Rabu, 20 Mei 2026

MUJMAL USUL AHLISUNNAH WAL JAMA'AH. BAB 1 NO 5 BERSERAH DIRI KEPADA ALLAH DAN RASULNYA LAHIR DAN BATIN

 

 

MUJMAL USUL AHLISUNNAH WAL JAMA'AH. BAB 1 NO 5



أَوَّلًا:

قَوَاعِدُ وَأُصُولٌ فِي مَنْهَجِ التَّلَقِّي وَالِاسْتِدْلَالِ
BAB 1

KAIDAH DAN PRINSIP DALAM METODE PENGAMBILAN ILMU DAN PENETAPAN DALIL

NO. 5

BERSERAH DIRI SEPENUHNYA KEPADA ALLAH DAN RASUL-NYA

 

٥- التَّسْلِيمُ لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ ﷺ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا فَلَا يُعَارَضُ شَيْءٌ مِنَ الْكِتَابِ أَوِ السُّنَّةِ الصَّحِيحَةِ بِقِيَاسٍ وَلَا ذَوْقٍ وَلَا كَشْفٍ وَلَا قَوْلِ شَيْخٍ وَلَا إِمَامٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ.

5.      Berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya baik secara lahir maupun batin. Maka tidak boleh mempertentangkan sesuatu pun dari Al-Qur’an atau Sunnah yang sahih dengan qiyas, perasaan (selera), klaim kasyaf, pendapat seorang syaikh, imam, atau yang semisalnya.

Penjelasan:

1.   Seorang muslim hendaknya berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya baik secara lahir dan batin.

Allah ta’ala berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS.An-Nisa[4]:65).

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Tidaklah pantas bagi laki-laki mukmin dan tidak pula bagi perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, lalu mereka masih mempunyai pilihan yang lain dalam urusan mereka. Barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh ia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Ahzab[33]: 36).

Meskipun ayat ini sebab turunnya berkaitan dengan Zainab binti Jahsy dengan Zaid ibnu Harisah radhiyallahu ‘anhu namun, kaedah menyebutkan:

العِبْرَةُ بِعُمُومِ اللَّفْظِ لَا بِخُصُوصِ السَّبَبِ.

“Yang menjadi dasar adalah keumuman lafaz, bukan kekhususan sebab.”

Dari abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ.

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang pun dari umat ini baik Yahudi maupun Nasrani mendengar tentang aku, kemudian ia meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman kepada ajaran yang aku bawa, melainkan ia termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim No. 153, Ahmad No. 8203).

2.   Siapapun yang berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya akan mendapatkan kemenangan yang besar.

Allah berfirman:

وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

“Siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia akan memperoleh kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab[33]:71).

Ketika perang Badar kubra para sahabat mengikuti petunjuk Rasulullah, mereka mendapatkan kemenangan yang besar.

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُرْدِفِينَ- إلى قوله- إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

(Ingatlah) ketika kalian memohon pertolongan kepada Tuhan kalian, lalu diperkenankan-Nya bagi kalian, "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kalian dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut." (QS. Al-Anfal [8]: 9).

Allah memberikan kemenangan kepada Rasul dan para sahabatnya.

Sebaliknya ketika perang uhud ada para sahabat yang mendurhakai Rasulnya sehingga mereka mengalami kekalahan.

Allah ta’ala berfirman:

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّىٰ هَٰذَا ۖ قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan mengapa ketika kalian ditimpa musibah (kekalahan), padahal kalian telah memperoleh kemenangan dua kali lipatnya, kalian berkata, ‘Dari mana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah, ‘Itu berasal dari diri kalian sendiri.’ Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 165).

3.   Berserah diri terhadap Allah dan Rasul-Nya mencakup perintah dan larangan.

Tidaklah Allah perintahkan sesuatu kecuali di dalamnya mengandung kemaslahatan bagi manusia.

Misalnya pembagian waris, perintah berjilbab, shalat, puasa zakat dan ketaatan lainnya, semua itu kebaikannya kembali kepada manusia sendiri.

Demikian pula larangan seperti riba, khamer, judi, zina dan maksiat lainnya apa bila hal itu dilanggar maka dampak buruknya akan kembali kepada manusia sendiri.

Allah ta’ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ...

“Barang siapa mengerjakan kebajikan, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri, dan barang siapa berbuat kejahatan, maka (dosanya) menjadi tanggungan dirinya sendiri...” (QS. Fussilat [41]: 46)

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا

“Jika kalian berbuat baik, berarti kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri. Dan jika kalian berbuat buruk, maka (akibatnya) kembali kepada diri kalian sendiri.” (QS. Al-Isra’ [17]: 7)

Allah ta’ala berfirman di dalam hadis qudsi:

لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ، وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ، كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ، مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا، وَلَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ، وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ، كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ، مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا.

“Seandainya seluruh manusia dan jin di antara kalian bertakwa seperti orang yang paling bertakwa, hal itu tidak akan menambah kerajaan-Ku sedikit pun. Dan seandainya seluruh manusia dan jin di antara kalian bermaksiat seperti orang yang paling durhaka, hal itu tidak akan mengurangi kerajaan-Ku sedikit pun.” (HR. Bukhari di dalam al-Adabu al-Mufrad 490 , Muslim 2577).

Semua kebaikan dan keburukan yang dilakukan hanba tersebut akan kembali kepada diri mereka sendiri.

4.   Berserah diri kepada Allah secara lahir dan batin.

Apa bila seseorang menampakkan secara lahir kebaikannya saja sementara hatinya menyimpan permusuhan maka ini adalah sifat orang munafik.

Allah ta’ala berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّقُوْلُ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَبِالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِيْنَۘ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ۚ وَمَا يَخْدَعُوْنَ اِلَّآ اَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُوْنَۗ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ۢ ەۙ بِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ.

“Di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari Akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang mukmin. Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya dan mereka mendapat azab yang sangat pedih karena mereka selalu berdusta.” (QS. Al-Baqarah [2]:8-10).

Adapun jika seseorang mengakui secara batin namun lahirnya tidak mau tunduk dan melaksanakan perintah Allah maka mereka sebagaimana Abu Thalib, yang tidak menjadikan dirinya Islam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلاَ صُوَرِكُـمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ.

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta-harta kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati-hati kalian dan amal-amal kalian.”(HR. Muslim 2564).

5.   Tidak mempertentangkan Al-Qur’an dan Sunnah dengan kiyas.

Seperti ucapan yang telah masyhur:

لاَ قِيَاسَ مَعَ النَّصِّ.

“Tidak ada qiyas apabila sudah ada nash (dalil yang tegas).” (Subulus Salam 1/527).

6.   Tidak mempertentangkan Al-Qur’an dan Sunnah dengan perasaan.

Seperti hadits lalat pada minuman.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ، ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ، فَإِنَّ فِي إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً، وَالْأُخْرَى شِفَاءً.

“Apabila seekor lalat jatuh ke dalam minuman salah seorang di antara kalian, hendaklah ia mencelupkannya, kemudian membuangnya. Sesungguhnya pada salah satu sayapnya terdapat penyakit, sedangkan pada sayap lainnya terdapat penawar.” (HR. Al-Bukhari   3320, Ahmad 7359, Abu Dawud 2302).

Nabi Musa memukul Malaikat Maut.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

جَاءَ مَلَكُ الْمَوْتِ إِلَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ فَقَالَ لَهُ: أَجِبْ رَبَّكَ، قَالَ: فَلَطَمَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ عَيْنَ مَلَكِ الْمَوْتِ فَفَقَأَهَا.

“Malaikat Maut datang kepada Musa ‘alaihissalam seraya berkata, ‘Penuhilah panggilan Rabb-mu.’ Musa kemudian memukul mata Malaikat Maut hingga terlepas.” (HR. Muslim 2372, Ahmad 8616).

Ayat tentang warisan.

Allah ta’ala berfirman:

لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ

“Bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan.” (QS. An-Nisa’ [4]: 11)

Ayat tentang poligami.

Allah ta’ala berfirman:

فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ.

“Maka nikahilah perempuan-perempuan lain yang kalian senangi: dua, tiga, atau empat.” (QS. An-Nisa’ [4]: 3)

Dan lain sebagainya.

7.   Tidak mempertentangkan Al-Qur’an dan Sunnah dengan pengakuan dapat menyingkap takbir ghaib.

Allah ta’ala berfirman:

وَعِنْدَهٗ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ اِلَّا هُوَ...

Kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. ... (QS. Al-An’am [6]:59).

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ..

“Katakanlah, tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib selain Allah.” (QS. An-Naml [27]: 65)

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا . إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِنْ رَسُولٍ.

“Dia Mengetahui yang gaib, dan Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang gaib itu, kecuali kepada rasul yang diridai-Nya.” (QS. Al-Jinn [72]: 26–27)

8.   Tidak mempertentangkan Al-Qur’an dan Sunnah dengan pendapat seorang syaikh atau imam.

Hendaknya mendahulukan Allah dan Rasul-Nya sebelum selainnya.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ.

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat [49]: 1)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

يُوْشِكُ أَنْ تَنْزِلَ عَلَيكْم حِجَارَةٌ مِنَ السَّمَاءِ, أَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ وَتَقُوْلُوْنَ: قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَرُ.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Hampir saja kalian akan dihujani batu dari langit. Aku katakan: Rasulullah bersabda demikian lantas kalian membantah dengan mengatakan: Tapi Abu Bakar dan Umar berkata demikian.” (Zadul ma’ad 2/195, Syarah Sunan Ibnu Majah 2/3, Syaikh Abdul ‘Aziz bin  Abdullah bin Abdurrahman ar-Rajihi).

Para imam madzhab mereka juga melarang ta’ashub (fanatik) dengan dirinya, dan memerintahkan agar mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, di antara ucapan mereka sebagai berikut:

Imam Abu Hanifah rahimahullah beliau berkata:

إِذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَهُوَ مَذْهَبِي. إِذَا قُلْتُ قَوْلاً يُخَالِفُ كِتَابَ الله تعالى وَخَبَرَ الرَّسولِ صلى الله عليه وسلم فَاتْرُكُوا قَولِي.

“Apabila hadits itu sahih, maka itulah madzhabku,” Beliau juga berkata, “Apabila aku berkata menyelisihi kitab Allah, dan Sunnah Rasulullah, maka tinggalkanlah ucapanku.” (Sifat shalat Nabi, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, Ibnu Abidin di dalam Al-Hasyiah 1/63).

Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata:

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُخْطِىءُ وأُصِيبُ فانْظُرُوا في رَأْيِي فَكُلّ مَا وَافَقَ الكتابَ والسُّنَّةَ فخُذُوا بِهِ وكلّ مَا لَمْ يُوَافِقِ الكتابَ والسُّنَّةَ فَاتْرُكُوهُ.

“Sesungguhnya aku tidak lain adalah manusia, terkadang salah dan terkadang benar maka perhatikanlah pendapatku setiap apa yang mencocoki Al-Kitab dan Sunnah ambillah dan setiap apa yang tidak sesuai Al-kitab dan Sunnah maka tinggalkanlah.” (Sifat shalat Nabi, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani).

Imam Syafi’i rahimahullah berkata:

إِذَا وَجَدْتُّمْ فِي كِتَابِي خِلَافَ سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدَعُوا مَا قُلْتُ.

“Apabila kalian menjumpai di dalam kitabku menyelisihi Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ucapkanlah Sunnah Rasulullah dan tinggalkanlah ucapanku.” (Sifat shalat Nabi, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, al-Khatib di dalam Al Ikhtijaju bi Syafii 8/2).

Beliau rahimahullah juga mengatakan:

أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى أَنَّ مَنِ اسْتَبَانَتْ لَهُ سُنَّةٌ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَحِلَّ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ.

“Kaum muslimin sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya sebuah sunnah (ajaran) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tak halal baginya untuk meninggalkan sunnah itu karena mengikuti pendapat siapa pun.” (I'lamul muwaqi'in 2:282).

Imam Ahmad rahimahullah berkata: 

مَنْ رَدَّ حَدِيثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ عَلَى شَفَا هَلَكَةٍ.

“Barang siapa menolak hadist rasulullah shallallahu alaihi wa sallam maka dia berada di tepi kebinasaan.” (Sifat shalat Nabi, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani).

9.   Tidak mempertentangkan Al-Qur’an dan Sunnah dengan adat-istiadat ataupun organisasi dll.

Hal ini karena Al-Qur’an dan Sunnah berlaku di manapun, kapanpun, kepada siapapun.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Sekiranya (Al-Qur’an) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak pertentangan di dalamnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 82).

Demikian pula Rasul-Nya, beliau tidak berkata menurut hawa nafsunya.

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ . إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ .

“Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut keinginannya. Tidak lain (Al-Qur’an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm [53]: 3–4)

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ.

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 107)

Demikianlah semoga bermanfaat.

 

-----000-----

 

Sragen 20-05-2026

Abu Ibrahim Junaedi.

 

 


 

 

Rabu, 13 Mei 2026

MUJMAL USUL AHLISUNNAH WAL JAMA'AH. BAB 1 NO 4 ISLAM SUDAH SEMPURNA

                                                       

BAB 1 PRINSIP DIDALAM MENGAMBIL DALI DAN BERDALIL, NO 4. 

 

٤- أُصُولُ الدِّينِ كُلُّهَا قَدْ بَيَّنَهَا النَّبِيُّ ﷺ وَلَيْسَ لِأَحَدٍ أَنْ يُحْدِثَ شَيْئًا زَاعِمًا أَنَّهُ مِنَ الدِّينِ.

4.Seluruh pokok agama telah dijelaskan oleh Nabi, dan tidak seorang pun berhak mengada-adakan sesuatu dengan mengklaimnya sebagai bagian dari agama.

Penjelasan:

1.   Islam adalah agama yang sudah sempurna.

Semua pokok-pokok agama ini telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana hal itu telah dinyatakan di dalam firman Allah ta’ala:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا.

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Ma’idah [5] : 3).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ.

“Aku tinggalkan kalian dalam keadaan terang-benderang, siangnya seperti malamnya. Tidak ada yang berpaling dari keadaan tersebut kecuali ia pasti celaka.” (HR. Ahmad 17142, Ibnu Majah 43, Thabrani 619, disahihkan Syaikh al-Albani di Shahihul Jami’ 4369).

إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ، وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ.

“Sesungguhnya  tidak ada seorang nabi pun sebelumku kecuali wajib atasnya menunjukkan kepada umatnya kebaikan yang ia ketahui dan mengingatkan mereka kejelekan yang ia ketahui.” (HR. Muslim 1844, Ahmad 6793, Sunan Ibnu Majah 3956).

2.   Para sahabat juga mengakui kesempurnaan Islam.

 Dari Abu Dzar radiyallahu’anhu berkata:

تَرَكْنَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا طَائِرٌ يُقَلِّبُ جَنَاحَيْهِ فِي الْهَوَاءِ إِلَّا وَهُوَ يُذَكِّرُنَا مِنْهُ عِلْمًا قَالَ: فَقَالَ: صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ

ويُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلَّا وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ.

“Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat meninggalkan kami dan tidaklah ada burung yang mengepak-ngepakkan kedua sayapnya di udara kecuali beliau telah menyebutkan kepada kami ilmunya.” Dia berkata, Rasulullah sallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak tersisa suatu (amalan) pun yang dapat mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali sudah dijelaskan semuanya kepada kalian.”(HR. Ahmad no. 21439, ath-Thabrani dalam al Mu’jamul Kabir no. 1647, disahihkan Syaikh al-AlBani di dalam ash-Shahihah 1803).

Dari Salman Radhiyallahu anhu, beliau berkata:

قِيلَ لَهُ: قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ قَالَ: فَقَالَ: أَجَلْ.

“Orang-orang musyrik telah bertanya kepada kami, ‘Sesungguhnya Nabi kalian sudah mengajarkan kalian segala sesuatu sampai (diajarkan pula adab) buang air besar!’ Maka, Salman radhiyallahu anhu menjawab, ‘Ya’. (HR. Muslim 262, at-Tirmidzi 16).

3.   Larangan berbuat bid’ah di dalam agama.

Dafinisi bid’ah secara bahasa yaitu: mengadakan satu perkara tanpa ada contoh sebelumnya. (Al Mu’jam Al Wasith, 1/91).

Hal ini sebagaimana di sebutkan Allah ta’ala di dalam firman-Nya:

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ.

“Dialah Allah Pencipta langit dan bumi.” (Al-Baqarah [2]: 117).

Yakni menciptakan tanpa contoh sebelumnya.

قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِّنَ الرُّسُلِ.

Katakanlah (Muhammad), “Aku bukanlah Rasul yang pertama di antara rasul-rasul.” (QS. Al-Ahqaf [46]:9).

Maksud ayat ini, “ AKu bukan bukan pertama membawa risalah kepada hamba-hamba-Nya, tetapi telah banyak para Rasul yang telah mendahului saya.

Adapun definisi bid’ah secara istilah yang paling lengkap adalah apa yang tulis oleh Imam Asy Syatibi dalam kitabnya Al I’tisham. Beliau mengatakan, bid’ah yaitu:

عِبَارَةٌ عَنْ طَرِيْقَةٍ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا المُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُدِ للهِ سُبْحَانَهُ.

“Sebuah ungkapan pada tatacara di dalam beragama yang dibuat-buat menyerupai syari’at (yang tidak ada dasarnya), dimaksudkan melakukan hal itu untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah ta’ala.” (Al-I’tisam hal 31-32, Imam Asy-Syatibi).

Dari definisi di atas jelaslah, banyak amalan-amalan yang dianggap benar kemudian di amalkan saudara-saudara kita yang di atas namakan bagian ajaran islam, namun Rasulullah dan para sahabatnya tidak pernah melakukan hal itu, dan tidak ada dasarnya di dalam agama ini.

4.   Allah memerintahkan mengikuti dan mentaati Rasul-Nya.

Allah ta’ala berfirman:

مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَاعَ اللّٰهَ ۚ وَمَنْ تَوَلّٰى فَمَآ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا ۗ

“Siapa yang menaati Rasul (Muhammad), maka sungguh telah menaati Allah..(QS. An-Nisa[4]:80).

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

”Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab[33]:71).

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا.

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr [59]: 7).

Ibnu Katsir mengatakan: “Yakni apa pun yang diperintahkan oleh Rasul kepada kalian, maka kerjakanlah; dan apa pun yang dilarang olehnya, maka tinggalkanlah. Karena sesungguhnya yang diperintahkan oleh Rasul itu hanyalah kebaikan belaka, dan sesungguhnya yang dilarang olehnya hanyalah keburukan belaka.” (Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Hasyr [59]: 7).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ,  وفي رواية لمسلم : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ .

“Barang siapa yang membuat perkara baru dalam urusan agama yang tidak ada perintah dari kami maka tertolak.” Dalam riwayat Muslim, “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka tertolak.” (HR. Bukhari 2697, Muslim 1718).

فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.

“Karena setiap perkara yang baru (yang diada-adakan dalam perkara agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Ahmad 17144, Ibnu Majah 42, Abu Dawud 4607 dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam as-Shahihah 937).

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ.

“Apa yang telah kularang kalian darinya, maka jauhilah. Dan apa yang kuperintah kepada kalian, maka laksanakanlah semampu kalian.” (HR. Bukhari 7288, Muslim 1337)

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى.

“Setiap umatku akan masuk ke dalam surga kecuali yang enggan. Mereka para sahabat bertanya, “Siapa yang enggan?” Beliau berkata, “Barangsiapa mentaatiku dia masuk ke dalam surga, dan barangsiapa bermaksiat padaku maka dia telah enggan.”(HR. Bukhari 7280, Ahmad 8714).

Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً.

“Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.” (Syarah I’tiqad Ahli Sunnah wal Jama’ah 126. Abul Qasim Al-Lalikai).

5.   Perbuatan bid’ah merugikan pelakunya di dunia dan akhirat.

Banyak dari saudara kita kaum muslimin yang tidak menyadari bahwa amalan bid’ah membahayakan agama mereka, menyia-nyiakan harta, tenaga dan waktu mereka.

Allah ta’ala berfirman:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا.

“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya” (QS. Al Kahfi [18]: 103-104).

Ali bin Abi Thalib berkata: “Sesungguhnya makna ayat ini bersifat umum mencakup semua orang yang menyembah Allah bukan melalui jalan yang diridhai. Orang yang bersangkutan menduga bahwa jalan yang ditempuhnya itu benar dan amalnya diterima, padahal kenyataannya dia keliru dan amalnya ditolak.” (Tafsir Ibnu Katsir QS. AL-Kahfi [18]:104).

6.   Pelaku bid’ah seakan telah mensejajarkan dirinya dengan Tuhan.

Orang yang berbuat bid’ah tidak menyadari bahwa mereka telah mensejajarkan dengan Tuhan dalam membuat syari’at.

Allah ta’ala berfirman:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ.

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syuura [42] : 21).

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ.

Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam. (QS. AL-A’raf [7]:54).

Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata: “Barangsiapa yang menganggap baik (suatu bid’ah) maka dia telah membuat syariat.”

مَن اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ

“Barangsiapa yang menganggap baik sesuatu (menurut pendapatnya), sesungguhnya ia telah membuat syari’at” (Al-Jami’us Shahih Lissunnani wal Masanid 5:34, Shuhaib ‘Abdul Jabbar).

7.   Bid’ah lebih dicintai iblis dari pada maksiat.

Allah ta’ala berfirman:

وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ.

"Dan Syetan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan." (QS. Al-An'am: 43)

Yaitu kemusyrikan, keingkaran, dan perbuatan-perbuatan maksiat. (Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-An’am [6]:43).

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ. وَاِنَّهُمْ لَيَصُدُّوْنَهُمْ عَنِ السَّبِيْلِ وَيَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ مُّهْتَدُوْنَ.

Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sungguh, mereka (setan-setan itu) benar-benar menghalang-halangi mereka dari jalan yang benar, sedang mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (QS. Az-Zukhruf [35]: 36-37).

Yakni orang ini yang berpaling dari kebenaran, Kami adakan baginya setan-setan yang menyesatkan dirinya dan menunjukkan kepadanya jalan ke neraka Jahim.(Tafsir Ibnu Katsir QS Az-Zuhruf [43]: 36-37).

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu berkata:

الْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيسَ مِنَ الْمَعْصِيَةِ، الْمَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا، وَالْبِدْعَةُ لَا يُتَابُ مِنْهَا.

Bid’ah lebih dicintai oleh Iblis daripada maksiat. Hal ini karena perbuatan maksiat (pelakunya) bertaubat darinya sedangkan bid’ah (pelakunya) tidak mau bertaubat (karena tidak merasa bersalah).

8.   Perkara dunia tidak termasuk bid’ah yang dimaksud agama.

Di dalam salah satu kaidah fikih yang di pegang oleh jumhur ulama termasuk kalangan Syafi’iyah yaitu:

الْأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءِ الْإِبَاحَةَ.

“Hukum segala sesuatu itu asalnya boleh.” (Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah Wa Tathbiqatuha Fi Al-Madzhab Asy-Syafi’i, karya Dr. Muhammad Az-Zuhaili, Juz 2, Hlm. 59-62).

الْأَصْلُ فِي الْعِبَادَاتِ الْحَظْرُ وَ الْأَصْلُ فِي الْعَادَاتِ الْإِبَاحَةُ.

“Pada dasarnya ibadah itu terlarang, sedangkan adat (kebiasaan yang tidak bertentangan dengan agama) itu dibolehkan.”

Syaikh As Sa'di dalam Al Qawa'id wal Ushul Jami'ah halaman 30 menjelaskan bahwa ibadah adalah semua yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, baik perintah yang bersifat wajib ataupun sunnah. (Lihat pula Syarah Qawaid Sa'diyyah abdul Muhsin Az Zamil hlm: 65). (Dinukil dari Al-Qawa’idu Al-Fiqhiyah, Ahmad Sabig bin Abdul latif Abu Yusuf).

Dari kaidah di atas para ulama menjelaskan, bahwa tentang kemajuan jaman seperti, hp, mobil pesawat, motor dan sarana lainnya hal itu di bolehkan, berdasarkan firman Allah ta’ala:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا.

“Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu” (QS. Al-Baqarah [2]: 29).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ.

Kamu lebih mengetahui tentang urusan dunia kamu.” (HR. Muslim 2363).

9.   Pelaku bid’ah akan di usir dari telaga Rasulullah.

Disebutkan dalam sebuah hadits, bahwa para pelaku bid’ah nanti mendekat ketelaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tapi mereka diusir.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَأَقُولُ: أَيْ رَبِّ أَصْحَابِي، فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَ تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ.

“... (ketika aku hendak memberi mereka minum, mereka dijauhkan dariku). Maka aku berkata: ‘Wahai Rabbku, mereka sahabatku.’ Lalu dikatakan: ‘Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan setelahmu.’”(Mutafaqun ‘alaih).

10.                     Sunnah akan menyelamatkan pelakunya di dunia dan akhirat.

Oleh karena itu Allah ta’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ.

Katakanlah, "Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian," Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Imran [3]: 31)

     يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا  اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا .

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar mengimani Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-nisa [4]: 59)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ.

“Aku telah tinggalkan pada kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Keduanya tidak akan terpisah sehingga bertemu denganku di telaga.” (HR. Al-Hakim 319, di dalam “Al-Mustadrak ‘ala Shahihain” Hadis ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani di dalam Sahihul Jami’ 2937).

Demikianlah semoga bermanfaat.

 

-----000-----

Sragen 13-05-2026

Abu Ibrahim Junaedi

 


ADAB SEORANG MUSLIM DALAM BEKERJA DAN MENCARI REZEKI.

  BAB 6 ADAB SEORANG MUSLIM DALAM BEKERJA.   Seorang muslim hendaknya memiliki adab dan prinsip yang baik di dalam bekerja dan mencari rez...