Mukadimah
إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ,
وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ
يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ,
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ,
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ
تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا
وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ
اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ
اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
أَمَّا بَعْدُ
فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ
مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ,
وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
Tidak diragukan lagi bahwa akhlak
yang baik merupakan bagian yang sangat besar di dalam ajaran agama islam,
merupakan ciri khas dan makhkotanya seorang muslim, akhlak yang baik merupakan
bekal di dalam mengarungi kehidupan ini, terlebih bagi seorang da’i mereka akan
mudah untuk membaur dengan masyarakat mendakwahi mereka, mengajak mereka kepada
kebaikan dan menjauhi keburukan.
Tidak kita pungkiri sebagian kaum
muslimin mereka memiliki pengetahuan tentang agama dan dunia yang begitu
mendalam, namun sangat di sayangkan sedikit di antara kaum muslimin yang mau
mempelajari akhlak nubuwah ini, sehingga yang terjadi kepincangan yang tidak
selaras antara ilmu yang mendalam dengan kenyataan akhlaknya yang buruk, ini
realita yang sering terjadi yaitu krisis
di dalam akhlak, hal itu ditandai banyaknya kaum muslimin yang kita dapatkan
tersandung berbagai macam masalah, baik para dainya, apalagi dengan orang awamnya,
seperti kasus pencabulan, perzinaan, pencurian, penipuan, korupsi, pembunuhan
dan lain-lain, semua tidak lain karena lemahnya iman dan jauhnya dari akhlak
yang mulia ini.
Begitu pula tanda krisis akhlak
pada umat ini, mereka tidak begitu memperhatikan ikatan persaudaraan Islam, hal
ini dapat dirasakan apa bila kita bermuamalah dengan salah seorang di antara
mereka, saking banyaknya kasus yang terjadi sehingga muncul rasa kuatir dari
tipu daya saudaranya, baik ketika kita memberikan amanah atau jabatan, utang
piutang, memperbaiki barang, membeli barang, sampai berperkara di pengadilan,
betapa sulitnya saat ini untuk mendapatkan orang yang amanah, yang menjadikan
kita merasa nyaman dan terwujudnya keadilan.
Padahal kalau kita menyadari
Rasulullah dalam mengemban tugas dakwahnya selain memprioritaskan tauhid,
beliau menghiasi dakwahnya dengan akhlak yang mulia sebagaimana di bawah nanti.
Dari sinilah saya merasa penting
untuk menulis dan mengumpulkan hal-hal yang berkaitan dengan akhlak yang baik
sehingga dapat menggugah dan menyadarkan kaum muslimin akan pentingnya memiliki
akhlak yang baik, dan tidak lupa sebagiannya saya serertakan contoh-contoh
teladan orang-orang shalih dahulu yang memiliki akhlak yang baik, dengan
demikian mudah-mudahan hal ini mudah dicerna, kemudian diamalkan oleh kaum
muslimin.
Semoga Allah memberkahi seseorang
yang mau mengingatkan kesalahan saya, mau mengajak saya untuk selalu menetapi
kebaikan dan kesabaran, serta memberi motivasi yang baik sehingga dapat
tercapai kebaikan.
Demikianlah sedikit tulisan ini
semoga mendapatkan keridhaan Allah ta’ala menjadi amal shalih yang bermanfaat
bagi saya, kedua orang tua saya, guru-guru saya dan menjadikan pemberat
timbangan saya nanti pada hari kiamat aamiin.
Sragen 20-02-2026
Abu Ibrahim, Junaedi Abdullah.
BAB 1
Akhlak
Tauhid merupakan prioritas dakwah
para nabi dan rasul, akan tetapi perlu diketahui, bersamaan dengan hal itu
mereka juga mendasari di dalam dakwahnya dengan akhlak yang mulia.
Oleh karena itu orang-orang yang
meneladani para Nabi dan para Rasul hendaknya menghiasi dirinya dengan akhlak
yang mulia.
1. Pengertian akhlak:
Di dalam bahasa
Arab kata “akhlak” (أخلاق) adalah bentuk jamak dari kata “khuluk” (خلق), yang berakar dari kata kerja “khalaka” (خلق), yang berarti “menciptakan”. Kata “khuluk” diartikan dengan
sikap, tindakan, dan kelakuan.
“Akhlak” di
dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan
secara sederhana, yaitu “budi pekerti, kelakuan”, disinonimkan dengan kata-kata “tingkah laku, perangai, dan watak.”
Ibnu Qudamah
rahimahullah berkata, “Akhlak sebuah bentuk jiwa yang tertanam kuat, yang
darinya lahir perbuatan-perbuatan dengan mudah dan gampang tanpa memerlukan
pertibangan dan pemikiran. (Minhajul Qhasidin, oleh Ibnu Qudamah Al-Maqdisi)
Akhlak terbagi
menjadi dua yaitu:
1) Akhlak yang baik (mahmudah), apabila
perbuatan-perbuatan tersebut baik.
2) Akhlak yang buruk (madzmumah), bila
perbuatan-perbuatan tersebut buruk (Minhajul Qhasidin, Ibnu Qudamah
Al-Maqdisi).
Perbedaan antara
adab dan akhlak.
Sebagian ulama
menganggap hal itu sama, bagaimana beradab kepada Allah ta’ala, atau bagaimana
berakhlak kepada Allah ta’ala.
Ada juga yang
membedakan, adapun perbedaan antara adab dan akhlak yang paling mudah untuk
bisa dipahami yaitu:
1) Adab adalah sikap seseorang.
Bagaimana
seseorang bersikap pada sebuah aturan yang telah diketahui kebaikannya bersama,
seperti adab makan, adab minum, adab ke kamar mandi atau adab seseorang kepada
gurunya.
2) Akhlak adalah sifat seseorang.
Sifat atau
karakter seseorang yang dihasilkan dari didikan pada dirinya atau berasal dari
takbi’at bawaan. Seperti jujur, dermawan, pembrani dan lain sebagainya.
Asal-muasal terjadinya akhlak yang
baik.
Akhlak bila ditinjau dari asalnya
ada dua yaitu:
1) Ghariziyyah Atau Jibiliyah
(Naluriyah, Bawaan).
Akhlak gariziyyah atau
Jibilliyyah
Maksudnya Allah telah memberikan
ke dalam dirinya akhlak yang mulia itu, di mana ia tumbuh dewasa di atasnya.
Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam kepada Asyaj Abdul
Qais, beliau bersabda:
إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللهُ: الْحِلْمُ, وَالْأَنَاةُ.
“Sesungguhnya pada dirimu
terdapat dua perkara yang dicintai Allah, yaitu kesabaran dan tidak
tergesa-gesa.” (HR. Muslim 17, at-Tirmidzi 2011, Abu Dawud 5225).
2) Muktasabah
(apa yang diusahakan).
Akhlak Muktasabah maksudnya
akhlak yang dihasilkan dari usaha dan latihan disertai permohonan kepada
Allah ta’ala agar memberi akhlak yang baik. Hal ini berdasarkan sabda
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:
وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ, وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ
اللَّهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ, وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ
مِنَ الصَّبْرِ.
“Barang siapa yang berusaha
menjaga dirinya (dari meminta-minta), maka Allah akan menjaganya. Barang siapa
yang merasa cukup dengan pemberian Allah, maka Allah akan cukupkan. Barang
siapa yang berusaha untuk sabar, maka Allah akan menyabarkan. Tidak ada pemberian
yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada
kesabaran.” (HR. al-Bukhari 6470, 1469, Abu Dawud 1644).
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,
“Seandainya akhlak tidak bisa bisa dirubah, niscaya nasehat-nasehat tidak akan
berarti apapun, bagaimana mungkin seseorang mengingkari bila akhlak bisa
dirubah sementara seseorang melihat binatang buas bisa dijinakkan, anjing
diajari kapan dia harus makan, kuda dididik bagaimana jalan yang baik dan
dikendalikan dengan baik pula, hanya saja harus diakui ada takbiat yang mudah
dirubah kepada kebaikan dan ada pula yang sulit.” (Minhajul Qhasidin, Ibnu Qudamah al-Maqdisi).
Pada masa
jahiliyah kerusakan akhlaq dan moral merajalela, seperti perzinaan,
meminum khamer, perjudian dan pembunuhan, namun setelah mereka masuk islam dan
mendapatkan hidayah mereka menjadi manusia-manusia pilihan, inilah fakta dimana
akhlaq bisa berubah.
-----000-----
BAB 2
Akhlak Rasulullah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam, beliau memiliki akhlak yang mulia, beliau diutus untuk menyempurnakan
aklak yang telah ada, oleh karena itu beliau bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ مَكاَرِمَ اْلأَخْلاَقِ.
“Sesungguhnya aku diutus tidak
lain untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. al-Bukhari di dalam Adabul Mufrad 273,
dishahihkan syaikh al-Albani dalam Silsilah As-Shahihah 45).
Ketika beliau berdakwah keTha’if,
dakwah beliau ditolak dan beliau disakiti, namun beliau tidak membalas hal itu
semua, bahkan beliau berharap kebaikan pada mereka.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
فَنَادَانِي مَلَكُ الْجِبَالِ فَسَلَّمَ عَلَيَّ ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ
إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمْ الْأَخْشَبَيْنِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ
أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا.
“…Malaikat (penjaga) gunung
memanggilku, mengucapkan salam lalu berkata: Wahai Muhammad! Jika engkau mau,
aku bisa menimpakan Akhsyabain.” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjawab: “(Tidak) namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan
dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak
mempersekutukan-Nya dengan apapun juga.” (HR. al-Bukhari 3231, Muslim 1795).
Pujian Allah subhanahu wa ta’ala
kepada Rasul-Nya. Allah ta’ala berfirman:
وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya kamu
benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al Qalam [68]: 4)
Allah memerintahkan agar kita
meneladani Rasul-Nya.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ
اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ
وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا.
“Sesungguhnya telah ada pada
(diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang
mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut
Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21).
Ibnu Katsir rahimahullah
berkata: “Ayat yang mulia ini merupakan dalil pokok yang paling besar, yang
menganjurkan kepada kita agar meniru Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
dalam semua ucapan, perbuatan, dan sepak terjangnya.” (Tafsir Ibnu Katsir, (QS.
Al-Ahzab[33]:21).
Akhlak Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam telah disaksikan kebaikannya baik dari orang yang memusuhi
beliau ataupun orang yang dekat dekat beliau.
Diantara Kesaksian Tersebut:
1) Saat Merenovasi Kakbah.
Mereka berselisih tentang siapa
yang berhak meletakkan hajar aswad, hal itu terjadi 4-5 hari, bahkan hampir
saja terjadi peperangan, kemudian Abu Umayah bin Mugirah al-Makzumi menawarkan,
siapapun yang pertama kali melewati pintu masjid merekalah yang memutuskan,
Allah takdirkan Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam melewati pintu
tersebut, merekapun berseru, “ Telah datang orang yang amanah (terpercaya).”
(Ar-Rahiqul Makhtum, Syaikh Syafiyyurrahman al-Mubarakfury).
2) Kesaksian Dari Abu Sufyan Di
Hadapan Raja Rum, Yang Di Waktu Itu Masih Menjadi Orang Kafir.
Ketika raja Hiraklius bertanya, “Apa
yang diperintahkannya kepada kalian?” Abu Sufyan menjawab, “Ia memerintahkan
kami agar menyembah Allah saja dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun.
Melarang menyembah Tuhan-Tuhan nenek moyang kami. Memerintahkan shalat,
sedekah, menjaga kehormatan diri, memenuhi janji, dan menunaikan amanah.”
(Ar-Rahiqul Makhtum, Syaikh Syafiyyurrahman al-Mubarakfury).
3) Kesaksian Orang-Orang
Quraiys
Ketika
Rasulullah diperintahkan untuk berdakwah terang-terangan, kemudian belaiu naik
kebukit Shafa, beliau memberikan gambaran kepada mereka dengan datangnya musuh,
mereka percaya terhadap apa yang di sampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam.
4)
Kesaksian orang yang dekat dengan
Rasullah.
Dari al-Hasan radhiyallahu ‘anhu,
ia berkata:
سُئِلَتْ
عَائِشَةُ عَنْ خُلُقِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ : كَانَ
خُلُقُهُ الْقُرْآنَ.
Aisyah ditanya tentang akhlak
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia menjawab: “Akhlaknya adalah
Al-Qur’an.” (HR. Ahmad 25813, Shahih menurut Syaikh Syu’aib Al-Arnauth,
dishahihkan syaikh al-Albani di dalam Shahihu Al Jami’ 4811).
Dan masih banyak lagi kesaksian
yang menunjukkan kemuliaan akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
-----000-----
BAB 3
Keutamaan Akhlak Yang Baik.
Manusia tersusun dari jasad dan ruh, memiliki perasaan, oleh
karena itu mensikapinya tidak boleh semena-mena, karena hal itu akan
menyakitinya, mereka satu sama lain membutuhkan untuk diperlakukan dengan baik.
Adapun keutamaan memiliki akhlak
yang baik sangat banyak sekali, diantaranya:
1) Menjadikan Kecintaan
Allah Ta’ala.
Allah ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ.
“Sungguh, Allah
beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”(QS.
An-Nahl[16]:128).
Yakni Allah
beserta mereka melalui dukungan-Nya, pertolongan-Nya, bantuan-Nya, petunjuk dan
upaya-Nya.(LIhat Tafsir Ibnu Katsir, QS. An-Nahl [16]:128).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ.
“Sayangilah orang-orang yang ada
di bumi, maka kamu akan di sayangi Dzat yang ada di atas langi.” (HR. at-Tirmidzi
1924, al-Baihaqi 17905, Dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Ash Shahihah
925).
2) Menjadikan
Rasulullah Cinta.
Orang yang ingin dicintai
Rasulullah hendaknya memiliki akhlaK yang baik.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
إِنَّ
مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ
أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا
“Sesungguhnya yang paling aku
cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari
kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.” (HR.
Tirmidzi 2018, dihasankan oleh Syakh al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’
1535, As-Shahihah 791).
3) Akan Menjadi
Pemberat Timbangan Pada Hari Kiamat.
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ.
"Tidak ada sesuatupun yang
lebih berat dalam timbangan (amalan) seorang mukmin pada hari kiamat
dibandingkan akhlak yang mulia." (HR. at-Tirmidzi 2002, di hasankan
oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah 876).
Bagaimana seseorang berkata yang
baik, tersenyum, bersabar dan lainnya yang semua ini tanpa di rasa merupakan
tumpukan-tumpukan pahala yang sangat besar.
4) Paling Banyak
Memasukkan Manusia Kedalam Surga.
Ketika Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam menjawab saat ditanya tentang apa yang paling banyak
memasukkan manusia ke surga sebagaimana disebutkan dalam sebuah atsar:
سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله
عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ تَقْوَى
اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ. وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ
فَقَالَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ.
Ditanyakan kepada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, apa yang paling banyak memasukkan manusia
kedalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan bagusnya akhlak.” Dan
beliau ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam
neraka, maka beliau menjawab: “mulut dan kemaluan.” (HR at-Tirmidzi 2004, Abu
Dawud 2596, Ibnu Majah 4246. Dihasankan syaikh al-Albani, Lihat As-Shahihah
977).
Bagaimana seseorang bertakwa
kepada Allah dan berakhlak yang mulia akan menjadikan kebaikan di dunia ini
sehingga semua urusanya menjadi mudah, mendatangkan berkah, dan menjadikan
masuk kedalam surga.
Sebaliknya mulut dan kemaluan
dapat mendatangkan dosa, adzab, menjauhkan keberkahan dan memasukkan kedalam
neraka.
Dia berbuat syirik, bid’ah,
menuduh, menggunjing, marah tanpa alasan yang dibenarkan syari’at semua itu
dilakukan dengan lisannya.
5) Menunjukkan Kesempurnaan
Dan Kemuliaan Iman Seseorang.
Baiknya akhlak seseorang
menunjukkan kesempurnaan imannya, sedangkan orang yang sempurna imannya
memiliki keutamaan yang besar, di sisi Allah ta’ala, Rasulullah sallallahu
‘alaaihi wa sallam bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا .
“Orang mukmin yang paling
sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya, dan yang paling baik di
antara kamu sekalian adalah yang paling baik akhlaqnya terhadap
isteri-isterinya.” (HR. Ahmad 7402, Tirmidzi 1162, Abu Dawud 4682 dihasan
oleh syaikh al-Albani di dalam Ash-Shahihah 284).
Betapa banyak orang yang memiliki
hafalan yang banyak, ilmu yang tinggi namun akhlaknya rendah, oleh karena itu
hendaknya seseorang mengiringi ilmunya tersebut dengan akhlak yang mulia
sehingga dapat menyempurnakan imannya.
6) Mendatangkan Kecintaan
Manusia.
Fitrah manusia akan mencintai
orang-orang yang berbuat baik.
Allah ta’ala berfirman:
فَبِمَا
رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ
لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ.
“Maka berkat rahmat Allah engkau
(Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap
keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS.
Ali-Imran[3]:159).
Ada seseorang yang datang kepada
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata:
يَا
رَسُوْلَ اللهِ ! دُلَّنِـيْ عَلَـىٰ عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِيَ اللهُ
وَأَحَبَّنِيَ النَّاسُ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ازْهَدْ
فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ, وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي
النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ.
“Wahai Rasulullah! Tunjukkan
kepadaku satu amalan yang jika aku mengamalkannya maka aku akan dicintai oleh
Allah dan dicintai manusia.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
“Zuhudlah terhadap dunia, niscaya engkau dicintai Allah dan zuhudlah terhadap
apa yang di miliki manusia, niscaya engkau dicintai manusia.” (HR. Ibnu Majah
4102, dihasankan Syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah 944).
7) Akhlaq Yang Baik
Dapat Memuaskan Hati Manusia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
إِنَّكُمْ
لَنْ تَسَعُوْا النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ وَلٰكِنْ يَسَعُهُمْ مِنْكُمْ بَسْطُ
الوَجْهِ وَحُسْنُ الخُلُقِ.
“Sesungguhnya kalian tidak akan dapat memuaskan jiwa
manusia dengan harta-harta kalian, akan tetapi yang dapat memuaskan jiwa mereka
adalah bermuka manis dan berakhlak yang baik. (HR. at-Tirmidzi 2018,
Bazar 8544, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Thargib wa Tharhib 2661).
8) Meluluhkan Hati Musuh.
Allah ta’ala berfirman :
ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ
كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ
“Tolaklah (kejahatan itu) dengan
cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada
permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” (QS.
Fushilat : 34).
Banyak para sahabat
dahulu yang memusuhi Rasulullah namun akhirnya mendapatkan hidayah, hal itu tidak
lain karena keindahan ajaran islam dan bagusnya akhlak yang diajarkan Rasulullah
shallallahu ‘alahi wa sallam.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:
الأَعْمَالُ الصَّالِحَةُ وَالأَخْلَاقُ الفَاضِلَةُ
وَالمُعَامَلَاتُ الطَّيِّبَةُ تَفْتَحُ قُلُوبَ الأَعْدَاءِ أَكْثَرَ مِمَّا
تَفْتَحُهُ السُّيُوفُ.
“Amal shalih, akhlak yang mulia
dan muamalah yang baik lebih banyak membuka hati para musuh dari pada
membukanya dengan pedang” (syarh asy-Syafiah al-Kafiyah 1/202).
9) Akhlak Yang Baik
Akan Menjadi Bukti Dan Saksi Bagi Orang Lain.
Anas bin
Malik radliyallahu ‘anhu menuturkan:
مَرُّوا بِجَنَازَةٍ فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا خَيْرًا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَجَبَتْ, ثُمَّ مَرُّوا
بِأُخْرَى فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا شَرًّا فَقَالَ: وَجَبَتْ, فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَا وَجَبَتْ قَالَ: هَذَا
أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا فَوَجَبَتْ لَهُ الجَنَّةُ وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ أَنْتُمْ شُهَدَاءُ
اللَّهِ فِي الأَرْضِ.
“Sahabat Anas bin Malik berkata,
orang-orang lewat membawa satu jenazah, mereka memujinya dengan kebaikan. Maka
Rasulullah bersabda, “Wajabat.” Kemudian lewat lagi orang-orang membawa satu
jenazah, mereka mencelanya dengan kejelekan. Maka Rasulullah bersabda,
“Wajabat.” Sahabat Umar bin Khathab berkata, “Apa yang wajib, ya Rasul?”
Rasulullah bersabda, “Jenazah ini yang kalian puji dengan kebaikan wajib
baginya surga. Dan orang ini yang kalian cela dengan kejelekan wajib baginya
neraka. Kalian adalah para saksinya Allah di muka bumi.” (HR. al-Bukhari 1367,
Abu Dawud 3233).
10) Akhlaq Yang Baik Akan
Menentramkan Hati Pelakunya.
Ketika Rasulullah menerima wahyu
di permulaan dan berjumpa dengan Jibril sehingga beliau ketakutan dan pulang,
meminta istrinya agar menyelimutinya.
Khadijah berkata menentramkan
beliau:
كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ
اللَّهُ أَبَدًا؛ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ، وَتَكْسِبُ
الْمَعْدُومَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ.
“Demi Allah tidak mungkin! Allah
tidak akan pernah menghinakanmu. Sebab engkau selalu bersilaturrahmi,
meringankan beban orang lain, memberi orang lain sesuatu yang tidak mereka
dapatkan kecuali pada dirimu, gemar menjamu tamu dan engkau membantu orang lain
dalam musibah-musibah.” (HR. Bukhari 3, Muslim160).
Demikianlah akhlaq yang mulia
memiliki keutamaan yang sangat banyak, dan masih banyak lagi keutamaan akhlaq
lainnya.
-----000-----
BAB 4
Pilar-Pilar Akhlak.
Ibnu Rajab al-Hambali di dalam
kitabnya, Jamiul ‘ulum wal hikam menukil dari Muhammad bin Abi Zaid salah satu
imam madzhab Malikiyah di masanya, beliau berkata: adab-adab kebaikan terhimpun
dan bersumber dari 4 hadits, yaitu: “ Barang siapa beriman kepada Allah dan
hari akhir hendaknya berkata baik atau diam,” hadits “ Salah satu pertanda
baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat,”
hadits, “Jangan engkau marah,” dan hadits, “ Seorang muslim mencintai kebaikan
untuk saudaranya sebagaimana ia mencintai kebaikan tersebut bagi dirinya sendiri.”
(Jami’ul ‘ulum wal hikam hadits ke 12, Ibnu Rajab al-Hambali).
Jadilah hadits-hadits ini
seakan-akan merupakan pilar-pilar akhlak bagi seorang muslim, dengan beberapa
tambahan penjelasanya sebagaimana berikut ini.
1. Menjaga Lisan.
Memiliki lisan merupakan sebuah
nikmat yang sangat besar, di mana lisan dapat meninggikan derajat seseorang di
surga, namun jika seseorang tidak menggunakan dalam kebaikan niscaya akan
menjerumuskannya ke dalam neraka.
Allah membimbing hambanya agar
menggunakan di dalam kebaikan sebagaimana firman-Nya:
وَقُولُوا
لِلنَّاسِ حُسْنًا.
“Dan
ucapkanlah kepada manusia perkataan yang baik.” (QS. Al Baqarah[2]:83).
قَوْلٌ مَّعْرُوْفٌ وَّمَغْفِرَةٌ
خَيْرٌ مِّنْ صَدَقَةٍ يَّتْبَعُهَآ اَذًى.
“Perkataan yang baik dan pemberian maaf itu
lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti.” (QS.
Al-Baqarah[2]:263).
وَاحْفَظُوا أَيْمَنَكُمْ.
"...Maka jagalah sumpah-sumpah kalian..." (QS.
Al-Ma'idah [5]: 89)
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam juga bersabda:
مَنْ
كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت.
“Barangsiapa yang beriman kepada
Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.”
(HR. al-Bukhari, 6018, Muslim, 47).
Maksudnya adalah menjaga dan
menahan lisan dari suatu pembicaraan, kecuali jika di dalamnya mengandung
faedah dan kebaikan. Sabda Nabi : “… maka hendaklah ia berkata baik atau
hendaklah ia diam.” Di dalamnya mengandung ajakan agar seorang Muslim berpikir
terlebih dahulu sebelum mengucapkan sesuatu.
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ يَنْزِلُ بِهَا فِي النَّارِ
أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ.
“Sesungguhnya seorang hamba
berkata dengan satu kalimat dengan kalimat itu menjerumuskan dirinya kedalam
neraka sejauh antara timur dan barat.” (HR. al-Bukhari 6477, Muslim 2988).
Muadz bin Jabal mengatakan,
"Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu 'Alaihi
Wasallam pada perang Tabuk, beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
أَلَا أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الْأَمْرِ وَعَمُودِهِ وَذُرْوَةِ سَنَامِهِ فَقُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ. قَالَ:
رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ, وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ , ثُمَّ قَالَ: أَلَا أُخْبِرُكَ بِمِلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ, فَقُلْتُ لَهُ: بَلَى يَا نَبِيَّ
اللهِ, فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ فَقَالَ:
كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا
نَتَكَلَّمُ بِهِ, فَقَالَ: ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا
مُعَاذُ, وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي
النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ قَالَ: عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ
أَلْسِنَتِهِمْ.
“Apakah mau aku beritahukan
kepadamu pokok segala urusan, tiangnya dan puncaknya..?” Aku menjawab,
"Tentu saja mau wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Adapun
pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat, sedangkan puncaknya
adalah jihad." kemudian beliau berkata, “Maukah engkau aku jelaskan
mengenai hal yang menjaga itu semua?” Aku menjawab, “Mau wahai Rasulullah.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang lidahnya kemudian bersabda,
“Jagalah ini.” Aku berkata, “Wahai Nabiyullah, apakah kita akan disiksa karena
apa yang kita katakan?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ibumu
kehilanganmu, wahai Mu’adz! bukanlah manusia terjungkir di neraka di atas wajah
mereka atau beliau bersabda: di atas hidung mereka melainkan dengan sebab
lisan mereka.” (HR. Ahmad 36/345, at-Tirmidzi 2616, an-Nasai 11330, dishahihkan
Syaikh al-Albani di dalam Shahihu al-Jami’ 5136).
Dari Sahl bin Sa’id bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ
لَهُ الجَنَّةَ
“Barangsiapa bisa memberikan
jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya dan dua
kakinya, maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga” (HR. al-Bukhari 6474).
Sahl bin Abdullah at-Tustari
berkata, “ Barang siapa berkata sesuatu yang tidak bermanfaat sulit baginya
untuk berkata jujur.” (Jami’ul ‘Ulum wal hikam, Ibnu Rajab al-Hambali, hadits
ke 12).
Barangsiapa yang tidak mampu
menjaga lisannya, berarti dia bukan termasuk orang yang berakhlak dengan baik.
2. Meninggalkan
Perkara Yang Tidak Bermanfaat.
Allah ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا
قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah
diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah,
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr
[59]: 18-19).
Rasulullah shallallahu
’alaihi wasallam bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ
الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
“Di antara kebaikan islam
seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi 2317
Ibnu Majah 3976. Syaikh al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Dari Abu Hurairah berkata, dari
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا أَحْسَنَ أَحَدُكُمْ إِسْلاَمَهُ: فَكُلُّ حَسَنَةٍ يَعْمَلُهَا
تُكْتَبُ لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ وَكُلُّ
سَيِّئَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِمِثْلِهَا.
"Apabila seorang dari kalian baik keislamannya, maka dari
setiap ke- baikan yang dilakukannya akan ditulis baginya sepuluh (kebaikan)
semisalnya hingga tujuh ratus kali lipat, dan setiap satu kejelekan yang
dikerjakan akan ditulis satu kejelekan saja yang serupa dengannya hingga ia
menemui Allah.” (HR. Bukhari 42, Muslim 129, Ahmad 8217).
Hasan al-Basri berkata, “
Diantara ciri berpalingnya Allah dari seorang hamba Dia membuatnya sibuk dengan
hal-hal yang tidak bermanfaat.” (Jami’ul ‘Ulum wal hikam, Ibnu Rajab
al-Hambali, hadits ke 12).
3. Tenang Dan
Menahan Diri di Saat Marah.
Untuk memiliki akhlak yang baik
seseorang harus mampu mengendalikan dirinya, oleh karena itu Rasulullah memberi
nasehat demikian itu.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu
bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam :
أَوْصِنِيْ قَالَ : لَا تَغْضَبْ.
فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ : لَا تَغْضَبْ.
“Berilah aku wasiat” Beliau
menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya
berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau
jangan marah!”
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ
نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ.
“Orang yang kuat bukanlah yang
pandai bergulat, sungguh orang yang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya
ketika marah.” (HR. al-Bukhari 6114, Muslim 2609).
Dari Sahl bin Mu’adz bin Anas al-Juhaniy,
dari ayahnya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يُنَفِّذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ
يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الخَلَائِقِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ فِي أَيِّ
الحُورِ شَاءَ.
“Barangsiapa menahan kemarahan,
sedangkan dia mampu melampiaskannya, niscaya pada hari kiamat Allah ‘azza wa jalla
akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, sehingga Allah memberinya hak
memilih di antara bidadari sorga yang dia kehendaki.” (HR. at-Tirmidzi 2021,
Abu Dawud 4777, Ibnu Majah 4186, Ahmad 15619, Dihasankan oleh at-Tirmidzi dalam
as-Sunan, syaikh al-Albani didalam Shahihul Jami’ 6522 dan Shahih At-Targhib
2753).
Ketika seseorang sedang marah,
maka hendaknya dia tidak berbicara atau berbuat apapun. Karena jika hal itu
dilakukan, seringkali ucapan dan perbuatannya akan mengeluarkan seseorang
itu dari akhlak yang baik.
Oleh karena itu, disebutkan dalam
sebuah ucapan terkait jeleknya marah adalah:
الغَضَبُ
أَوَّلُهُ جُنُوْنٌ وَأٰخِرُهُ نَدَمٌ.
“Marah itu awalnya perbuatan
kegilaan dan pada akhirnya adalah sebuah penyesalan.”
Hal itu terjadi karena saat marah
ucapan dan tindakan yang dilakukan umumnya di luar kontrol. Maka bagi seseorang
yang sedang marah, hendaknya memiliki pola dan metode untuk mencegahnya.
Semisal yang disarankan Nabi dalam haditsnya, yaitu jika marah dalam keadaan
berdiri, maka hendaknya duduk. Jika duduk masih marah hendaknya berbaring, jika
berbaring masih marah hendaknya berwudhu, jika masih marah pergi ke masjid, dan
dalam riwayat lain ketika sedang marah, hendaknya diam.
4. Selamatnya
Hati.
Hendaknya seseorang yang memiliki
akhlak baik mendasari kecintaan kepada sesama, hendaknya menjauhkan diri dari
sifat hasad, iri, dengki, dendam dan juga kebencian tanpa alasan yang
dibenarkan syari’at.
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda:
لاَ
يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه.
“Tidaklah seseorang dari kalian
sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai
untuk dirinya.” (HR. al-Bukhari 13, Muslim 45).
Hadits ini dijadikan sandaran
oleh para ulama dalam bab akhlak, yaitu hendaknya hati seseorang itu selamat
dari sifat-sifat yang tidak terpuji, baik berupa hasad, iri, dengki, dan
berbagai macam penyakit hati yang lain.
Tidak jarang berbagai macam
penyakit muncul pada badan hal itu bermula dari hati yang kotornya yaitu hasad,
iri dan dengki tersebut.
Begitu pula seorang muslim
hendaknya tidak berburuk sangka kepada saudaranya sesama muslim.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ
بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا.
“Hai orang-orang yang beriman,
jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan
berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang
lain” (QS. Al-Hujurat[49]: 12).
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda:
إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ
تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا
وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا.
“Berhati-hatilah kalian dari
tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta
ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling
memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah
kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. al-Bukhari 5143, Muslim 2563).
Inilah hukum asal prasangka buruk
terhadap sesama Muslim, yaitu terlarang. Karena kehormatan seorang Muslim pada
asalnya terjaga dan mulia.
Orang yang penuh dengan
prasangka dan kecurigaan adalah orang yang tidak memiliki adab dan akhlak yang
baik. Karena kecurigaan akan mendorong perbuatan yang tidak bermanfaat bagi
dirinya sendiri dan orang lain, sikap seperti ini telah mengeluarkan seseorang
untuk memiliki keistimewaan adab dan akhlak yang baik.
Sebagaimana Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ.
“Maka sesungguhnya darah kalian,
harta-harta kalian, kehormatan kalian haram atas sesama kalian.” ( HR. al-Bukhari
105, 1679).
Demikianlah pilar-pilar akhlak
ini hendaknya dimiliki setiap kaum muslimin.
-----000-----
BAB 5
3 Pokok Dasar Utama
Akhlak.
Hasan al-Basri mengatakan, akhlak yang
baik terkumpul dalam tiga ungkapan berikut, Kafful adza (menahan gangguan),
badzlun nada (memberikan manfaat), Thalaqatul wajhi (wajah yang berseri-seri).
(Begitupula disebutkan Syaikh Muhammad Bin Shalih al-Utsaimin di dalam kitab
Syahu Riyadhus Shalihin bab Husnul Khuluk).
Adapun
penjelasannya sebagai berikut:
1. Kafful adza (menahan diri dari
mengganggu)
Yaitu dengan tidak mengganggu
orang lain baik melalui ucapan maupun perbuatannya.
Mengganggu
orang lain dengan lisannya, baik dengan cibiran, cacian, makian, hinaan dan
umpatan, hal ini bila dilakukan tanpa alasan termasuk perbuatan dosa dan
merupakan bentuk-bentuk gangguan kepada orang lain.
Allah ta’ala berfirman:
وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
“Dan Dia
melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi
pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl
[16]:90).
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا
اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا.
"Dan
orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat dengan perkataan
atau perbuatan tanpa ada kesalahan yang mereka lakukan, maka
sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata."
(QS. Al-Ahzab[33]: 58),
قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا.
“Perkataan yang baik dan
pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang
menyakiti.” (QS. Al-Baqarah [2]:263).
Kemudian Allah
ta’ala berfirman:
قَوْلٌ مَعْرُوفٌ
“Perkataan yang
baik.” (QS. Al-Baqarah[2]: 263).
Yang dimaksud
ialah kalimat yang baik dan doa buat orang muslim.
وَمَغْفِرَةٌ
“Dan pemberian
maaf.” (QS. Al-Baqarah[2]: 263).
Yakni memaafkan
dan mengampuni perbuatan aniaya yang ditujukan terhadap dirinya, baik berupa
ucapan maupun perbuatan.
خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُها أَذىً
lebih baik
daripada sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan. (Tafsir Ibnu
Katsir, QS. Al-Baqarah[2]: 263).
Dari Abdullah bin 'Amru dia
berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ.
“Seorang muslim adalah orang yang
kaum muslimin lainnya selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. al-Bukhari 10,
6468, Muslim 41).
وَإ ِمَاطَتُكَ الْـحَجَرَ وَالشَّوْكَةَ وَالْعَظْمَ عَنِ الطَّرِيْقِ لَكَ
صَدَقَةٌ وَإِفْرَاغُكَ مِنْ دَلْوِكَ فِـيْ دَلْوِ أَخِيْكَ لَكَ صَدَقَةٌ.
“Engkau menyingkirkan batu, duri,
dan tulang dari jalan adalah sedekah, engkau menuangkan air dari embermu ke
ember saudaramu adalah sedekah.” (HR. at-Tirmidzi 1956, Shahih Ibnu Hibban 474,
dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah 572).
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu
anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً
فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ
الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ.
“Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih, atau enam puluh cabang
lebih. Yang paling utama yaitu perkataan La ilaha illallah, dan yang paling
ringan yaitu menyingkirkan gangguan dari jalan, malu itu termasuk bagian dari
iman.” (HR. al-Bukhari 9, Muslim 35, Ahmad 9361, Abu Dawud 4676).
2. Badzlu nada (memberikan manfaat dan
kebaikan yang dimiliki).
Yaitu memberikan apa yang
dimilikinya berupa harta atau ilmu, kedudukan, atau manfaat kebaikan lainnya.
Allah
ta’ala berfirman:
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا
وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ
وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ.
Orang-orang yang menginfakkan
hartanya malam dan siang hari (secara) sembunyi-sembunyi maupun
terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut
pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (QS. Al-Baqarah[2]:274).
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
نَفَقَةُ الرَّجُلِ عَلَـىٰ أَهْلِهِ صَدَقَةٌ.
“Nafkah seorang suami kepada
keluarganya (istrinya) adalah sedekah.” (QS. al-Bukhari 4006, at-Tirmidzi
1965).
أَنَّ امْرَأَةً بَغِيًّا رَأَتْ كَلْبًا فِى يَوْمٍ حَارٍّ يُطِيفُ بِبِئْرٍ
قَدْ أَدْلَعَ لِسَانَهُ مِنَ الْعَطَشِ فَنَزَعَتْ لَهُ بِمُوقِهَا فَغُفِرَ
لَهَا.
“Ada seorang wanita pezina
melihat seekor anjing di hari yang panas terik. Anjing itu menngelilingi sumur
tersebut sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu wanita itu melepas
sepatunya (lalu menimba air dengannya). Ia pun diampuni karena amalannya
tersebut.” (HR. Ahmad 10583, Muslim 2245).
خَيْرُ الناسِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ.
“Sebaik-baik manusia adalah yang
paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Thabrani al-Mu’jam al-Awasath
6/52, Dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam shahihul jami’ 3289, Ash-Shahihah
427).
Dari Jabir bin Abdullah
radhiyallahu ‘anhu, Dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ
“Semua kebaikan itu adalah
sedekah.” (HR. Bukhari 6021, Muslim 1005).
3.
Thalaqatul wajhi (muka berseri-seri, ramah).
Yaitu dengan
cara menampakkan wajah berseri apabila berjumpa dengan sesama. (Jami’ul
‘Ulum wal Hikam 1/457).
Allah
ta’ala berfirman:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ.
“Jadilah pemaaf dan suruhlah
orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.”
(QS. Al-A’raf[7]:199).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا
وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.
“Bertaqwalah kepada Allah
dimanapun kau berada, dan hendaknya setelah melakukan kejelekan engkau
melakukan kebaikan yang dapat menghapusnya. Serta bergaulah dengan orang lain
dengan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad 21354, at-Tirmidzi
1987, dihasankan Syaikh al-Albani di dalam al-Misykah 16).
تَبَسُّمُكَ فِـيْ وَجْهِ أَخِيْكَ لَكَ صَدَقَةٌ.
“Senyummu kepada saudaramu adalah
sedekah…”(HR. at-Tirmidzi 1956, Shahih Ibnu Hibban 474, dishahihkan Syaikh
al-Albani di dalam ash-Shahihah 572).
لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ
بِوَجْهٍ طَلْقٍ.
“Janganlah engkau menganggap
remeh perbuatan baik sedikit pun, meskipun engkau berjumpa saudaramu dengan
wajah berseri-seri” (HR. Muslim 2626, Ahmad 20635).
-----000-----
BAB 6.
Ikhlas.
Dasar-dasar akhlak yang baik
diantaranya yaitu:
1.
Ikhlas dan Ittiba’.
Ikhlas merupakan sumber kebaikan
di dunia dan di akhirat, dimana seseorang tidak beramal kecuali karena Allah
semata demiikian pula hendaknya ittiba’ yaitu mengikuti sunnah Rasulullah
shallallahu ‘alahi wa sallam, karena dengan berpatokan ikhlas dan ittiba’ ini
menjadikan seseorang terbimbing.
Allah ta’ala berfirman:
ومَا
أُمِرُوْا إِلاَّلِيَعْبُدُاللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ.
“Padahal mereka tidak disuruh
kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam
(menjalankan) agama yang lurus…”(QS. Al-Bayyinah[98] : 5).
فَاعْبُدِ
اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ.
“Maka sembahlah
Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.” (QS. Az-Zumar [39]:2).
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا
يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا.
“Maka barangsiapa mengharap
pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan
janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada
Tuhannya." (QS. Alkahfi [18]:110).
Yakni dengan
mengerjakan amal yang semata-mata hanya karena Allah, tiada sekutu bagi-Nya.
Demikianlah syarat utama dari amal yang diterima oleh Allah ta’ala, yaitu harus
ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan syariat yang telah dijelaskan
oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Tafsir Ibnu Katsir, QS.
Al-Kahfi [17]:110).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ, وَإِنَّمَا لِكُلِّ
امْرِئٍ مَا نَوَى.
“Amal itu tergantung niatnya, dan
seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya.” (HR al-Bukhari 1, 6689, Muslim
1907).
Allah tidak melihat harta dan
rupa seseorang akan Allah tetapi melihat hati dan amal perbuatan seseorang.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
إِنَّ
اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلاَ صُوَرِكُـمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى
قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ.
“Sesungguhnya Allah tidak melihat
kepada bentuk rupa dan harta-harta kalian, akan tetapi Allah melihat kepada
hati-hati kalian dan amal-amal kalian.”(HR. Muslim 2564).
Banyak
orang berkata, “Meskipun saya tidak shalat, tidak memakai jilbab yang penting
hati kita baik dan tidak mengganggu orang lain.” Maka kita katakan, “ orang
seperti ini baik menurut pandangan manusia tapi menurut Allah tidak demikian,
karena Allah melihat hati kita dan amal perbuatan kita, seseorang yang tidak
taat kepada Allah tidak dianggap baik oleh Allah ta’ala, hendaknya baik menurut
manusia juga baik menurut Allah, yaitu mentaati apa yang diperintahkan Allah
ta’ala.”
Sufyan
ats-Tsauri rahimahullah mengatakan, “Tidaklah aku mengobati suatu penyakit
yang lebih sulit daripada masalah niatku. Karena ia sering
berbolak-balik.” (lihat Hilyah thalabul ilmi syaikh Bakar bin Abdullah Abu
Zaid).
Yusuf bin al Husain ar-Razi rahimahullah mengatakan,
”Sesuatu yang paling sulit di dunia ini adalah ikhlas. Betapa sering aku
berusaha mengenyahkan riya’ dari dalam hatiku, namun sepertinya ia kembali
muncul dengan warna yang lain.” (Jami’ul ‘Ulum, hal. 25).
Diriwayatkan dari Mutharrif bin
Abdullah rahimahullah bahwa dia mengatakan, ”Baiknya hati adalah
dengan baiknya amalan. Sedangkan baiknya amalan adalah dengan baiknya niat.”
(Jami’ul ‘Ulum, hal. 17)
Dari Ibnul
Mubarak rahimahullah, dia mengatakan, ”Betapa banyak amal yang kecil
menjadi besar gara-gara niat. Dan betapa banyak amal yang besar menjadi kecil
gara-gara niat.” (Jami’ul ‘Ulum, hal. 17).
Sahl bin Abdullah mengatakan:
”Tidak ada sesuatu yang lebih berat bagi jiwa daripada keikhlasan, karena di
dalamnya hawa nafsu tidak dapat bagian sama sekali.” (Jami’ul ‘Ulum, hal. 25).
-----000----
Tidak ada komentar:
Posting Komentar