS. Al-An’am[6]: 28).

Ini merupakan hikmah diantara ilmu Allah ta’ala.

2.  Allah menciptakan manusia dalam keadaan fitrah(bersih, islam).

Tidak ada Tuhan selain Dia, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam tafsir firman-Nya:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ.

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhan kalian?” Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.”(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan, "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini. " (Al-A'raf[7]: 172).

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah.” (QS. Ar-Ruum [30]: 30).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

كُلُّ مَوْلُوْدٍ  يُوْلَدُ عَلَى اْلفِطْرَةِ فَاَبَوَاهُ يُهَوّدَانِهِ اَوْ يُنَصّرَانِهِ اَوْ يُمَجّسَانِهِ.

“Setiap anak yang lahir, dia terlahir di atas fithrah, maka tergantung kedua orang tuanya yang menjadikan dia orang Yahudi, Nashrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari 4775, Muslim 2658).

Ibnu Katsir mengaitkan dua ayat di atas dengan hadits ini di dalam tafsirnya, agar kita mengetahui pada asalnya manusia tercipta dalam keadaan fitrah lurus, yaitu Islam.

 3.   Allah tidak membiarkan begitu saja manusia.

Allah ta’ala tidaklah menjadikan manusia sia-sia tanpa ada tujuan, terlahir, makan, minum, menikah, beranak pinak sesudah itu mati tanpa ada balasan sama sekali tidak, semua akan dibalas sesuai dengan perbuatannya.

Allah ta’ala berfirman:

أَيَحْسَبُ ٱلْإِنسَٰنُ أَن يُتْرَكَ سُدًى

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?.” (QS. Al-Qiyamah [75]:36).

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ.

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mu’minun[23]: 115).

Yakni apakah kalian menduga bahwa kalian diciptakan dengan main-main, tanpa tujuan, tanpa berkehendak, dan tanpa hikmah dari Kami? (Tafsir ibnu Katsir QS. Al-Mukminun [23]:115).

4.   Tujuan manusia hidup.

Allah mengingatkan manusia akan tujuan hidup mereka, yaitu untuk beribadah kepada Allah taala.

Allah taala berfirman:

 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون.

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (QS. Adz-Dzariyat[51]:56).

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adz-Dzariyat: 56) Yakni agar mereka mengakui kehambaan mereka kepada-Ku, baik dengan sukarela maupun terpaksa. (Tafsir Ibnu Katsir QS. Adz-Dzariyat [51]:56).

 Allah ta’ala juga berfirman kelanjutan ayat tersebut:

مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ. إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ.

“Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (Adz-Dzariyat [51]:57-58).

5.   Untuk menguji manusia mana yang lebih baik amalnya.

Allah ta’ala berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.” ( QS. Al-Mulk [67]:2).

As-Sa’di berkata, “Yang menjadikan mati dan hidup,” Allah menakdirkan hidup dan mati untuk hamba-hambaNya, “supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” Yakni, siapa yang amalannya paling ikhlas dan paling benar. Allah menciptakan para hambaNya dan dimunculkan di alam dunia ini. Mereka diberitahu akan dipindahkan dari alam ini. Allah memberlakukan berbagai perintah dan larangan untuk mereka dan diuji dengan berbagai keinginan hawa nafsu yang memalingkan mereka dari perintahNya. Barangsiapa yang tunduk pada perintah Allah, dan melakukan amalan baik, maka Allah akan memberinya pahala yang baik di dunia dan di akhirat. Namun siapa pun yang condong pada hawa nafsunya dan tidak menghiraukan perintah Allah, maka akan mendapatkan balasan buruk.(Tafsir As-Sa’di, QS Al-Mulk[67]:2).

Demikianlah tujuan penciptaan manusia, yang merupakan tujuan sangat mulia yaitu agar manusia beribadah kepada Allah ta’ala.

Demikianlah semoga bermanfa’at.




----000----

 

Sragen 13-08-2024.

Junaedi Abdullah.

 

 

 

 

Kamis, 08 Agustus 2024

BERSYUKUR ATAS NIKMAT KEMERDEKAAN.

 


BAGAIMANA MENSYUKURI NIKMAT KEMERDEKAAN.

 

Kemerdekaan sebuah nikmat yang besar, karunia dan rahmat Allah ta’ala, kita tidak bisa membayangkan seandainya negara ini masih dicengkram oleh penjajah, keadaannya tentu tidak jauh beda dengan apa yang terjadi di negara-negara terjajah saat ini, dalam keadaan kacau balau, banjir darah dimana-mana, setiap saat nyawa melayang duka cita selalu dirasakan setiap hari.

Oleh karena itu para pejuang kita mengakui semua itu dan menuangkannya di dalam undang-undang 45, “Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur.” Inilah cuplikan undang-undang dasar 45 tersebut.

Kita pun merasakan betapa besarnya nikmat yang Allah berikan, baik nikmat kemerdekaan, kedamaian, kesehatan dan lain sebagainya.

Allah ta’ala berfirman:

وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا ۗاِنَّ اللّٰهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. An-Nahl [16]:8).

 

Bagaimana kita mensyukuri nikmat kemerdekaan tersebut..?

Setidak-tidaknya ada 5 cara dengan poin-poinnya untuk mensyukuri kemerdekaan ini, yaitu:

1.   Bersyukur dengan cara yang benar.

Bagaimana kita bersyukur dengan benar, yaitu dengan memenuhi tiga unsur agar benar syukur kita kepada Allah ta’ala:

1)  Mengakui dalam hati atas nikmat Allah tersebut.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ..

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka itu datangnya dari Allah.” (Qs. An Nahl [16]: 53).

Dari sini Qarun telah keliru, tidak menyandari bahwa nikmat tersebut datangnya dari Allah ta’ala.

Allah ta’ala berfirman:

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي.

 Qarun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku." (QS. Al-Qashas [28]:78).

2)  Lisannya menyebut-nyebut nikmat Allah dan memuji Allah ta’ala.

Hamba yang bersyukur kepada Allah ta’ala ialah hamba yang bersyukur dengan lisannya. Menyebut-nyebut nikmat Allah, senantiasa memuji Allah Ta’ala atas nikmat tersebut.

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ.

Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”. (Qs. Adh Dhuha[93]: 11). 

3)   Menggunakan nikmat-nikmat Allah Ta’ala untuk beramal shalih.

Nikmat Allah ini hendaknya dipergunakan untuk ketaatan kepada Allah ta’ala, inilah bentuk syukur dengan badan, apabila nikmat digunakan untuk bermaksiat, niscaya Allah akan murka dan bisa saja Allah ambil nikmat tersebut kembali.

Allah ta’ala berfirman:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ .

"Sesungguh­nya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian; dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]:7).


{لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ}

“Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian.” (QS. Ibrahim [14]:7).

Sesungguhnya jika kalian mensyukuri nikmat-Ku yang telah Kuberikan kepada kalian, pasti Aku akan menambahkannya bagi kalian.

{وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ}

“Dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku).” (QS. Ibrahim [14]:7).

Maksudnya, jika kalian mengingkari nikmat-nikmat itu dan kalian menyembunyikannya serta tidak mensyukurinya.

{إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ}

maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (QS. Ibrahim [14]:7).

Yaitu dengan mencabut nikmat-nikmat itu dari mereka, dan Allah menyiksa mereka karena mengingkarinya. (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Ibrahim [14]:7).

Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah, “Syukur (yang sebenarnya) adalah dengan hati, lisan dan anggota badan. (Minhajul Qasidin, pasal “ Batasan Dan Syukur Serta Hakekatnya hal terjemahan 515).

Abu Hazim berkata:

شُكْرَ الْجَوَارِحِ كُلِّهَا وَأَنْ تُكَفَّ عَنِ الْمَعَاصِي، وَتُسْتَعْمَلَ فِي الطَّاعَاتِ، ثُمَّ قَالَ: وَأَمَّا مَنْ شَكَرَ بِلِسَانِهِ، وَلَمْ يَشْكُرْ بِجَمِيعِ أَعْضَائِهِ، فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ رَجُلٍ لَهُ كِسَاءٌ، فَأَخَذَ بِطَرَفِهِ، فَلَمْ يَلْبَسْهُ، فَلَمْ يَنْفَعْهُ ذَلِكَ مِنَ الْحَرِّ وَالْبَرْدِ وَالثَّلْجِ وَالْمَطَرِ.

“Syukur dengan anggota badan secara keseluruhan, menahan dari maksiat, dan menggunakan di dalam ketaatan.

Kemudian beliau juga berkata, “Siapa saja yang bersyukur dengan lisannya, namun tidak bersyukur dengan anggota badan lainnya, itu seperti seseorang yang mengenakan pakaian. Ia ambil ujung pakaian saja, tidak ia kenakan seluruhnya. Maka pakaian tersebut tidaklah manfaat untuknya untuk melindungi dirinya dari dingin, panas, salju dan hujan.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:84, Ibnu Rajab al-Hambali)

Allah akan membalas setiap kebaikan hamba tersebut.

وَٱللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ.

“Allah itu Syakur lagi Haliim” (QS. At-Taghabun[64]: 17).

Ibnu Katsir menafsirkan Syakur dalam ayat ini, “Maksudnya adalah memberi membalas kebaikan yang sedikit dengan ganjaran yang banyak” (Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, 8/141)

Betapa banyaknya orang-orang yang mengatasnamakan syukur tetapi cara mereka keliru, yaitu dengan beraneka macam maksiat yang dipertontonkan, mulai dengan perlombaan yang tidak pantas dilihat sampai pada hal-hal yang berbau porno, ajang yang tidak sopan sampai jauhnya dari adab-adab dalam agama kita, yang menyedihkan semua itu disaksikan dan diajarkan oleh anak-anak kita.

Ada pula untuk memeriahkan banyak yang mendatangkan berbagai macam alat music, para penyanyi, kemudian berjoget dan bahkan sampai bermabuk-mabukan, inilah cara syukur yang keliru, demikian ini justru akan mendatangkan adzab bagi sebuah masyarakat yaitu dengan menggunakan nikmat tersebut untuk bermaksiat kepada Allah ta’ala.

2.   Mencintai negri ini dengan menjaganya.

Menjaga nergri ini dengan beberapa hal:

1)   Menjaga kelestarian dan kelangsungan hutan dan satwanya.

Yaitu tidak merusak dengan menebang tanpa berfirkir untuk mengembalikan, apalagi hal itu untuk kepentingan pribadi maupun golongannya saja.

Allah ta’ala berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ.

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum[30]:41).

Firman Allah ta’ala:

{ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ}

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia.” (Ar-Rum: 41)

Yaitu dengan berkurangnya hasil tanam-tanaman dan buah-buahan karena banyak perbuatan maksiat yang dikerjakan oleh para penghuninya. (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Ar-Rum[30]:41).

Merusak saja dilarang apalagi sampai menjualnya.

2)  Mengelola kekayaan alamnya dengan cara yang benar.

Negri kita ini negri yang kaya, baik dari tanamanya, tambangnya, lautannya hendaknya semua bentuk kekayaan di negri ini  dikelola dengan baik dan untuk kesejahteraan rakyatnya.

3)  Memperbaiki sumber manusianya.

Hendaknya memberi fasilitas pendidikan yang cukup,  baik tentang agama dan dunianya sehingga mampu untuk mengelola dan bisa amanah di dalam pengelolaan kekayaan negara.

Seandainya mereka hanya pandai dalam urusan dunia, yang terjadi hanyalah berlomba-lomba untuk korupsi dan memperkaya diri.

Menjaga generasinya agar tidak rusak dan dirusak oleh musuh, baik dari dalam maupun dari luar, yang ingin menghancurkan generasi ini dengan berbagai kerusakan yang terjadi dewasa ini, seperti rokok, miras, judi online, sabu-sabu, narkotika, heroin, dan berbagai macam kerusakan lainnya.

3.   Menjaga persatuan sesama anak bangsa.

Sebagaimana pepatah mengatakan, “ Bersatu kita teguh dan bercerai kita runtuh.”

Di dalam ajaran islam juga kita diperintahkan agar kita menjaga persatuan, Allah ta’ala berfirman:

 وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا.

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS. Al-Imran [3]:103).

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat[49]: 13).

Ath Thabari rahimahullah berkata: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian -wahai manusia- adalah yang paling tinggi takwanya pada Allah, yaitu dengan menunaikan berbagai kewajiban dan menjauhi maksiat. Bukanlah yang paling mulia dilihat dari rumahnya yang megah atau berasal dari keturunan yang mulia.” (Tafsir Ath Thabari, 21:386).

ﻭَﺍﺫْﻛُﺮُﻭﺍ ﻧِﻌْﻤَﺔَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺇِﺫْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺃَﻋْﺪَﺍﺀً ﻓَﺄَﻟَّﻒَ ﺑَﻴْﻦَ ﻗُﻠُﻮﺑِﻜُﻢْ ﻓَﺄَﺻْﺒَﺤْﺘُﻢْ ﺑِﻨِﻌْﻤَﺘِﻪِ ﺇِﺧْﻮَﺍﻧًﺎ.

“Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara.” (QS. Ali Imran[3]: 103).

Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhu,ia berkata:

ﻛُﻨَّﺎ ﻣَﻊَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰِّ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓِﻰ ﻏَﺰَﺍﺓٍ ﻓَﻜَﺴَﻊَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﻬَﺎﺟِﺮِﻳﻦَ ﺭَﺟُﻼً ﻣِﻦَ ﺍﻷَﻧْﺼَﺎﺭِ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻷَﻧْﺼَﺎﺭِﻯُّ ﻳَﺎ ﻟَﻸَﻧْﺼَﺎﺭِ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﻤُﻬَﺎﺟِﺮِﻯُّ ﻳَﺎ ﻟَﻠْﻤُﻬَﺎﺟِﺮِﻳﻦَ . ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ,   ﻣَﺎ ﺑَﺎﻝُ ﺩَﻋْﻮَﻯ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ ‏, ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻛَﺴَﻊَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﻬَﺎﺟِﺮِﻳﻦَ ﺭَﺟُﻼً ﻣِﻦَ ﺍﻷَﻧْﺼَﺎﺭِ . ﻓَﻘَﺎﻝَ ‏ﺩَﻋُﻮﻫَﺎ ﻓَﺈِﻧَّﻬَﺎ ﻣُﻨْﺘِﻨَﺔٌ‏.

”Dahulu kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada satu peperangan, Lalu ada seorang laki-laki dari kaum Muhajirin yang memukul pantat seorang lelaki dari kaum Anshar. Maka orang Anshar tadi pun berteriak: ‘Wahai orang Anshar (tolong aku).’ Orang Muhajirin tersebut pun berteriak: ‘Wahai orang muhajirin (tolong aku).’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Seruan Jahiliyyah macam apa ini?!.’ Mereka berkata: ‘Wahai Rasulullah, seorang muhajirin telah memukul pantat seorang dari kaum Anshar.’ Beliau bersabda: ‘Tinggalkan hal itu, karena hal itu adalah buruk. ” (HR. Bukhari 4905, Muslim 2584)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ، وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ، وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ، وَلَا أَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ، وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ، إِلَّا بِالتَّقْوَى.

“Wahai sekalian manusia! Tuhan kalian satu, dan ayah kalian satu (Nabi Adam). Ingatlah. Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang ajam (non-Arab) dan bagi orang ajam atas orang Arab, tidak ada kelebihan bagi orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, bagi orang berkulit hitam atas orang berkulit merah kecuali dengan ketakwaan.” (HR. Ahmad 23489, Baihaqi 4774, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam As-Shahihah 2700).

4.   Saling toleransi.

Agama islam adalah agama tasamuh, (toleransi), tidak memaksakan kehendaknya.

Demikian pula tak perlu sebagai seorang muslim merendahkan agamanya dengan turut serta ibadah-ibadah agama lain.

Allah ta’ala berfirman:

لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

“Tidak ada paksaan dalam beragama.” (QS Al-Baqarah[2]: 256).

Allah ta’ala berfirman:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ.

"Bagiku agamaku dan bagimu agamamu.” (QS. Al-Kafirun [109]:6).

قُلْ أَتُحَاجُّونَنَا فِي اللَّهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ وَلَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ.

Katakanlah, "Apakah kalian memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kalian; bagi kami amalan kami, dan bagi kalian amalan kalian, dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati.” (QS. Al-Baqarah [2]:139).

Rasullulah shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda:

فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ، وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ، فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ.

“Barangsiapa ingin dijauhkan dari neraka dan masuk ke dalam surga, hendaknya ketika ia mati dalam keadaan beriman kepada Allah, dan hendaknya ia berperilaku kepada orang lain sebagaimana ia senang diperlakukan oleh orang lain.” (HR. Muslim 1844).

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

Iman itu ada 70 atau 60 sekian cabang. Yang paling tinggi adalah perkataan ‘laa ilaha illallah’ (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan, dan sifat malu merupakan bagian dari iman.” (HR. Bukhari 9 dan Muslim 35).

Bagaimana islam menjaga kedamaian dan keamanan meskipun di jalan-jalan umum siapapun yang melaluinya.

5.   Mencegah berbagai macam kemungkaran yang ada.

Hendaknya mencegah berbagai makar dan kemungkaran, mencegah kemungkaran hendaknya dilakukan bersama-sama bagi yang memiliki wenang dan kemampuan, hal ini untuk menjaga kedaulatan negri ini, dan keberlangsungannya, baik kemungkaran itu dari dalam maupun dari luar.

Allah ta’ala berfirman:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ.

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Imran3]:104).

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ.

“Barangsiapa yang melihat kemungkaran maka hendaklah dia mencegah dengan tangannya, sekiranya dia tidak mampu, maka dengan lisannya, dan sekiranya dia tidak mampu (juga), maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemah keimanan.” (HR Muslim 49).

Zainab bnti Jahsyi bertanya kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ: أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟ قَالَ: نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الخَبَثُ.

“Apakah kami akan binasa sementara orang-orang shalih masih ada di antara kami?” Beliau menjawab, “Benar, apabila kemaksiatan telah merajalela.” (HR Bukhari 3346, Muslim 2880).

Berkaitan dengan berbagai ancaman pada negri ini Allah ta’ala perintahkan agar setiap saat kita untuk siap siaga.

Allah ta’ala berfirman:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ.

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.” (QS. Al-ANfal [8]:60).

Demikianlah bagaimana kita seharusnya mensyukuri nikmat kemerdekaan dengan benar, jangan sampai menjadi ajang maksiat namun bagaimana seharusnya kita mensyukuri nikmat kemerdekaan  dengan membangun negri ini secara lahir dan batin, semoga Allah menjadikan negri kita negri yang adil, makmur, damai dan sentosa. Semoga bermanfaat. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

 

Sragen 08-08-2024

Junaedi Abdullah.

 

 

 

 

 

 

 


BAB 7 SOAL 1. TAWASSUL DAN MEMINTA SYAFAAT.

  BAB 7 SOAL 1. TAWASSUL DAN MEMINTA SYAFAAT.     س ١ - بِمَاذَا نَتَوَسَّلُ إِلَى اللَّهِ؟ Soal 1 : Dengan apa kita bertawassul...