DI ANTARA SIFAT-SIFAT PENGHUNI
SURGA
Diantara sifat penghuni surga yaitu yang Allah
sebutkan di dalam Al-Qur’an pada surat Al Mukminun [23]:1-11) dan juga di dalam
surat Al Imran [3]:133-136).
Allah ta’ala berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ . الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ . وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ
اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ . وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ . وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ . إِلَّا عَلَى
أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ . فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ . وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ . وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ . أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ . الَّذِينَ يَرِثُونَ
الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ.
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang
beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan
orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada
berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang
yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau
budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada
tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah
orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara
amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang
memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi,
(ya’ni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al
Mukminun [23]:1-11).
Sifat yang pertama: الْمُؤْمِنُونَ hendaknya beriman.
Mencakup iman kepada Allah, kepada
malaikat-malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada nabi-nabi-Nya, kepada
hari akhir, kepada taqdir yang baik dan yang buruk.
Allah ta’ala berfirman:
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ
تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ
آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ
وَالنَّبِيِّينَ
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke
arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan
itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab,
nabi-nabi ..” (QS Al Baqarah [2]:177)
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda ketika menjawab pertanyaan Jibril:
فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ
وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ
بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ.
“Beritahukan
kepadaku tentang Iman”. Lalu beliau bersabda: “Engkau beriman kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan
engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim 8)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
لاَ
تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا.
أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا
السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ.
“Kalian
tidak akan masuk surga sampai kalian beriman. Dan kalian tidak akan beriman
kecuali sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian
kepada suatu perkara yang jika kalian melakukannya kalian akan saling
mencintai? Maka tebarkanlah salam di antara kalian.” (HR Muslim 54, Ahmad
10177).
Sifat
yang kedua: خَاشِعُون Orang yang khusyu’.
Diantara tanda orang yang khusyu’, shalat pada waktu yang
ditentukan, tidak terburu-buru, thumak’ninah yaitu, dia menghadap Allah dengan
jiwa dan raganya, merasa nyaman dengan shalatnya.
وَاسْتَعِيْنُوْا
بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ
الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوْا رَبِّهِمْ وَاَنَّهُمْ اِلَيْهِ
رٰجِعُوْنَ ࣖ
Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat.
Sesungguhnya (salat) itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang
khusyuk, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya
dan hanya kepada-Nya mereka kembali. (QS. Al-Baqarah[2]:45-46).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
خَشَع لَكَ َ سَمْعِي
وَبَصَرِي وَمُخِّي وَعَظْمِي وَعَصَبِي.
Khusyu’
kepadaMu pendengaranku, penglihatanku, otakku, tulangku dan otot-ototku. (HR
Muslim 771, Tirmidzi 3421).
وَجُعِلَتْ قُرَّةُ
عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ.
“Dan dijadikan penyejuk hatiku dalam shalat. (HR Nasaai 3940,
Ahmad 14037, Tabrani al-Mu’jam 5203, dishahihkan
Syaikh al-Albani di dalam ).
إِذَا قُمْتَ فِي
صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ
“Shalatlah dengan shalat orang yang akan berpisah (dengan dunia).”
.( HR. Ahmad 23498, 4171 dihasankan Syaikh al-Albani di dalam al-Misykah 5261).
Shalat
khusu’ mampu mempengaruhi dalam keseharian seseorang.
Allah ta’ala berfirman:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ.
“Sesungguhnya
shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS.
Al-Ankabut [29]:45).
Sifat yang
tiga: وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ Berpaling dari apa yang tidak bermanfaat.
Laghwun
adalah segala sesuatu yang tidak ada gunanya dan tidak ada kebaikan dari ucapan
dan perbuatan.
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ
تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
“Di antara kebaikan islam seseorang adalah
meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi 2317 Ibnu Majah 3976. Dishahihkan
Syaikh al-Albani di dalam al-Misykah 4839).
ألصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ.
“Puasa adalah tameng janganlah berkata kotor dan
jangan berbuat bodoh, jika seseorang mengajak berkelahi atau mencelamu maka
katakanlah aku sedang puasa dua kali.” (HR. Bukhari 1894).
Sifat yang ke empat: وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ Mereka menunaikan zakatnya.
Mencakup apa yang wajib
dari harta yang harus dikeluarkan, atau bisa jadi berupa perkataan dan
perbuatan, sebagaimana di jelaskan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ.
“Bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa
sallam mewajibkan zakat fithri karena telah berakhir Ramadhan.” (HR. Muslim 984).
فَرَضَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً
لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ.
“Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fithri untuk menyucikan
orang yang berpuasa dari perkara yang sia-sia dan perkataan keji, dan sebagai
makanan bagi orang-orang miskin.“ (HR. Abu Daud 1609, Ibnu Majah
1827. Di hasankan Syaikh al-Albani di dalam shahih Abu Dawud 1427, Al-Irwa’
843).
Sifat yang ke lima: وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ
حَافِظُونَ Menjaga kemaluannya.
Allah
ta’ala berfirman:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا.
"Dan
janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang
keji. Dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra[17]: 32).
فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ
اللَّهُ.
Wanita
yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya
tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). (QS. An-Nisa’ [4]:34).
مَنْ حَفِظَ مَا بَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ
رِجْلَيْهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ.
"Barangsiapa yang menjaga
sesuatu di antara kedua tulang rahangnya (lisan) dan kedua kakinya (kemaluan),
maka ia masuk jannah (surga). ( HR, Hakim di dalam al-Mustadrak 8058, dishahihkan
Syaikh al-Albani di dalam Jami’us Sagir 1/90).
Sifat yang ke enam: وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ Menjaga amanah.
Allah ta’ala berfiman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى
أَهْلِهَا.
"Sesungguhnya
Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah-amanah kepada ahlinya." (QS.
An-Nisa’ [4]: 58).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ,
وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ, وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ.
“Tanda orang munafik itu tiga
apabila ia berkata dia berdusta, jika membuat janji berdusta, dan jika
dipercayai mengkhianati” (HR
Bukhari 33 dan Muslim 59).
Di dalam surat Al Imran [3]:133-136).diantara sifat-sifat penghuni surga Allah sebutkan yaitu:
Sifat yang ke tujuh: وَسَارِعُوا
إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ
bersegera di dalam kebaikan.
Allah ta’ala berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ
مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ
أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ.
“Dan bersegeralah (berlomba-lombalah) kamu untuk (meraih)
pengampunan dari Rabbmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang
disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Al-‘Imran[3]:133)
سَابِقُوا إِلَى
مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ
يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ.
Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu
dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang
yang beriman kepada Allah dan rasul-rasulnya. Itulah karunia Allah, yang
diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang
besar. (QS Al Hadid [57]:21)
وَفِي
ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ.
“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.”
(QS Al-Mutaffifin[83]:26)
Sifat yang ke delapan: الَّذِينَ
يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ Menafkahkan
hartanya.
Menafkahkan hartanya menurut kadar kemampuan dan keadaan, bila
diberi kelonggaran dia menafkahkan selayaknya, namu bila dalam keadaan sempit
mereka tetap menafkahkan meskipun sedikit.
Allah ta’ala berfirman.
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ
فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ.
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu
lapang maupun sempit.” (QS. Al Imran[3]:134)
Keutamaan menafkahkan harta.
مَثَلُ الَّذِينَ
يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ
سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ
لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ.
“Perumpamaan (infak yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang
menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang
menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah
melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah maha luas
(karunia-Nya) lagi maha mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 261)
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ
مِنْ مَالٍ.
“Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim 2588)
وَالصَّلَاةُ نُورٌ, وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ, وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ.
“Shalat adalah cahaya, sedekah merupakan bukti, sabar itu
penerang, sementara Al-Quran bisa menjadi pembelamu atau sebaliknya, menjadi
penuntutmu.” (HR. Muslim 223)
وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ
بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ.
“Seseorang yang bershadaqah dengan menyembunyikannya sehingga
tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya.” (HR Bukhari 660
Muslim 1031)
Orang yang bersedekah ikhlas semata-mata karena Allah ta’ala
akan merasakan bahagia hatinya, karena bisa saling berbagi kepada sesama,
menolong, dan meringankan bebannya, dan kelak di akhirat akan menjadi tumpukan
pahala yang berlipat-lipat.
Sifat ke delapan وَالْكَاظِمِينَ
الْغَيْظَ Menahan marah.
Allah memuji orang-orang yang menahan amarahnya dan merupakan
tanda dan sifat-sifat penghuni surga.
Allah ta’ala berfirman:
وَالْكَاظِمِينَ
الْغَيْظَ.
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya.” QS Ali ‘Imran [3]:134.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ
بِالصُّرَعَةِ , إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ.
“Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu
mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang
kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR Bukhari 5763, Muslim 2609)
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَظَمَ غَيْظًا
وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى
رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ
الْحُورِ مَا شَاءَ.
“Barangsiapa menahan amarahnya padahal dia mampu untuk
melampiaskannya maka Allah Azza wa Jalla akan memanggilnya (membanggakannya)
pada hari Kiamat di hadapan semua manusia sampai (kemudian) Allâh membiarkannya
memilih bidadari.” (HR Abu Daud 4777
Tirmidzi 2493 di hasankan syaikh al-Albani)
Sifat ke sepuluh: وَالْعَافِينَ
عَنِ النَّاسِ Memberi maaf.
Allah ta’ala berfirman:
وَالْعَافِينَ عَنِ
النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ.
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan
(kesalahan) orang.” (QS Ali Imran[3]:134)
Memberi maaf adalah akhlaq yang mulia, demikian pula merupakan terapi hati, dan
kesehatan badan, hal ini di sampaikan beberapa pakar kesehatan.
orang yang baik hatinya akan baik pula jasadnya.
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَإِنَّ فِي الجَسَدِ
مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ
الجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ القَلْبُ.
“Dan sungguh dijasad ini ada sekerat daging yang jika dia baik
maka seluruh anggota tubuh akan baik dan jika dia rusak maka seluruh anggota
tubuh akan rusak dan itu adalah hati.” (HR Bukhari 52, Muslim 107)
Orang yang mudah marah akan menjadikan tensinya naik, lambat
atau cepat tekanan darahnya meninggi, dan itu sangat berbahaya.
Seandainya kita mengetahui barang itu sangat membahayakan
apabila tetap dipegang bahkan bisa mencelakai dirinya tentulah kita akan
melepasnya. Demikian pula rasa dendam, hasad, iri, dengki semua sifat-sifat ini
akan membahayakan bagi jiwa dan raga seseorang hendaknya di lepaskan dengan
memberi maaf kepada orang yang belaku tidak baik kepada dirinya, dan
menghilangkan berbagai sifat tercela tersebut karena hal itu kotoran hati.
Sifat ke sebelas وَالَّذِينَ إِذَا
فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا
لِذُنُوبِهِمْ Jika
melalukan dosa segera berhenti dan segera bertaubat.
Allah ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ إِذَا
فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا
لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ, وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى
مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ.
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji
atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun
terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengumpuni dosa selain dari
Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedangkan mereka
mengetahui.” (QS Al-Imran [3]:135).
قُلْ يَا عِبَادِيَ
الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ
إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap
diri mereka sendiri, Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.’
Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha
Pengampun, Maha Penyayang.” (QS Az-Zumar[39 ]:53)
إِنَّ الْحَسَنَاتِ
يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ.
“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan
(dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk” (QS. Huud [11]: 114)
كُلُّ بَنِي آدَمَ
خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.
“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang
berbuat kesalahan adalah yang bertaubat.” (HR Ibnu Majah 4251. Di hasankan
syaikh al-Albani)
اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا
كُنْتَ, وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا, وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.
“Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan
iringilah sesuatu perbuatan dosa (kesalahan) dengan kebaikan, pasti akan
menghapuskannya dan bergaullah sesama manusia dengan akhlaq yang baik.”
Sifat ke dua belas وَلَمْ
يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ Tidak
terus-menerus dalam maksiat.
Allah ta’ala berfirman:
وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى
مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ.
“Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedangkan
mereka mengetahui.” (QS Al-Imran [3]:135).
أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ
مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ
خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ.
“Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga
yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedangkan mereka kekal di dalamnya,
dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS Al-Imran[3]:136)
Demikianlah semoga bermanfaat.
----------00000----------
Sragen 20-02-2026.
Disusun oleh Junaedi Abdullah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar