Jumat, 07 April 2023

SUNNAH MELAWAN SYAITAN.

 


Iblis merupakan nenek moyang jin, adapun jin ada yang kafir dan adapula yang beriman, sementara syaitan bisa dari kalangan jin dan juga manusia yang kafir maupun fasiq.

Permusuhan iblis dan syaitan yang merupakan keturunannya di mulai ketika bapak mereka enggan bersujud dengan bapak kita nabi Adam alaihi sallam, Allah mengisahkan hal itu di beberapa tempat di dalam Al-        Qur’an.

Allah ta’ala berfirman:

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ.

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.” (QS. Shad[38]:71).

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ.

“Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya." (QS. Shad [38]:72).

فَسَجَدَ الْمَلَائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ.

“Lalu seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya.” (QS. Shad 38]:73).

إِلَّا إِبْلِيسَ اسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ.

“kecuali iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir.” ( QS. Shad [38]:74).

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ.

Allah berfirman: "Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?". (QS. Shad [38]:75).

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ.

Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah." (QS. Shad [38]:76)

قَالَ فَٱخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ.

Allah berfirman: "Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk.” (QS. Shad 38]:77).

قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ.

“Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan." (QS. Shad [38]:78).

Semenjak iblis terusir dari surga, iblis mendendam kepada manusia dan bersumpah untuk menyesatkannya.

 قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ.

Iblis berkata " Demi kemuliaanmu aku akan sesatkan mereka semua." (QS. Shad[38]:82).

Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata di dalam kitabnya, Ighatsatul-lahfan ada tujuh perangkap iblis untuk menjerumuskan manusia, yaitu:

1.   Iblis berusaha akan menjerumuskan manusia kedalam kesyirikan.

 

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ .

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa [4]:48).

Allah ta’ala mengulang-ngulang ayat-ayat semacam ini, menunjukkan akan bahaya dan besarnya dosa syirik ini. Sehingga iblis akan merasa puas seandainya manusia sudah menyekutukan Allah, karena iblis mengetahui barang siapa yang menyekutukan Allah niscaya akan hapuslah amal-amalnya dan kelak akan menjadi temannya di neraka.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

“Dan Sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”(QS. Az-Zumar [39]:65).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ وَقُلْتُ أَنَا وَمَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّة.

”Barang siapa mati dalam keadaan menyekutukan Allah dia akan masuk kedalam neraka, barang siapa mati tidak menyekutukan Allah dia akan masuk kedalam syurga.”( HR. Bukhari 6305, Muslim 92).

Inilah perangkap yang paling dahsyat dan sangat mengerikan yang akan di pasang pertama kali oleh iblis, dan yang akan menentukan surga atau neraka bagi seseorang.

2.   Kebid’ahan.

Setelah seseorang dapat lolos dari jeratan kesyirikan dia akan digiring dan di masukkan ke dalam perangkap kebid’ahan, yang mana pelaku bid’ah ini akan memandang baik perbuatan-perbuatan yang menyelisihi Sunnah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah ta’ala berfirman:

 

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ.

“Apa yang diberikan Rosul kepadamu, maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” ( QS. Al-Hasyr[59]:7).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ.

 “ Barang siapa membuat-buat perkara baru di dalam perkara kami ini apa yang bukan darinya maka tertolak.” ( HR. Bukhari 2697, Muslim 1718).

Sufyan At-Tsauri rahimahullah berkata: “Bid’ah itu lebih disenangi oleh Iblis daripada maksiat, karena pelaku maksiat lebih besar harapan untuk bertaubat. Berbeda dengan pelaku bid’ah, ia sukar untuk bertaubat.”(Al-Muntaqa an-Nafs min Talbis Iblis).

3.   Dosa-dosa besar.

Jika seseorang bisa selamat dari perangkap syirik dan bid’ah iblis akan menjeratnya agar seseorang terjerumus kedalam dosa-dosa besar, para ulama’ menjelaskan,  dosa-dosa yang kecil akan diampuni Allah dengan syarat jika seseorang meninggalkan dosa besar, sebagaimana firman Allah ta’ala:

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا.

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang di larang kamu mengerjakannya, niscaya kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan kami masukkan kamu ke tempat yang mulia.” (QS. An-Nisa [4]:31).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ.

“ Shalat-shalat  yang lima jum’at satu ke jum’at berikutnya ramadhan satu ke ramadhan berikutnya penghapus dosa-dosa jika di jahui dosa-dosa besar. “ (HR. Muslim 233).

4.   Dosa-dosa kecil.

Jika seseorang dapat selamat dari dosa besar maka dia akan di jerumuskan kedalam dosa-dosa kecil, sehingga tanpa dia sadari dosa-dosa tersebut akan menggunung sebagaimana kita ketahui gunung bukan hanya tersusun dari batu besar saja.

Allah ta’ala berfirman:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.

“Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. Anur [24]:31).

5.   Disibukkan dengan perkara mubah (yang di bolehkan).

Jika seseorang dapat selamat dari dosa-dosa kecil maka iblis tidak akan diam sehingga dia akan membuat seseorang sibuk dengan perkara-perkara yang mubah.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ.

“Dua nikmat yang kebanyakan manusia terlalaikan dengannya yaitu nikmat sehat dan longgar.”  ( HR. Bukhari 6412, Tirmidzi 2304).

6.   Meninggalkan amalan utama dan mengamalkan yang kurang utama.

Jika seseorang masih dapat lolos dari kesibukan perkara yang mubah maka di buatlah dia agar memilih amalan yang kurang utama di bandingkan yang utama, padahal secara kaedah di sebutkan:

فَإِنْ تَزَاحَمْ عَدَدُ الْمَصَالِحِ يُقَدَّمُ الأَعْلَى مِنَ الْمَصَالِح.

“Jika berbenturan beberapa maslahat hendaknya di dahulukan yang paling tinggi dari maslahat tersebut” (Risalah Fil Qawa’idi il Fiqiyah oleh Syaikh ‘Abdurrahman Ibni Nashir Assa’di).

Seperti halnya seseorang dapat berbuat baik kepada orang lain namun terhadap saudara-saudaranya justru tidak menjaga dengan baik, atau seseorang sibuk dengan  perkara Sunnah justru mengabaikan perkara yang wajib.

7.   Iblis akan memusuhi secara terang-terangan.

Jika seluruh gangguan di atas tidak menjadikan seseorang surut niscaya iblis akan mengerahkan tentaranya baik dari kalangan manusia ataupun jin, mereka akan memusuhi, mengancam mengintimidasi dan lain sebagainya, inilah cobaan yang sering di terima oleh para Nabi dan Rasul. Akan tetapi semua itu tidaklah akan membahayakan seseorang kecuali apa yang telah di tetapkan oleh Allah ta’ala di dalam kitab-Nya. Allah ta’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا.

“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, Karena Sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (QS. An Nisaa[4]:76)

Demikianlah tuju perangkap iblis yang dipaka untuk menjerat manusia.

Adapun di dalam sunnah, banyak kita jumpai bagaimana permusuhan orang-orang shalih kepada iblis dan bala tentaranya itu secara nyata.

Diantara kisahnya sebagai berikut:

1)   Iblis ikut musyawarah untuk menyingkirkan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika Iblis yang menyerupai manusia pada saat membuat makar untuk menyingkirkan Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam iblis ini menyerupai laki-laki tua dari Nejed. Kemudian mengusulkan untuk membunuh Rasulullah secara bersama-sama dengan pemuda-pemuda kabilah Quraisy. (Sirah nabawiyah, oleh Syaikh Syafiyurrahman al-Mubarakfuri)

2)   Pada saat perang Badar, Syaitan menyamar jadi Suraqah bin Malik , bangsawan dari bani Kinanah.

Allah ta’ala berfirman:

وَإِذْ زَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ الْيَوْمَ مِنَ النَّاسِ وَإِنِّي جَارٌ لَكُمْ فَلَمَّا تَرَاءَتِ الْفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَى عَقِبَيْهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكُمْ إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَاللَّهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ.

“Dan ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan, ‘Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadap kalian pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu.’ Maka ketika kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata, ‘Sesungguhnya saya berlepas diri dari kalian; sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah.’ Dan Allah sangat keras siksa-Nya.” (QS. Al-Anfal [8]: 48).

Sebagaimana hal ini dijelaskan oleh ahli tafsir.

3)   Kisah Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam diganggu jin ifrit ketika beliau Shalat.

"Pada suatu malam Rasulullah salat, lalu jin ifrit menampakkan diri, lalu beliau berdoa, "Aku berlindung kepada Allah", setelah itu beliau mencekiknya." (HR Bukhari dan Muslim)

4)   Kisah Umar bin Khattab bertarung dengan jin.

"Seorang lelaki keluar kemudian bertemu dengan jin, tiba-tiba jin itu berkata, "Bertarunglah melawanku !"

Maka mereka berdua bertarung, dan akhirnya jin itu dapat dikalahkan. Seseorang bertanya siapakah gerangan pria itu ? dijawab, "Siapa lagi kalau bukan Umar bin Khattab" (Riwayat Thabrani)

Dalam penjelasan lain jin itu mengaku paling kuat di bangsanya, dan memberi tahu agar dapat terlindung dari dirinya dengan membaca ayat kursi."

5)   Kisah Ammar bin Yasir

"Ammar bin Yasir mengambil air di sumur, lalu Setan menampakkan diri. Beliau bergulat dengan Setan itu dan menghantam hidungnya dengan batu."(Riwayat Baihaqi)

6)   Kisah Khalid bin Walid ketika Fatkhul Makkah.

Khalid bin Walid ditugaskan Nabi Muhammad untuk menghancurkan berhala Uzza. Lalu beliau pergi ke sebuah kampung dan menemukan bahwa Uzza adalah Setan perempuan telanjang berambut acak-acakan dan terurai, Khalid lalu menebas dengan pedangnya dan akhirnya mati. (HR Abu dawud) (lihat Arrahiqul Makhtum Syaikh Syafiyurrahman Al Mubarokfuri).

7)   Kisah Ibnu Zubair.

Ibnu Zubair meriwayatkan bahwa ia melihat sesosok jin laki-laki tapi tingginya hanya sejengkal (cebol) Lalu Ibnu Zubair bertanya : “Makhluk apa kamu ?” Lalu Makhluk itu menjawab : “Saya Izib”. Ibnu Zubair bertanya lagi : “Apa itu Izib ?” Makhluk itu menjawab : “Izib ya Izib .”

Lalu makhluk itu dipentung Ibnu Zubair dengan tongkat sampai makhluk itu lari terbirit-birit. (Al-Syibli dalam Ahkam al Jan).

8)   Dahulu pemuda yang masih pengantin.

Seorang pemuda yang masih pengantin baru ijin pulang ketika perang khandak, ternyata dirumah ada ular, kemudian pemuda itu menyerang dan ular itupun menyerang akhirnya kedua-duanya meninggal. ( Shirah Nabawiyah Syaikh Syafiurhman al-Mubarokfuri)

9)   Kisah imam Mujahid

“Suatu malam ketika saya sedang melaksanakan shalat, tiba-tiba muncul makhluk sebesar anak laki-laki di hadapan saya. Lalu saya desak dia untuk menangkapnya. Tiba-tiba dia bangun dan lompat ke belakang dinding sehingga saya mendengar jatuhnya. Setelah itu, dia tidak penah datang lagi.” (Riwayat Ibnu Abi Dunya).

Dalam riwayat lain, Imam Mujahid menegaskan:

“Setan itu sebenarnya sangat takut terhadap kalian (manusia), melebihi ketakutan kalian kepadanya. Oleh karena itu, setan menampakkan diri kepada kalian, janganlah kalian lari ketakutan. Karena jika kalian takut, ia akan menunggangi kalian (mengganggu), akan tetapi bersikaplah keras kepadanya, pasti dia akan pergi”. (Riwayat Ibn Abi Dunya)

10)                     Abu Hurairah pernah menangkap Jin.

Disebutkan secara makna bahwa Abu Hurairah pernah menangkap jin yang berbentuk manusia sampai tiga kali, ketika ia mencuri kurma sedekah kemudian memberitahukan supaya membaca ayat kursi agar tidak diganggu, Rasulullah sallallahu Alaihi wa sallam membenarkan hal itu.(HR.Bukhari)

11)                     Syaitan akan takut dari sebagian hamba Allah yang shalih.

Setan takut dan lari dari sebagian hamba Allah yang kuat imannya.

Jika Islam telah tertancap kuat pada seorang hamba, iman telah tegak di dalam hatinya, dan dia senantiasa menjaga batasan-batasan yang telah digariskan Allah, maka setan akan menjauh dan lari darinya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Umar bin Al Khaththab: “Sesungguhnya setan takut kepadamu, wahai Umar”. (HR Tirmidzi 2913).

Allah ta'ala berfirman:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ.

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh nyata bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (QS.Fathir [35]:6).

Janganlah orang tua menakut-nakuti anaknya dengan jin, setan demit, gendruwo dan lainnya, karena mereka akan semakin menyombongkan diri, sementara anak kita mentalnya rusak, kita juga hendaknya jangan takut, harus dilawan, jika tidak mereka akan mempermainkan kita dan menteror kita.

Dan masih banyak lagi kisah-kisah yang tidak bisa kita tulis di sini, yang intinya kisah-kisah tersebut mendidik kita untuk janganlah takut kepada mereka dan bahkan disunnahkan untuk melawan mereka.

Semoga bermanfaat.

 

Sragen 8-04-2023.

Junaedi Abdullah.

 

              

Kamis, 06 April 2023

CONTOH PRAKTEK AKHLAQ YANG BAIK

 


Kemuliaan Akhlaq merupakan ciri bagi seorang muslim, hal ini merupakan perintah Allah ddan meneladani Rasul-Nya.

Allah ta’ala berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al Qalam [68]: 4)

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21).

Dari Al-Hasan ia berkata: Aisyah ditanya tentang akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia menjawab:

عَنِ الْحَسَنِ قَالَ : سُئِلَتْ عَائِشَةُ عَنْ خُلُقِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ فَقَالَتْ : كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ.

“Akhlaknya adalah Al-Qur’an.” (HR. Ahmad 25813, Shahih menurut Syaikh Syu’aib Al-Arnauth)

قال رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ مَكاَرِمَ اْلأَخْلاَقِ.

“Sesungguhnya aku diutus tidak lain untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad 273, dishahihkan syaikh Al-Albani dalam Silsilah As Shahihah 45)

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ.

“Sungguh, Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An-Nahl[16]:128).

Baiknya akhlaq menunjukkan kesempurnaan iman seseorang.

Rasulullah sallallahu ‘alaaihi wa sallam bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا .

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya, dan yang paling baik di antara kamu sekalian adalah yang paling baik akhlaqnya terhadap isteri-isterinya.” (HR. Ahmad 7402, Tirmidzi 1162, Abu Dawud 4682 dihasan oleh syaikh al-Albani di dalam Ash-Shahihah 284).

Akhlaq yang baik merupakan pemberat timbangan kelak pada hari kiamat.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ. 

"Tidak ada sesuatupun yang lebih berat dalam timbangan (amalan) seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlaq yang mulia." (HR. Tirmidzi 2002, di hasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Ash-Shahihah 876).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan manusia ke surga, maka beliau bersabda:

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ  تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ. وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ  الْفَمُ وَالْفَرْجُ.

“Taqwa kepada Allah dan bagusnya akhlak.” Dan beliau ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan manusia ke neraka, maka beliau bersabda: “mulut dan farji (kemaluan).” (HR Tirmidzi 2004, Abu Dawud 2596, Ibnu Majah 4246. Dihasankan syaikh al-Albani, Lihat As-Shahihah 977)

Diantara Bentuk Akhlak Yang Baik Yaitu:

Jujur, sabar, adil, pemaaf, dermawan, amanah, istiqamah, berseri-seri, ramah, lembut, tegas, tegar, pembrani, belas kasih, penyayang, ulet, teliti, santun, semangat, tabah, toleran, qanaah (merasa puas), itsar (mementingkan saudaranya) yang semua itu diukur sesuai dengan ketentuan Syari’at.

Oleh karena itu ada satu ungkapan yang baik, “ Li kulli maqal maqam” yang artinya “ Setiap ucapan ada tempatnya,” bahkan terkadang masih di butuhkan “saatnya”.

Ini sebagai bantahan kepada orang-orang yang menganggap bahwa Allah tidak mempermasalahkan apa yang nampak yang penting hatinya baik.

Kita katakan bahwa Allah ta’ala selain melihat hati seseorang juga menilai amal seseorang berdasarkan akhir hadis tersebut,bahkan hati yang baik akan terlihat pada perbuatan yang baik karena perbuatan merupakan aplikasi dari hatinya.

 

Contoh praktek sahabat di dalam kejujuran.

1.   Jujur.

Kisah kejujuran kaab bin Malik

Padahal, Ka'ab bin Malik tidak memiliki uzur saat itu. Usianya belumlah tua dan beliau pun tidak sedang dalam keadaan sakit. Beliau juga bukan golongan orang-orang munafik di Kota Madinah. Ka'ab bin Malik tidak turut serta dalam perang hanya karena faktor kelalaiannya. Sepulangnya Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersama pasukan kaum Muslimin ke Madinah, Ka'ab bin Malik pun menghadap kepada Rasulullah. Sebenarnya ketika itu Ka'ab bin Malik bisa saja menyampaikan alasan-alasan yang dibuat-buat, ia bisa saja mengatakan kedustaan demi menyelamatkan dirinya di hadapan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam Akan tetapi, Ka'ab bin Malik tidak melakukannya. la justru menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi, mengapa ia tidak turut serta dalam pasukan kaum Muslimin di Perang Tabuk. Ka'ab bin Malik menyampaikan apa adanya secara jujur di hadapan Rasulullah, karena ia tahu sesungguhnya Allah Maha Tahu dan ia mengharapkan ampunan-Nya.

Akibatnya sesudah semua sahabat kembali ke Madinah, Ka'ab bin Malik dikenai sanksi sosial yakni dikucilkan selama 50 hari. Dia juga belum bisa menemui Rasulullah untuk memberikan klarifikasi karena banyak tamu yang juga ingin bertemu Rasulullah.

2.   Kesabaran.

1)   Kisah umu sulaim dan abu Talhah, bagaimana disaat kehilangan anaknya.

2)   Urwah bin Zubair di undang oleh amirul mukminin di Damaskus, Beliau mengajak putra sulungnya, datanglah ketetapan dan kehendak Allah, anaknya melihat-lihat kuda pilihan, tiba-tiba saja seekor kuda menyepakkan kakinya hingga anaknya tewas.

Belum lagi bersih tangannya mengubur anaknya salah satu telapak kakinya terluka, betisnya tiba-tiba membengkak dan menjalar dengan cepat.

Amirul mukminin mendatangkan tabib dari seluruh negri dan memerintahkan mengobati dengan cara apapun, para tabib memutuskan untuk mengamputasi kakinya.

Beliau tidak mau meminum arak untuk menghilangkan rasa sakitnya saat di amputasi, atau di bius, beliau memilih untuk shalat di saat di amputasi kakinya.

setelah minyak didihkan dan di teteskan pada luka untuk menghentikan pendarahannya, beliaupun pingsan.

 

Disaat bersamaan dengan itu di rumah Khalifah datang serombongan Bani Abbas, salah seorang diantara mereka buta matanya.

 

Al-Walid menanyakan sebab kebutaanya, dia menjawb:

"Wahai Amirul mukminin, dulu tidak ada seorangpun di kalangan Bani Abbas yang lebih kaya dalam harta dan anak dibandingkan saya, saya tinggal bersama keluarga saya di suatu lembah di tengah kaum saya.

Mendadak muncullah air bah yang langsung menelan habis seluruh harta dan keluarga saya, yang tersisa bagi saya hanyalah seekor onta dan seorang bayi yang baru lahir.

Onta itu sangat liar dan dia lari dari saya, maka saya taruh bayi saya lalu saya kejar onta tersebut, belum jauh saya berlari saya mendengar jerit bayi tadi, setelah saya menoleh ternyata kepalanya telah berada di mulut srigala dia telah memangsanya, saya kembali tapi tak bisa berbuat apa-apa karena bayi itu telah di lahapnya, setelah itu srigala itu lari kencang.

Saya kembali mengejar onta saya, setelah dapat, onta itu menyepakkan kakinya sehingga wajah saya hancur dan kedua mata saya buta, demikianlah saya dapati diri saya kehilangan harta dan keluarga dalam semalam saja dan hidup tanpa penglihatan. Demikian kisah orang yang buta tersebut.

Amirul mukminin menyuruh membawa orang tadi kepada Urwah agar menceritakan untuk menghibur dirinya.

Ketika pulang ke Madinah beliau menjumpai keluarganya, Urwah berkata sebelum di tanya:

"Janganlah kalian risau dengan apa yang kalian lihat Allah memberiku empat orang anak (ada yang menyebut tujuh) kemudian Dia mengambil satu, maka masih tersisa tiga, puji syukur kepada-Nya, Aku diberi empat kekuatan lalu Allah mengambil satu, maka masih tersisa tiga. puji syukur kepada Allah, masih banyak yang di tinggalkan untukku.  Maraji': "Mereka adalah Tabi'in" DR. Abdurahman Ra'fat Basya.

 

Oleh karena itu bentuk kebaikan iman seseorang yaitu, membenarkan dalam hatinya, mengucapkan didalam lisannya, mengamalkan pada anggota badannya.

3.   Kedermawanan.

1)   seperti kisah nabi Ibahim

2)   Kisah Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam.

3)   Abu Bakar, umar, Utsman.

4.   Itsar. (mementingkan orang lain dibandingkan diri sendiri masalah dunia.)

1)   Kisah Abu Talhah dan umu Sulaim

2)   Di akhir hadits disebutkan, “Maka turunlah ayat:

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” (QS. Al-Hasyr [59] : 9). (Muttafaqun ’alaih)

 

3)   Al-Harits bin Hisyam, Ayyasy bin Abi Rabi'ah, dan Ikrimah bin Abu Jahal.

 

 

 

Manusia Diberi Kemampuan Mengubah Akhlaknya.

Termasuk apa yang di bahas para ulama bahwa seseorang dengan izin Allah, di beri kemampuan untuk merubah akhlaknya.

Allah ta'ala berfirman:

كَمَآأَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولاً مِّنكُمْ يَتْلُوا عَلَيْكُمْ ءَايَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّالَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ.

"Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat atas kalian) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu, yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu, dan menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui". (QS. Al-Baqarah [2]: 151)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Wayuzakkihim” (menyucikan kamu), yaitu menyucikan mereka dari akhlak yang rendah, dari kotoran jiwa dan dari perbuatan jahiliah, serta mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. (Tafsir Ibnu Katsir QS. Al Baqarah[2]:151)

Dari sini kita bisa memperhatikan bagaimana buruknya masa jahiliyah namun setelah mereka mendapat cahaya Islam, mereka berubah seakan-akan seperti permata yang sangat indah sebagaimana kisah-kisah di bawah nanti in syaa Allah.

Sebagaimana hal ini juga disampaikan Ibnu Jauzy rahimahullah di dalam kitab “Minhajul Qasidin” beliau berkata:

Andaikata takbiat (akhlak) manusia tidak bisa berubah tentu tidak ada artinya nasehat dan peringatan, lalu bagaimana kamu mengingkari perubahan akhlak, padahal kami pun bisa melihat binatang galak menjadi lembut, anjing bisa tahu kapan harus tidak makan, kuda tahu bagaimana cara berjalan yang baik dan mudah dihela, hanya sebagian manusia ada yang cepat berubah, dan sebagian yang lain sulit diubah.”

Beliau juga berkata, “Suatu penyakit harus diobati dengan kebalikan”, Beliau juga berkata,”Yang perlu di catat seseorang harus bisa menahan diri merasakan pahitnya obat dan bersabar diri dari hal-hal yang diinginkan jiwanya.”

Beberapa hal yang bisa untuk mendapatkan akhlak yang baik.

1.     Memikirkan manfaat dan madharat yang mengenainya baik di dunia dan di akhirat.

2.     Berusaha sungguh-sungguh melatih jiwanya untuk meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

3.     Mempelajari dari kisah-kisah orang yang memiliki akhlak yang baik.

4.     Bersahabat dengan orang-orang yang baik.

5.     Mengintrospeksi diri dari orang yang memusuhi kita dan mengambil pelajaran darinya.

6.     Senantiasa berdoa kepada Allah, agar dikaruniai akhlak yang baik, karena Allahlah yang membolak-balikkan hati kita.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah berdo’a dengan do’a sebagai berikut:

اللَّهُمَّ جَنِّبْنِيْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلاَقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاءِ و الأَدْوَاءِ.

"Wahai Allah, jauhkanlah aku dari kemungkaran-kemungkaran akhlak, dari kemungkaran-kemungkaran amal, dari kemungkaran-kemungkaran nafsu dan dari penyakit." (HR. Hakim 1/532 beliau berkata shahih sesuai syarat Muslim. Di shahihkan Syaikh Al Bani Fi Zhilalil Jannah 13)

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلاَقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاءِ.

Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung kepadaMu dari kemungkaran-kemungkaran akhlak, dari kemungkaran-kemungkaran amal, dari kemungkaran-kemungkaran hawa nafsu" (HR. Tirmidzi 5/233, dan dishahihkan oleh Al-Bani dalam Shahih Tirmidzi 3/184)

اللَّهُمَّ كَمَا أَحْسَنْتَ خَلْقِي فَأَحْسِنْ خُلُقِي

"Ya Allah sebagaimana Engkau telah membaguskan tubuhku, maka baguskanlah akhlakku.” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Bani dalam Shahih Jami’ush Shagir 1/280)

 

MENJELANG PERANG UHUD

  MENJELANG PERANG UHUD   Persiapan musyrikin Quraisy Untuk Perang Balas Dendam Mekkah terbakar api amarah terhadap orang-orang Islam ...