Senin, 10 Juli 2023

ANAK SHALIH HARAPAN ORANG TUA


Setiap orang tua pasti mengharapkan anaknya menjadi anak yang shalih dan shalihah, karena anak yang shalih dan shalihah merupakan aset yang tak bisa dibandingkan dengan materi, oleh karena itu banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah bagaimana keutamaan memiliki anak yang shalih, sampai-sampai para nabi dan Rasul mereka meminta kepada Allah ta’ala, di antara keutamaan tersebut yaitu:

1.   Anak shalih akan menjadi penyejuk hati.

Allah ta'ala berfirman:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al Furqan[25] : 74).

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: يَعْنُونَ مَنْ يَعْمَلُ بِالطَّاعَةِ، فتقرُّ بِهِ أَعْيُنُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

Berkata Ibnu Abbas, “ Yakni mereka beramal ketaatan sehingga mereka menjadi penyejuk mata di dunia dan akhirat.” (Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Furqan[25]:74).

2.   Anak shalih menjadikan pahala tetap mengalir bagi orang tuanya.

هَلْ جَزَاۤءُ الْاِحْسَانِ اِلَّا الْاِحْسَانُۚ

" Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula)." (QS. Ar-Rahman[55]:60.

   Berkata Ibnu Katsir, "Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula) diakhiratnya." (QS. Ar-Rahman [55]:60).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ.

"Apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakan kepadanya." (HR. Muslim 1631, Tirmidzi 1376).

إِنَّ مِنْ أَطْيَبِ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ وَوَلَدُهُ مِنْ كَسْبِهِ.

“Sesungguhnya yang paling baik dari makanan seseorang adalah hasil jerih payahnya sendiri. Dan anak merupakan hasil jerih payah orang tua.” (HR. Abu Daud 3528, Ibnu Majah 2290, Baihaqi 15743, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam shahih Ibnu Majah 2137).

Betapa besarnya pahala seseorang apabila mendidik anaknya menjadi anak shalih dan shalihah, kemudian anak-anak tersebut berdakwah dan mengajarkan kebaikan, begitu pula memiliki anak-anak lagi dan demikian seterusnya, inilah aset yang tak bisa dibandingkan dengan harta.

3.   Anak shalih akan menemani di dunia dan kelak di akhirat.

Allah ta’ala berfirman:

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ.

“(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama orang-orang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya.” (QS. Ar-Ra‘du[13]: 23)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: “Allah menghimpunkan mereka bersama kekasih-kekasih mereka di dalam surga, yaitu bapak-bapak mereka, keluarga mereka, dan anak-anak mereka yang layak untuk masuk surga dari kalangan kaum mukmin, agar hati mereka senang. Sehingga dalam hal ini Allah mengangkat derajat orang yang berkedudukan rendah ke tingkat tinggi sebagai anugerah dari-Nya dan kebajikan-Nya, tanpa mengurangi derajat ketinggian seseorang dari kedudukannya. Hal ini sama dengan yang diungkapkan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ.

“Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga).” (QS. Ath-Thur[52]: 21),

4.   Anak shalih akan meninggikan derajat orang tuanya di surga.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ: أَنَّى هَذَا؟ فَيُقَالُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ.

“Sungguh seorang akan ditinggikan derajatnya di surga, maka dia bertanya, ‘Bagaimana aku bisa mencapai semua ini? Maka dikatakan padanya: (Ini semua) disebabkan istigfar (permohonan ampun kepada Allah yang selalu diucapkan oleh) anakmu untukmu.(HR. Ibnu Majah 3660, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Ash-Shahihah 1598).

5.   Anak shalih akan memberikan manfaat kepada manusia.

Mereka akan mewarnai manusia dengan kebaikan menghentikan keburukan dan kedzoliman, dan menjadi peantara hidayah bagi manusia.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ الناسِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Thabrani al-Mu’jam al-Awasath 6/52, Dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam shahihul jami’ 3289, Ash-Shahihah 427).

Setelah kita mengetahui betapa besarnya pahala memiliki anak yang shalih dan salihah kemudian apa yang harus kita lakukan..?

Apakah hal itu akan terjadi begitu saja…?

Dari sinilah hendaknya setiap orang tua memahami dan mengusahakan.

1.   Berdoa kepada kepada Allah dengan penuh kesabaran.

Orang tua memiliki doa yang mustajab hendaknya tidak menyia-nyiakan agar memohon kepada Allah ta’ala, janganlah seseorang meninggalkan dua perkara yaitu berusaha dan berdoa.

Nabi Ibrahim ‘alaihi sallam memohon kepada Allah agar di beri anak yang Shalih, beliau terus memohon kepada Allah ta’ala hingga umur 86 tahun baru Allah karuniai anak kepada beliau. (Qashasul Anbiya, kisah nabi Ibrahhim).

Allah ta’ala berfirman:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ . فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ.

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh. Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail).” (QS. Ash-Shafat[37]: 100-101).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ : دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِه.

Ada tiga doa yang mustajab tanpa diragukan lagi: doa orang yang terzalimi doa orang yang sedang safar doa orang tua kepada anaknya” (HR. Ahmad 7510, Tirmidzi 1905, Abu Daud 1536, dihasankan Syaikh al-Albani di dalam Ash- Shahihah 596).

Banyak orang tua yang tidak memahami permasalahan ini, dimana seharusnya mereka banyak-banyak mendoakan anaknya dengan kebaikan namu tidak mau mendoakan, yang lebih menyedihkan, apabila anak tak sesuai yang diharapkan justru didoakan keburukan.

2.   Mengajarkan perkara yang paling penting baru yang penting.

Para nabi dan para rasul mereka menanamkan keyakinan yang benar kepada anak-anak mereka terlebih dahulu sebelum yang lainnya.

Allah ta’ala berfirman:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ.

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ”Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” ( QS. Lukman[31]:13).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam juga menekankan hal ini, kepada anak paman beliau yaitu Ibnu Abbas.

يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ.

“Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untaian kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi 2516, di shahihkan Syaikh al-Albani di dalam shahih Tirmidzi 2043).

Setelah mengajarkan keimanan kepada anak, hendaknya diajarkan Al-Qur’an, tata cara wudhu’, ibadah shalat, puasa, bagaimana beradab yang baik, berakhlak yang baik, dan bermuamalah secara umum yang baik.

Dari sahabat Jundub bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu beliau mengatakan:

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ. فَتَعَلَّمْنَا الإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ القُرْآنَ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا القُرْآنَ؛ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا.

“Dahulu, kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sedang pada saat itu kami merupakan sosok pemuda-pemuda yang mendekati usia balig Kami belajar iman sebelum mempelajari Al-Qur`an. Kemudian kami mempelajari Al-Qur`an, maka dengan begitu bertambahlah keimanan kami.” (HR. Ibnu Majah 61, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam shahih wa dha’if Sunan Ibnu Majah 61).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam menasehati anak kecil ketika makan, sahabat Umar bin Abi Salamah radhiallahu’anhuma  menceritakan:

كُنْتُ غُلاَمًا فِي حِجْرِ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَتْ يَدِي تَطِيشُ فِي الصَّحْفَةِ، فَقَال لِي رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ، وَكُل بِيَمِينِكَ، وَكُل مِمَّا يَلِيكَ.

Sewaktu aku masih kecil, saat berada dalam asuhan Rasulullah Shallallahu‘alaihi wasallam, pernah suatu ketika tanganku ke sana ke mari (saat mengambil makanan) di nampan. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku: “wahai bocah, ucaplah bismillah dan makanlah dengan tangan kananmu, serta ambil makanan yang berada di dekatmu”. (HR. Bukhari 5376, Muslim 2022 ibnu Majah 3267).

3.   Memberi teladan yang baik kepada anak.

Pada dasarnya setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, termasuk anak kita, kemudian orang didekatnyalah yang akan mempengaruhi anak tersebut, baik orang tua, teman, guru, maupun lingkungan dimana anak tersebut tumbuh.

Rasululah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Tidaklah setiap anak kecuali dia dilahirkan di atas fitrah, maka bapak ibunyalah yang menjadikan dia Yahudi, atau menjadikan dia Nasrani, atau menjadikan dia Majusi.” (HR. Bukhari 1358 dan Muslim 2658).

Orang tua merupakan salah satu figure yang memiliki pengaruh besar terhadap anaknya, oleh karena itu hendaknya selalu menjaga agamanya, akhlaqnya, dan semua bentuk ucapannya, karena semua itu akan diperhatikan dan ditiru oleh anaknya.

Orang tua juga harus menjaga janjinya, berkata benar, memiliki sopan santun dan beradab dengan apa yang diajarkan islam, sebaliknya orang tua wajib menjahui ucapan-ucapan kotor, bersikap keras, kaku, kasar dan perbuatan buruk lainnya.

Lihatlah bagaimana ucapan nabi Ibrahim tatkala di perintahkan kepada beliau untuk menyembelih anaknya, beliau berkata-kata dengan penuh kasih sayang, namun disisi lain tetap tegar di dalam menjalankan perintah Allah, sebagaimana firman Allah ta’ala :

قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى.

(Ibrahim) berkata: "Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.?" (QS.As Shafat[37]: 102).

Ketika nabi Ibrahim mengajarkan aqidah yang benar, berkata yang baik, benar, kehidupannya dipenuhi dengan ketaatan dan ketaqwaan maka hasilnya luar biasa, sebagaimana firman Allah ta’ala:

قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ.

Dia (Isma’il) menjawab: "Wahai ayahku, Lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar." (QS.As Shafat[37]: 102).

Demikianlah hasil dari meneladani orang tuanya dengan keimanan yang kuat terhadap Allah ta’ala, dan berbaktinya kepada rang tua.

4.   Bersabar ketika menghadapi anak.

Orang tua hendaknya bersabar untuk menanamkan kebaikan kepada anak, hingga anak benar-benar memahami dengan baik dan mengamalkannya.

Allah ta’ala berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا.

Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mengerjakan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.“ (QS. Thaha [20]: 132)

Dahulu umar ibnul Khatab biasa bangun malam dan membangunkan keluarganya seraya membacakan ayat di atas. (40 Nasehat memperbaiki rumah tangga, syaikh Dr. Muhammad bin Shalih al-Munajid).

 

Orang tua bersabar terhadap anaknya:

1)   Sabar di dalam mendidik kebaikan.

2)   Sabar di dalam memberi jawaban dan menjelaskan.

3)   Sabar menemani dan menjadi teman yang baik.

4)   Sabar menjadi pendengar yang baik.

5)   Sabar ketika anak marah dan berbuat menyakitkan, semua itu dilakukan agar anak mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, demikian pula agar anak tidak jauh dengan orang tuannya.

hendaknya orang tua terus-menerus membimbingnya dengan penuh kasih sayang, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ مِنَّا؛ مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا.

“Bukanlah termasuk golongan kami, orang yang tidak menyayangi anak kecil.” (HR. Ahmad 6733, Tirmidzi 1919 dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Ash-Shahihah 2196).

 

5.   Mencukupi kebutuhan dan fasilitas yang diperlukan.

 

Hendaknya orang tua memberi apa yang dibutuhkan oleh anak, baik itu tempat tinggal nyaman, makan dari yang halal, pakaian dan sarana yang dibutuhkan lainnya, hendaknya orang tua memahami bahwa anak merupakan tanggung jawab orang tua, karena anak merupakan bagian dari darah dagingnya, berbuat baik kepada anak tak ubahnya berbuat baik untuk diri sendiri, sebagaimana di atas disebutkan pahala anak akan tetap mengalir kepada orang tua, baik masih hidup maupun sudah meninggal.

Allah ta’ala berfirman:

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ.

Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri” (QS. Al-Isra[17]:7).

Sebagai orang tua hendaknya menyadari hal ini, tidak mengeluhkan apalagi lepas tanggung jawab, sudah semestinya orang yang akan memanen diawali dengan bersusah payah menanam, terlebih kenikmatan yang akan didapat (In syaa Allah) adalah surga yang abadi.

Anak yang sedang belajar kondisinya juga sedang berjuang, seandainya mereka terganggu baik kasih sayangnya, tempat tinggalnya atau kebutuhannya, seperti buku dan alat tulis tunggakan, mereka bisa stres, futur(hilang semangat belajar) dan putus asa, dari sinilah banyak sekali anak yang berhenti sekolah.

Sebagai orang tua hendaknya yakin apa yang kita berikan itu merupakan infaq yang paling baik, dan akan Allah balasi dengan yang lebih baik.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ.

“Ada dinar yang kamu infakkan di jalan Allah, dinar yang kamu infakkan untuk memerdekakan budak dan dinar yang kamu sedekahkan kepada orang miskin. Namun dinar yang kamu keluarkan untuk keluargamu (anak-isteri) lebih besar pahalanya.” (HR. Ahmad 10119, Muslim 995 dengan lafad Muslim).

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ العِبَادُ فِيهِ، إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ، فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.

“Setiap datang waktu pagi, ada dua malaikat yang turun dan keduanya berdoa. Malaikat pertama memohon kepada Allah, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang memberi nafkah’, sementara malaikat satunya berdoa, ‘Ya Allah, berikan kehancuran bagi orang yang pelit.” (HR. Bukhari 1442 Muslim 1010).

Imam Syafi’i rahimahullah menjelaskan diantara yang harus dimiliki penuntut ilmu, beliau berkata:

أَخي لَن تَنالَ العِلمَ إِلّا بِسِتَّةٍ  سَأُنبيكَ عَن تَفصيلِها بِبَيانِ  .ذَكاءٌ. وَحِرصٌ. وَاِجتِهادٌ. َبُلغَةٌ.وَصحبَةُ أُستاذٍ وَطولُ زَمانِ.

“Saudaraku, tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan enam perkara yang akan saya beritahukan perinciannya yaitu: kecerdasan, semangat, sungguh-sungguh, berkecukupan, bersahabat (belajar) dengan ustadz (guru), dan membutuhkan waktu yang lama.” (Diwan As-Syafi’i).

6.   Menjauhkan perkara yang bisa membahayakan.

Orang tua hendaknya menjauhkan apa saja yang dapat membahayakan badan maupun agama anaknya, seperti bahayanya acara televisi dimana di dalamnya berbagai macam acara yang merusak aqidah maupun akhlaq, begitupula  penggunaan hp, motor, mobil yang belum saatnya, bermain petasan, game semua ini bisa membahayakan agama dan badanya, menjadikan malas untuk beribadah dan belajar.

Allah ta’ala berfirman:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا.

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan” (QS. Maryam[19]:59).

Selain hal itu membahayakan diri sendiri juga dapat membahayakan orang lain, setiap perkara yang bisa membahayakan anak dan orang lain dilarang oleh islam.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain.” (HR. Ahmad 2865, Ibnu Majah 2340, Thabrani al-Mu’jam al-Aushath 1033, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ 7517).

Seorang ayah tidak boleh membiarkan anaknya dalam bahaya.

7.   Mencarikan teman yang baik dan menjauhkan teman yang buruk.

Besarnya fitnah di jaman kita ini mengharuskan seorang ayah memperhatikan teman-temannya, sungguh miris ketika mendengar kabar ratusan siswi hamil di luar nikah, atau puluhan anak meninggal disebabkan minum oplosan, bahkan sebagiannya kecanduan narkoba.

Disinilah peran orang tua dibutuhkan, jangan merasa aman dari fitnah tersebut, hendaknya memilihkan dan memperhatikan teman anaknya.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ.

Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).” (QS. At-Taubah[9]:119)

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ.

“Seseorang itu mengikuti agama teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaknya seseorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dia jadikan teman dekat.” (HR. Abu Dawud, 4833;Tirmidzi, 2378. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani di dalam Shahihu Al-Jami’ 3545).

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ.

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi.” (HR. Bukhari 5534,  Muslim 2628).

Ibrahim al-Khawwash rahimahullah berkata:

دَوَاءُ الْقَلْبِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ: قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ، وَخَلَاءُ الْبَطْنِ، وَقِيَامُ اللَّيْلِ، وَالتَّضَرُّعُ عِنْدَ السَّحَرِ، وَمُجَالَسَةُ الصَّالِحِيْنَ.

“Penawar hati itu ada lima : membaca al-Qur’an dengan tadabbur (perenungan), kosongnya perut (dengan puasa-pen), qiyamul lail (shalat malam), berdoa di waktu sahar (waktu akhir malam sebelum Shubuh), dan duduk bersama orang-orang shalih”. (Al-Adzkar karya Al-Imam an-Nawawi, hal. 107; Tahqiq: Syu’aib al-Arnauth)

8.   Memilihkan guru yang baik.

Guru yang baik merupakan salah satu pondasi untuk membangun karakter seorang anak, dari guru yang baik anak kita akan meneladaninya.

Adapun karakter guru yang baik yaitu:

1)   Ikhlas semata-mata karena Allah di dalam mendidik muridnya.

2)   Jujur, jujur merupakan mahkota seorang guru.

3)   Selaras antara ucapan dan perbuatannya.

4)   Bersikap adil terhadap sesama muridnya.

5)   Berhias dengan ahklaq mulia dan terpuji.

6)   Tawadhu’ tidak menyombongkan dirinya.

7)   Pembrani, untuk mengatakan kebenaran dan menerima kritikan.

8)   Pandai bercanda tanpa berlebihan terhadap anak didiknya.

9)   Sabar dan mampu menahan emosi.

10)         Menghindari perkataan yang keji dan tidak pantas. ( Al-Mu’allim al-Awwal, (Qudwah li kulli mu’alim wal mu’allimah)).

Demikian ini kriteria yang hendknya dimiliki seorang guru, meskipun demikian kita tidak boleh memiliki pandangan bahwa guru itu tidak boleh salah, mereka adalah manusia terkadang salah, kewajiban orang tua tetap membimbing dan memperhatiakan anaknya tidak serta merta semua diserahkan gurunya.

9.   Anak merupakan amanah yang harus ditunaikan sebaik-baiknya.

Anak kita merupakan amanah yang  kelak di akhirat akan dimintai tanggung jawab.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu...” (QS. At-Tahrim[66]:6)

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ.

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan.” (QS Al Anfal[8]:28).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ.

Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. (HR. Bukhari 2554, Muslim 1829).

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ.

“Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa karena ia telah menyia-nyiakan orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.” (HR Ahmad 6828, Abu Daud 1692 An-Nasa’i 1072 dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam shahih Abu Dawud 1485).

Sungguh merupakan dosa besar apabila orang tua menyia-nyiakan anak-anaknya.

10.     Keberhasilan membutuhkan kesungguhan.

Bila orang tua bersungguh-sungguh dalam mendidik anaknya, Allah akan mudahkan bagi orang tersebut.

Allah ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا.

"Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." ( QS. Al-Ankabut[29]:69).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ، أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ، وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ.

"Beramallah kalian, karena masing-masing akan dimudahkan menggapai apa yang diciptakan untuknya, barang siapa yang termasuk ahli surga, pasti Allah mudahkan melakukan amalan penghuni surga, dan barang siapa yang termasuk penghuni neraka, pasti Allah mudahkan melakukan amalan penghuni neraka."  ( HR. Bukhari 4949, Muslim 2647).

Demikianlah barang siapa bersungguh-sungguh pasti Allah akan beri kemudahan, semoga Allah ta’ala memberi kemudahan kepada kita di dalam mengemban amanah ini, sehingga kita semua bisa berkumpul di surga nanti bersama orang tua kita, anak istri kita, dan cucu-cucu kita  Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.

 

 

Sragen 10-07-2023.

Abu Ibrahim, Junaedi Abdullah.

 

 

Kamis, 06 Juli 2023

MEWUJUDKAN BAHAGIA LAHIR DAN BATIN.

MEWUJUDKAN BAHAGIA LAHIR DAN BATIN.

Bagaimana kita mewujudkan bahagia lahir batin.

Setiap orang menghendaki untuk bahagia lahir batin, namun banyak yang tidak dapat mewujudkannya.

Hendaknya memahami hal-hal berikut ini:

1.                     Memperbaiki perkara internal (dalam rumah).

Dimana hal ini mencakup :

1)                Perbaikan ubudiah (ibadah) kepada Allah.

Seseorang takkan bisa medapatkan kebahagiaan apa bila menyampingkan hal ini.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS.Thaha[20]:124).

Ini mencakup perbaikan aqidah yang benar, ibadah, adab, dan lain-lain.

Begitu pula tidak lepas dari tiga hal:

1.                     Bersyukur ketika mendapatkan nikmat.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, Maka Hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An Nahl [16]:53)

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim [14]:7).

2.                Bersabar ketika mendapatkan ujian.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ.

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah[2]:155).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim 2999).

 

3.                     Bertaubat jika tergelincir di dalam maksiat.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya.” (QS.At-Tahrim[66]:8).

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

“Kecuali mereka yang telah bertaubat, mengadakan perbaikan dan menjelaskan(nya). Mereka itulah yang Aku terima taubatnya, dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”(QS Al-Baqarah[2]: 160).

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ.

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui. (QS. Al-Imran[3]:135).

Jika hal ini tidak dilakukan niscaya akan mengenainya musibah, baik mengenai harta, badan, maupun agama.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ.

”Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad 4: 145. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan dilihat dari jalur lain).

Allah Ta’ala berfirman,

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُون.

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’am [6]: 44)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) .

“Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah “ar raan” yang disebutkan Allah di dalam firman-Nya, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.”(QS. Al-Mutaffifin[83]:14) (HR Tirmidzi 3334, Ibnu Majah 4244,  dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam As-Shahihul Jami’ 1670).

Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah dosa di atas tumpukan dosa sehingga bisa membuat hati itu gelap dan lama kelamaan pun mati.” Demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, Ibnu Zaid dan selainnya.

Banyak orang yang meremehkan dosa yang mereka selalu mengulur-ulur untuk bertaubat akhirnya mereka mati dalam keadaan su’ul khatimah, sebagaimana firman Allah ta’ala:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ.

“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putusasa. (QS. Al-An’am[5]:44)

2)                    Perbaikan muamalah terhadap sesama anggota keluarga.

Hal ini mencakup komunikasi yang baik, menunaikan hak dan kewajiban setiap anggota keluarga.

أَلاَ إِنَّ لَكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ حَقًّا وَلِنِسَائِكُمْ عَلَيْكُمْ حَقَّا.

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kalian memiliki hak atas isteri-isteri kalian dan isteri-isteri kalian juga memiliki hak atas kalian.” (HR Tirmidzi 1163, dihasankan syaikh al-Albani di dalam Sunan Ibni Majah 1851)

Memberi nasehat yang baik, dan juga memerintahkan untuk berakhlaq yang baik.

Allah ta’ala berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ.

“Sungguh, kamu mempunyai akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam [68]: 4).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ.

“sesungguhnya Allah itu lembut, mencintai kelembutan.” (HR, Bukhari 6927).

Dari Aisyah bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إذاَ أرَادَ الله بأِهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا أدْخَلَ عَلَيْهِمُ الرِّفْقَ .

“Jika Allah menghendaki suatu keluarga kebaikan maka Allah memasukkan kepada mereka sikap lemah lembut.” (HR Ahmad 6/71, 104)

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ.

"Tidak ada sesuatupun yang lebih berat dalam timbangan (amalan) seorang mukmin pada hari kiamat dari pada akhlaq yang mulia." (HR. Tirmidzi 2002, di hasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Tirmidzi 2/194)

 

2.                     Meperbaiki perkara external. (Luar rumah).

Selain menunaikan kewajiban kita kepada orang-orang yang memiliki haq, juga berlaku baik dengan yang orang lain.

Diantaranya :

 

1).     Bermuamalah kepada orang lain yang baik.

Allah ta’ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ.

“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al Nahl[16]:97).

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ.

“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata, “Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu.” Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa. Dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya.” ( QS Al-Baqarah[2]:25).

2).     Bersedekah kepada fakir miskin.

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah[2]:261).

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ.

“Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim 2588).

 


Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.

“Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa, “Ya Allah berikanlah ganti pada orang yang berinfak.” Malaikat yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah.” (HR. Bukhari 1442 Muslim 1010).

3).     Berteman dengan orang-orang yang baik.                                   

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah [9]:119).

 

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ.

“Seseorang bisa dilihat dari perilaku beragama sahabatnya. Hendaklah kalian memperhatikan bagaimana sahabatmu dalam beragama.” (HR Ahmad 8417, Tirmidzi 2378, Abu Dawud 4833, di shahhiihkan Syaikh al-Albani di dalam Ash Shahihah 927).

 

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ.

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi.” (HR. Bukhari 5534,  Muslim 2628).

 

4).     Menghadiri tempat-tempat yang dimuliakan .

          5).     Mengunjungi orang-orang yang shalih.

 6).    Memberi maaf dan meminta maaf terhadap kesalahan kita.

Allah ta’ala berfirman:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّـهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ.

“…Orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS  Al-Imran[3]: 134).

Demikianlah sedikit tulisan ini untuk mewujudkan kebahagiaan lahir maupun batin. Semoga bermanfaat aamiin ya rabbal ‘alamiin.

 

 

 

Sragen 06-Juli 2023.

 

Junaedi Abdullah.

 

Selasa, 27 Juni 2023

BERLEBARAN MENGIKUTI SAUDI...?SIMAK BERIKUT INI.



Penting .....!!!!
Tidak untuk orang yang fanatik.

Pertanyaan dari jama'ah:
Bagaimana hari raya yang benar mengikuti Saudi atau Indonesia .
Jawab: 
Puasa Arofah mengikuti Saudi dengan rukyah negara Saudi, namun untuk perbedaan negri hendaknya dengan mengikuti ruk'yah negri mereka masing-masing  demikianlah kebanyakan yang difatwakan para ulama. 
Sebagian kaum muslimin menyandarkan perbuatan mereka dengan mengikuti hisab dan persamaan hari lebaran dengan Saudi Arabia tanpa dirinci, kemudian perbuatan itu diklaim telah mengikuti Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam.
Tentu ini adalah subhat yang perlu untuk dijelaskan, karena hal itu sebenarnya bersebrangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah sallallahu alai wa sallam itu sendiri.

Diantaranya:

  1) Mereka memulai dan mengakhiri puasa serta berhari raya dengan mengikuti hisab atau ilmu falaq.

Padahal telah jelas bahi kita, dimana kita diperintahkan Allah ta'ala dan Rasul-Nya dengan melihat hilal (bulan) bukan hisab.
Lihat firman Allah ta'ala:
فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
“Karena itu, barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan (di negeri tempat tinggalnya), maka hendaklah ia berpuasa pada bulan tersebut.” (QS. Al Baqarah [2]: 185)

Rasulullah sallallahu alaihi wa salam bersabda:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا العِدَّةَ

“Berpuasalah karena melihat hilal, begitu pula berhari rayalah karena melihatnya. Apabila kalian tertutup mendung, genapkanlah bulan tersebut” (Muttafaqun 'alaih).

  2) Bisa jadi mereka lupa jika Allah ta'ala itu memiliki sifat Al-Aliim (maha mengetahui), baik perkara yang sedang terjadi, akan terjadi dan belum terjadi seandainya hal itu terjadi, termasuk ilmu falak (hisab) yang akan diketahui oleh manusia Allah telah tahu, tapi Allah dan Rasul-Nya tetap memeerintahkan untuk memulai dan mengakhiri puasa dengan melihat hilal, lihat penjelasan no 1.

  3) Syariat untuk mengikuti ruyatul hilal ( Melihat bulan) di masing-masing negri telah diamalkan para sahabat dahulu.
Perhatikan kisah berikut ini:

أَخْبَرَنِي كُرَيْبٌ، أَنَّ أُمَّ الفَضْلِ بِنْتَ الحَارِثِ، بَعَثَتْهُ إِلَى مُعَاوِيَةَ بِالشَّامِ قَالَ: فَقَدِمْتُ الشَّامَ، فَقَضَيْتُ حَاجَتَهَا، وَاسْتُهِلَّ عَلَيَّ هِلَالُ رَمَضَانَ وَأَنَا بِالشَّامِ، فَرَأَيْنَا الهِلَالَ لَيْلَةَ الجُمُعَةِ، ثُمَّ قَدِمْتُ المَدِينَةَ فِي آخِرِ الشَّهْرِ، فَسَأَلَنِي ابْنُ عَبَّاسٍ، ثُمَّ ذَكَرَ الهِلَالَ، فَقَالَ: مَتَى رَأَيْتُمُ الهِلَالَ، فَقُلْتُ رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ الجُمُعَةِ، فَقَالَ: أَأَنْتَ رَأَيْتَهُ لَيْلَةَ الجُمُعَةِ؟ فَقُلْتُ: رَآهُ النَّاسُ، وَصَامُوا، وَصَامَ مُعَاوِيَةُ، قَالَ: لَكِنْ رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ، فَلَا نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلَاثِينَ يَوْمًا، أَوْ نَرَاهُ، فَقُلْتُ: أَلَا تَكْتَفِي بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَصِيَامِهِ، قَالَ: لَا، هَكَذَا «أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ»

“Dari Kuraib : Sesungguhnya Ummu Fadl binti Al-Haarits telah mengutusnya menemui Mu’awiyah di Syam. Berkata Kuraib, " Lalu aku datang ke Syam, terus aku selesaikan semua keperluannya. Dan tampaklah olehku (bulan) Ramadlan, sedang aku masih di Syam, dan aku melihat hilal (Ramadlan) pada malam Jum’at. Kemudian aku datang ke Madinah pada akhir bulan (Ramadlan), lalu Abdullah bin Abbas bertanya ke padaku (tentang beberapa hal), kemudian ia menyebutkan tentang hilal, lalu ia bertanya ; “Kapan kamu melihat hilal (Ramadlan) ?
Jawabku : “Kami melihatnya pada malam Jum’at”.
Ia bertanya lagi : “Engkau melihatnya (sendiri) ?”
Jawabku : “Ya, Dan orang banyak juga melihatnya, lalu mereka puasa dan Mu’awiyah Puasa”.
Ia berkata : “Tetapi kami melihatnya (di Madinah) pada malam Sabtu, maka senantiasa kami berpuasa sampai kami sempurnakan tiga puluh hari, atau sampai kami melihat hilal (bulan Syawwal) “. Aku bertanya : “Apakah tidak cukup bagimu ru’yah (apa yang dilihat) dan puasanya Mu’awiyah ?
Beliau menjawab : “Tidak, Begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, telah memerintahkan kepada kami.” (HR. Muslim 3/126, Abu Dawud 2332).

Dari sini kita mengetahui perbedaan matla' (tempat munculnya bulan) itu berbeda-beda disetiap negri, dan kita diperintahkan untuk mengikuti matla' masing-masing, hal itu telah dilakukan para sahabat, oleh karena itu mereka mengakui bahwa hal itu merupakan perintah Rasulullah sallallahu alai wa sallam untuk mengikuti matla' di negrinya masing-masing.

  4) Kalau syariat puasa, wukuf Arofah, talaq dan lainya dahulu ditentukan dengan melihat hilal, sekarang juga dengan melihat hilal bukan hisab, ini adalah syariat yang sejak dulu telah diamalkan oleh para sahabat, oleh karena itu tidak boleh menggantikan dengan hisab.

  5) Orang-orang yang menyandarkan hisab dengan firman Allah ta'ala:
هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاۤءً وَّالْقَمَرَ نُوْرًا وَّقَدَّرَهٗ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَۗ مَا خَلَقَ اللّٰهُ ذٰلِكَ اِلَّا بِالْحَقِّۗ يُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ

"Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu)." QS Yunus[10]:5).

Mereka mengawali dan mengakhiri puasa, dan lainya dengan menyandarkan kepada hisab telah melakukan kesalahan yang fatal.
Karena hal ini akan bertabrakan dengan firman Allah ta'ala pada (QS Al-Baqarah [2];185) di atas, Oleh karena itu tak seorangpun dari para ulama ahli tafsir menafsirkan seperti itu, begitu pula takkan kita jumpai di dalam kitab-kitab fikih yang muktabar, dari sini kita akan tahu hanya orang-orang belakangan ini saja yang mengikuti hawa nafsunya untuk memecah belah umat, dia tidak menyadari dengan begitu dia telah menabrakkan ayat satu dengan lainnya, hal yang mustahil bagi Allah jika firman-nya bertabrakan satu dengan yang lain.

  6) Kalau seandainya orang-orang ikut lebaran sekarang hari Rabu (misalnya) dengan alasan Saudi juga hari ini coba tanyakan apakah Indonesia yang dijadikan ikutan atau Saudi, kalau mereka menjawab Saudi taukah anda jika anda shalat sekarang, Saudi belum mulai apa-apa, karena waktu lebih awal 4 jam dengan Indonesia jika dibandingkan dengan Saudi, karena itu jika anda mengikuti hari yang sama justru anda tidak mengikuti Saudi melainkan Saudi seakan mengikuti anda yang di Indonesia (hanya Allah yang bisa memberikan pemahaman terhadap hal ini), oleh karena itu yang benar dalam hal ini mengikuti itu dibelakangnya bukan di depan.

  7) Mentaati pemerintah dalam perkara yang Ma'aruf (benar) diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Allah ta'ala berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS. An-Nisa [4]: 59).

Andaikan setiap organisasi memiliki kehendak untuk berhari raya sendiri-sendiri tentu masyarakat semakin terpecah-belah, sebaliknya jika semua organisasi mengikuti satu seruan yaitu pemerintah tentu suara kaum muslimin akan satu, ini sangat sulit diterima kecuali orang yang diberi Taufiq oleh Allah ta'ala.

Demikianlah semoga bermanfaat, bisa di pahami dan menyadarkan serta menjauhkan kita dari sikap taklid (membebek) kepada setiap pemimpin organisasi.

Sragen 28-Juni 2023.

Junaedi Abdullah.

Sabtu, 24 Juni 2023

ADAB-ADAB MENYEMBELIH.


Sembelihan adalah Perkara penting karena terkait makanan yang di makan, hal itu bisa merubah yang seharusnya halal menjadi haram, tentu ini sangat penting sekali.
Hal-hal yang harus diperhatikan yaitu:

  1) Terkait orang yang menyembelih.
Hendaknya:
  1. Berakal, setidak-tidaknya sudah tamyiz, baik laki-laki maupun perempuan.
  2. Hendaknya yang menyembelih beragama islam atau setidak-tidaknya beragama samawi.
Allah ta'ala berfirman:
وَطَعَامُ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ حِلٌّ لَّكُمْ ۖوَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَّهُمْ.
"Makanan (sembelihan) Ahli Kitab itu halal bagimu, dan makananmu halal bagi mereka." (QS. Al Maidah [5]:5).

Apa bila didalam penyembelihan ahlul kitab diketahui menyebut selain Allah seperti Al masih atau bunda Maria tidak diperbolehkan.
Adapun sembelihan orang beragama hindu, budha, konghucu, atau animisme semua itu tidak halal.

  3. Membaca bismillah.
Allah ta'ala berfirman:
وَلَا تَأْكُلُوْا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللّٰهِ عَلَيْهِ وَاِنَّهٗ لَفِسْقٌۗ 
"Dan janganlah kamu memakan dari apa (daging hewan) yang (ketika disembelih) tidak disebut nama Allah, perbuatan itu benar-benar suatu kefasikan." (QS. Al-An'am[6]:121).

  4. Tidak boleh menyebut kepada selain Allah atau ditujukan kepada selain Allah, atau dengan menyebut Allah dan juga selainnya secara bersamaan.
Misalnya berkata, "Bismillah untuk ngirim leluhur atau penguasa disini."
Allah ta'ala berfirman:
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيْرِ وَمَآ اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖ.
"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah." (QS. Al-Maidah[5]:3).

  2) Berkaitan dengan alat sembelih.

  1. Hendaknya tajam dan dapat segera memotong atau membunuh baik berupa besi jika darurat bisa kayu, batu dan selainnya.
Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺫَﺑَﺤْﺘُﻢْ ﻓَﺄَﺣْﺴِﻨُﻮﺍ ﺍﻟﺬَّﺑْﺢَ ﻭَﻟْﻴُﺤِﺪَّ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺷَﻔْﺮَﺗَﻪُ ﻓَﻠْﻴُﺮِﺡْ ﺫَﺑِﻴﺤَﺖَ
jika kalian menyembelih maka berbuatlah baik dalam cara menyembelih, dan hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan sembelihannya.( HR. Muslim).

  2. Tidak menyembelih dengan kuku dan gigi.
Karena kuku merupakan kebiasaan orang habasah, sedangkan gigi bagian dari tulang.
Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:
َ مَا أُنْهِرَ اَلدَّمُ, وَذُكِرَ اِسْمُ اَللَّهِ عَلَيْهِ, فَكُلْ لَيْسَ اَلسِّنَّ وَالظُّفْرَ; أَمَّا اَلسِّنُّ; فَعَظْمٌ; وَأَمَّا اَلظُّفُرُ: فَمُدَى اَلْحَبَشِ,  مُتَّفَقٌ عَلَيْه
“Apa yang dapat menumpahkan darah dengan diiringi sebutan nama Allah, makanlah, selain gigi dan kuku, sebab gigi adalah tulang sedang kuku adalah pisau bangsa Habasyah.“ (Muttafaqun Alaihi).

  3) Terkait hewan sembelihan.
Hewan sembelihan disyariatkan beberapa syarat:
  1. Kondisinya hidup, tidak menyembelih hewan yang sudah mati.
  2. Hilangnya nyawa secara jelas, bukan karena tercekik, terpukul, tenggelam atau lainnya.
  3. Jika terkait qurban hendaknya berupa onta, sapi, dan kambing. Ada juga yang memfatwakan bolehnya kerbau.
Adapun selain untuk qurban apa saja hewan yang dihalalkan oleh syariat baik hewan yang bisa terbang maupun yang di daratan.
  4. Bagian yang disembelih yaitu memutuskan saluran pernapasan, saluran makanan dan kedua urat lehernya.
Namun bila binatang itu tiba-tiba liar tidak bisa dikendalikan lagi boleh menggunakan cara yang lain seperti menggunakan anak panah, hal ini juga pernah terjadi pada jaman Rasulullah.

Adab-adab yang harus diperhatikan yang lain:
  1. Menyayangi binatang yang akan disebelih.
  2. Menajamkan pisau.
  3. Tidak menajamkannya di hadapan binatang yang akan disembelih.
  4. Memisahkan antara yang belum disembelih dengan yang disembelih baik dengan kain maupun tembok.
  5. Membaringkan hewan sembelihan.
Adapun menyembelih dengan memenggal sembelihan hingga putus dalam kondisi berdiri hal ini tidak sesuai Sunnah, dimana Rasulullah membaringkan sembelihan.
  6. Menghadapkan kearah kiblat.
  7. Meletakkan kaki di badan penyembelihan.
  8. Jika memungkinkan hendaknya orang yang kuat, karena orang lemah memiliki tekanan yang lemah sehingga hewan tersiksa tidak segera mati.
  9. Penyembelih menyebut nama orang yang berkurban setelah itu menyebut nama Allah.
  10. Memastikan terputusnya keempat urat-urat yang dituju.
 
Demikianlah kebenaran dan kesempurnaan hanyalah milik Allah ta'ala, semoga bermanfaat. Aamiin.

Maroji' : Ensiklopedi amalan Sunnah dibulan Hijriah, dengan beberapa tambahan.

Sragen 24-06-2023.
Junaedi Abdullah.

Minggu, 21 Mei 2023

SEBAB-SEBAB FUTUR. ( MALAS DAN BERHENTI DARI KETAATAN)


Iman seseorang terkadang naik dan terkadang turun, hal ini sudah menjadi konsensus (kesepakatan para ulama ahlu Sunnah wa jama'ah).
Rasa malas yang menghinggapi hati seseorang merupakan kewajaran, hanya saja hal ini sangat membahayakan jika sikap malas dan jemu itu terus berkepanjangan, apalagi sampai taraf meninggalkan ibadah wajib dan sunnah dan banyak meninggalkan ketaatan kepada Allah ta'ala.

Adapun sebab-sebab kemalasan (futur) diantaranya:

  1) Beramal tidak ikhlas karena Allah ta'ala.
Apa bila seseorang beramal tapi karena ingin pujian dari manusia, tatkala hal itu tidak didapatkan timbullah rasa malas.
Oleh karena itu penting beramal ikhlas karena Allah.
Allah ta’ala berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ.
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah[98]:5).

Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وإنما لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنكحها فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
“Sesungguhnya setiap amal itu (tergantung) pada niatnya, dan sesungguhnya sesesorang itu hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya (dinilai) karena Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena harta dunia yang hendak diraihnya atau karena wanita yanga hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu hanyalah kepada apa yang menjadi tujuan hijrahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

  2) Berlebih-lebihan dalam beragama.
Agama ini sebenarnya mudah dan ringan.
Allah ta'ala berfirman:
وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ.
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah." ( QS. Al-Hasyr [59]:7).

فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلا وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ.
Tidak tersisa suatu (amalan) pun yang dapat mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali sudah dijelaskan semuanya kepada kalian. (HR. Thabrani dalam Al Mu’jamul Kabir 1647, disahihkan Syaikh al-Bani di dalam Silsilah As Sahihah 1803).

تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ.
“Aku tinggalkan kalian dalam keadaan terang-benderang, siangnya seperti malamnya. Tidak ada yang berpaling dari keadaan tersebut kecuali ia pasti celaka.” (HR. Ahmad 4/126 Ibnu Majah 43 dan disahihkan Syaikh al-Bani di Silsilah hadis Shahihah 2/648).
Jika seseorang berlebihan dalam melakukan ketaatan akan memberatkan badanya sehingga lambat laun jadi malas.

  3) Berlebih-lebihan dalam perkara mubah.
Allah ta’ala berfirman:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ.
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.” (QS. Al-A’raf [7]: 31).

Dari Al-Miqdam bin Ma'dikarib raḍiyallahu 'anhu secara marfū' dia berkata, aku mendengan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ. بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ.
"Tidaklah manusia memenuhi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam itu beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika memang harus melebihi itu, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga untuk nafasnya." (HR Tirmidzi 2380 Ibnu Majah 3349, di shahihkan Syaikh al Abani di dalam Ash Shahihah 2265).

Berlebih-lebihan dalam hal mubah di sini adalah seperti makan, minum, berpakaian, dan kendaraan, mencintai anak istri dan lainya, karena setiap kali manusia melampaui batas dalam melakukan hal-hal yang mubah, maka sesungguhnya ia telah kehilangan nikmat ketaatan, hatinya selalu bertaut kepadanya inilah sebabnya.
Allah melarang hal itu:
قُلْ اِنْ كَانَ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْ وَاِخْوَانُكُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَاَمْوَالُ ِۨاقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَبَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ.
"Katakanlah, Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." (QS. At-Taubah [9]: 24).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ رواه البخاري

“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga kalian menjadikan aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dalam Kitab Al-Iman, Bab Hubbur Rasul minal Imaan,14)

  4) Tidak segera bertaubat ketika terjerumus dalam perbuatan dosa.
Manusia memang tidak bisa lepas dari kesalahan, namun ketika seseorang terjerumus kedalam dosa hendaknya segera bertaubat.
Allah ta'ala berfirman:
وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui." (QS. Al-Imran[3]:135).

Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.
“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi 2499, dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Shahiih al-Jaami’ As- Shaghiir 4391).
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) .
“Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah “ar raan” yang disebutkan Allah di dalam firman-Nya, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (HR Tirmidzi 3334, Ibnu Majah 4244,  di shahihkan Syaikh al-Albani di dalam As-Shahihul Jami’ 1670).

Ibnul Qoyyim mengatakan di dalam kitabnya, (secara makna) sebab seseorang malas dan terputus dari ketaatan disebabkan kemaksiatan yang dilakukan.(Ad-Dha Wa Adhawa') (penyakit dan obatnya).
Apabila seseorang tidak segera bertaubat ketika terjerumus kedalam maksiat maka hatinya sedikit demi sedikit akan menghitam dan akhirnya dosanya menutupi hatinya yang menyeret kepada kebinasaan.

    5) Makan dari harta haram.
Memakan dari harta haram bukan hanya diancam dengan neraka tapi juga dapat menjadikan malas dalam ibadah.
Allah ta'ala berfirman:
åيٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
"Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu." (QS. Al-Baqarah [2];168)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ.
“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari apa yang telah kami rezkikan kepadamu dan bersukurlah kepada Allah jika kamu hanya menyembah kepada-Nya saja.”(QS. Al-Baqarah[2]:172.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ .
"Akan datang pada manusia suatu  zaman, di mana seseorang tidak lagi memperdulikan dengan cara untuk mendapatkan harta, apakah melalui cara yang halal ataukah dengan cara yang haram." (HR. Bukhari 2083).
Seseorang akan malas menuaikan ketaatan karena tubuhnya dipenuhi perkara yang haram.

  6) Teman-teman yang tidak baik. Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita agar bersama orang-orang yang shalih.
Allah ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ.
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah [9]:119).

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ.
“Seseorang bisa dilihat dari perilaku beragama sahabatnya. Hendaklah kalian memperhatikan bagaimana sahabatmu dalam beragama. (HR Ahmad 8417, Tirmidzi 2378, Abu Dawud 4833, di shahhiihkan Syaikh al-Albani di dalam Ash Shahihah 927).

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ.
“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. (HR. Bukhari 5534,  Muslim 2628).

Seseorang bisa mencuri takbiat orang lain tanpa dirasa, mengikuti dan mengagumi, oleh karena itu islam menganjurkan memilih teman duduk dari orang-orang shalih.

Orang-orang yang buruk akhlaknya akan mempengaruhi keburukan sebagaimana saat terakhir Abu Thalib terpengaruh disaat-saat menjelang kematiaanya.

  7) Tidak mau bersama jamaah.
Hendaknya menyadari iman kita tidaklah seperti para Nabi ataupun sahabat nabi, sangat rentan dan lemah, hal ini bisa dirasakan betapa mudahnya seseorang terjerumus kedalam kemaksiatan.
Oleh karena itu Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam memerintahkan agar selalu bersama jamaah.
 فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ الذِّئْبَ يَأْكُلُ الْقَاصِيَةَ
"Hendaklah kamu berjamaah. Ketahuilah sesungguhnya serigala itu akan menerkam mangsa yang sendirian." ( Abu Dawud, An Nasa’i dan dihasankan oleh al-Albani.)

  8) Didera fitnah ataupun ujian terus menerus.
Seorang mukmin akan senantiasa mendapatkan ujian, hal ini untuk melihat sejauh mana ilmu amal dan keyakinannya, sedikitnya ilmu dan bekal untuk menghadapi fitnah baik berupa masalah ekonomi, rumah tangga, anak, maupun yang lainnya banyak menjadikan seseorang futur.
Allah ta'ala berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS, Al-Baqarah [2]:155)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim  2999)

Banyak saudara-saudara kita ketika diuji dengan perkara di atas mereka mereka menjadi futur dan hilang semangatnya.

  9) Hidup dimasyarakat yang rusak.
Masyarakat yang rusak dapat menjadikan lemah agama seseorang, dimana seseorang menyaksikan kemaksiatan, ketaatan ditertawakan hal ini sebagaimana orang yang berada di perantauan negri kafir, atau mayoritas kaum muslimin yang fasiq di tengah-tengah masyarakat yang rusak tersebut ibarat pedang yang tajam dipakai terus-menerus lama-kelamaan menjadi tumpul, jadilah lambat-laun menjadi futur.

  10) Melupakan ilmu yang telah diterima.
Begitu banyak seseorang yang dulu aktif, prestasi, bersemangat namun lambat laun memudar tak lagi nampak ilmunya bahkan hilang dan berganti futur, hal itu dikarenakan tidak mau menjaga apa yang telah Allah karuniakan kepadanya berupa ilmu yang dia dapat, hafalan yang dia miliki, sehingga Allah hukum dirinya dengan disibukkan pada perkara-perkara yang tidak bermanfaat, hingga akhirnya malas melakukan ketaatan.
Hendaknya kita berdoa kepada Allah untuk melindungi kita dari futur atau kemalasan.
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian.” (HR. Bukhari 6367 dan Muslim 2706).

Demikianlah semogabermanfaat. Aamiin.


Sragen 22 Mei 2023.

Junaedi Abdullah.

 




BERPEGANG DENGAN LAFADZ-LAFAD SYAR'I DAN MENJAHUI LAFADZ-LAFADZ SELAINNYA. MUJMAL BAB 1 NO 7

 MUJMAL USUL, BAB 1 NO 7   ٧- يَجِبُ الِالْتِزَامُ بِالْأَلْفَاظِ الشَّرْعِيَّةِ فِي الْعَقِيدَةِ وَتَجَنُّبُ الْأَلْفَاظِ الْبِدْعِيَّةِ...