MENGGAPAI
KEBAHAGIAAN YANG KEKAL ABADI.
إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ,
وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ
هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ
لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ . يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي
خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ
وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا
بَعْدُ
Ma’asyiral Muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Gema takbir, tahmid dan tahlil berkumandang di mana-mana.
Marilah kita bersyukur kepada Allah yang telah memberikan
kepada kita berbagai nikmat kepada kita, baik nikmat Islam, iman dan sunnah.
Jama’ah
shalat Id rahimani wa rahimakumullah.
Setelah kita
menjalankan puasa satu bulan penuh ada beberapa hal yang sudah semestinya kita
perhatikan dengan sungguh-sungguh yaitu:
1. Hendaknya Kita Menjaga Kebaikan Yang Biasa Kita
Lakukan.
Hal ini bisa
dicapai dengan:
1) Terus menerus di dalam menuntut ilmu.
Allah
ta’ala berfirman:
اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ.
“Allah (pemberi) cahaya (pada) langit dan bumi.” (QS. An-Nur[24]:35).
Ali ibnu Abu Talhah telah
meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna
firman-Nya: “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit
dan bumi.” (QS. An-Nur[24]: 35), Yakni Pemberi petunjuk kepada penduduk
langit dan bumi. (Tafsir Ibnu Katsir, QS. An-Nur[24]:35).
Allah ta’ala banyak memuji ilmu dan
orang-orang berilmu di dalam Al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ
الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ.
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang
yang beriman di antara kalian dan orang orang yang di beri ilmu dengan beberapa
derajat.” ( QS Al-Mujadilah[58]:11)
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ
عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.”
(HR. Ibnu Majah. Dishahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu
Majah 224)
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ
فِي الدِّينِ.
“Barangsiapa
yang Allah kehendaki kebaikan baginya maka Allah akan memberikan kefaqihan
(pemahaman) agama baginya. “ (HR. Bukhari 71, 3116, Muslim 1037).
Tentu ilmu yang diharapkan adalah ilmu yang dapat menjadikan
pelakunya takut kepada Allah ta’ala:
Allah
ta’ala berfirman:
اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ
مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤا.
“Hanya saja yang takut kepada Allah dari
sekian hamba-Nya adalah ulama.” (QS. Fatir[35]:28).
Imam Ahmad rahimahullah berkata:
أصلُ العلمِ الخشيةُ اللّٰهَ
“Asal (hakikat) ilmu
adalah rasa takut kepada Allah.” (Hilyah Thalibil Ilmi, Bakar bin Abdullah Abu
Zaid hal 11)
2. Senantiasa Menghiasi Diri Dengan Akhlak Mulia.
Hal ini
sebagaimana kita lakukan di saat kita berpuasa.
Allah ta’ala
berfirman:
وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan
sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al Qalam [68]:
4)
لَقَدْ
كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ.
“Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu..” (QS. Al-Ahzab [33]: 21).
Begitu
besar keutamaan akhlaq, diantaranya sebagaimana disebutkan Rasulullah
sallallahu ‘alaaihi wa sallam:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا .
“Orang
mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya, dan yang
paling baik di antara kamu sekalian adalah yang paling baik akhlaqnya terhadap
isteri-isterinya.” (HR. Ahmad 7402, Tirmidzi 1162, Abu Dawud 4682 dihasan
oleh syaikh al-Albani di dalam Ash-Shahihah 284).
Akhlaq
yang baik merupakan pemberat timbangan kelak pada hari kiamat.
مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ.
"Tidak ada sesuatupun yang lebih berat dalam timbangan
(amalan) seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlaq yang mulia." (HR.
Tirmidzi 2002, di hasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Ash-Shahihah 876).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang apa yang
paling banyak memasukkan manusia ke surga, maka beliau bersabda:
سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى
الله عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ. وَسُئِلَ
عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ.
“Takwa
kepada Allah dan bagusnya akhlak.” Dan beliau ditanya tentang apa yang paling
banyak memasukkan manusia ke neraka, maka beliau bersabda: “mulut dan farji
(kemaluan).” (HR Tirmidzi 2004, Abu Dawud 2596, Ibnu Majah 4246. Dihasankan
syaikh al-Albani, Lihat As-Shahihah 977)
3. Hendaknya
Menunaikan Hak Yang Menjadi Kewajiban Kita.
1) Hak kepada Allah
subhanahu wa ta’ala.
Bahwasanya setiap nikmat yang kita dapatkan
tidak lain dan tidak bukan datangnya dari Allah ta’ala.
Allah
ta’ala berfirman:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ..
“Dan apa saja nikmat yang ada
pada kamu, maka itu datangnya dari Allah.” (Qs. An Nahl [16]: 53).
Dan
setiap keburukan yang menimpa kita tidak ada yang menyelamatkan kita dari
keburukan tersebut kecuali Allah.
وَاِنْ يَّمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهٗٓ
اِلَّا هُوَ ۗوَاِنْ يَّمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
“Jika
Allah menimpakan kemudaratan kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya
selain Dia; dan jika Dia memberikan kebaikan kepadamu, Dia Maha Kuasa atas
segala sesuatu.”(QS. Al-An’am [6]: 17).
Allah
memiliki hak yang paling agung yang harus kita tunaikan, sebelum yang lain, hak
Allah yang paling utama yaitu mentauhidkan-Nya dan tidak menyekutukan dengan
sesuatu apapun.
Allah
ta’ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا
لِيَعْبُدُونِ.
“Tidaklah Aku
ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat
[51]: 56)
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا
أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ.
“Dan
sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):
"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu." (QS. An Nahl
[16]: 36).
Allah
ta’ala berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ
إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ.
“Dan
kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan
kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka
sembahlah olehmu sekalian akan Aku." (QS. Al Anbiyaa’ [21]: 25).
Dosa
yang paling besar disisi Allah adalah syirik.
Allah
ta’ala berfirman:
اِنَّ
اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ
يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا
“Sesungguhnya
Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi
Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia
kehendaki.“ (QS. An-Nisa’ [4]:48,116).
وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ
وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ.
“Dan janganlah kamu
menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat
kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, Maka
Sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim." (QS
Yunus[10]:106).
Kesyirikan
menghapuskan amal ibadah seseorang.
Allah
ta’ala brfirman:
وَلَقَدْ
أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ
لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
“Dan sesungguhnya telah
diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ‘Jika kamu
mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu
termasuk orang-orang yang merugi.’” (QS. Az-Zumar [39]: 65)
Dari Mu‘adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Aku pernah dibonceng oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas seekor
keledai yang bernama ‘Ufair. Lalu beliau bersabda:
يَا مُعَاذُ، هَلْ تَدْرِي حَقَّ اللَّهِ عَلَى
عِبَادِهِ، وَمَا حَقُّ العِبَادِ عَلَى اللَّهِ؟، قُلْتُ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ
أَعْلَمُ، قَالَ: فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى العِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ
يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقَّ العِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ
مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئً.
“Wahai Mu‘adz, tahukah engkau apa hak Allah atas hamba-hamba-Nya
dan apa hak hamba atas Allah?” Aku menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih
mengetahui.” Beliau bersabda: “Hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah mereka
beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” (HR.
Bukhari 2856, Muslim 30).
مَنْ مَاتَ لاَيُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَخَلَ
الْجَنَّةَ.
“Barang siapa mati tidak menyekutukan Allah
dengan sesuatupun niscaya akan masuk kedalam syurga.” (HR. Muslim 93).
2) Hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Konsekuensi dari syahadat
Muhammad Rasulullah mencakup empat hal yaitu :
تَصْدِيقُهُ فِيمَا أَخْبَرَ، وَطَاعَتُهُ
فِيمَا أَمَرَ، وَاجْتِنَابُهُ فِيمَا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ، وَلَا نَعْبُدُ
إِلَّا بِمَا شَرَعَ.
Membenarkan
apa yang dikabarkan, mentaati apa yang diperintahkan, menjahui apa yang
dilarang dan di peringatkan, dan tidak beribadah kecuali apa yang
disyari’atkan. "
(Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah" oleh Syaikh Muhammad bin Shalih
Al-Utsaimin).
Allah ta’ala berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ
فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ.
Katakanlah,
"Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah
mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian." (QS. Ali Imran [3]:31).
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الجَنَّةَ إِلَّا مَنْ
أَبَى»، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: «مَنْ أَطَاعَنِي
دَخَلَ الجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى.
“Seluruh umatku akan masuk surga kecuali yang
enggan.” Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, siapa yang enggan?” Beliau
bersabda: “Barang siapa yang taat kepadaku maka ia masuk surga, dan barang
siapa yang durhaka kepadaku maka sungguh ia telah enggan.” (HR. Bukhari 7280).
3) Hak kedua orang tua.
Orang
tua kita memiliki hak yang besar terhadap kita.
Allah
ta’ala berfirman:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا
تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا.
“Dan hendaklah kamu
beribadah hanya kepada Allah dan janganlah mempersekutukan dengan
sesuatu apapun juga dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua ibu bapak,”
(QS. An Nisaa’ [4]: 36)
Rasulullah sallallahu ‘alaihi
wa sallam ditanya:
أَيُّ
الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ؟ قَالَ: الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قُلْتُ: ثُمَّ
أَيٌّ؟ قَالَ: ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: ثُمَّ
الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ.
“Amalan apakah yang di
cintai Allah?” Beliau bersabda: “Shalat pada waktunya” “Kemudian apa” “Berbakti
kepada orang tua” “Kemudian apa” “Jihad di jalan Allah.” (HR. Ahmad 3998,
Muslim 85).
Adapun
di antara:
1. Berkata lemah lembut.
Allah
ta’ala berfirman:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ
أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا
وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا .
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu
jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.
Jika salah satu di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut
dalam pemeliharaanmu, maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya
perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada
keduanya perkataan yang mulia. (QS. Al isra’[17]:23).
2. Menghormati orang tua.
Allah
ta’ala berfirman:
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل
رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan
penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya
sebagaimana mereka berdua telah mendidikku waktu kecil.” (QS. Al
isra’[17]:23-24).
3.
Bersyukur kepada Allah dan
kepada kedua orang tua.
Allah ta’ala berfirman.
وَوَصَّيْنَا
الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ
فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ.
“Dan Kami
perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya
telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya
dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya
kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Lukman [31]:14).
4. Memperhatikan kebutuhan orang
tua.
Dari
tenaganya, mungkin membutuhkan dirinya.
Dari
tempat tinggalnya, layak atau tidak.
Dari
merawat kesehatannya, mebutuhkan pengobatan atau tidak.
Dari
keperluannya sehari-hari.
Dari
kedekatannya, mungkin membutuhkan kehadirannya.
Ini semua
masuk dalam firman Allah ta’ala:
وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا.
“Dan
pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik.” (QS. Lukman [31]: 15).
5. Mencari keridhan Allah.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
رَغِمَ اَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ اَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ اَنْفُ
قِيْلَ: مَنْ يَارَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ اَدْرَكَ اَبَوَيْهِ عِنْدَ
الْكِبَرِاَحَدُهُمَااَوْكِلَيْهِمَافَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ.
“Dari Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: celaka, celaka, Dia celaka, Lalu beliau ditanya orang,
Siapakah yang celaka, ya Rasulullah? Jawab Nabi sallallahu
‘alaihi wa sallam, Siapa yang
mendapati kedua orang tuanya (dalam usia lanjut), atau salah satu dari
keduanya, tetapi dia tidak memasukkannya ke dalam surga.” (HR. Muslim 2551).
رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الوَالِدِ،
وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ.
“Ridha Rabb tergantung ridha orang tua, dan
murka Allah tergantung murka orang tua”. (HR. Tirmidzi 1899 dishahihkan oleh
Syaikh Al-Albani di dalam Ash-Shahihah 516).
Meskipun demikian kita tidak boleh
mentaati di dalam kemaksiatan.
Allah
ta’ala berfirman:
وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي
مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا
مَعْرُوفًا.
"Dan
jika keduanya memaksamu mempersekutukan sesuatu dengan-Ku yang tidak ada
pengetahuanmu tentang Aku maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan
pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik.” (QS. Lukman [31]: 15).
4) Hak kerabat
Allah ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ
وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil
dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari
perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu
agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl [16]: 90)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رزقِهِ وَأَنْ يُنْسَأ
لَهُ فِي أثَرِه فَلْيَصِلْ رَحِمَه.
“Siapa
yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia
menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari 5985, Muslim 2557, Abu Dawud 1693).
Hakekat menunaikan hak dan menyambung silaturrahmi yaitu
sebagaimana disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنِ
الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قَطَعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا.
"Silaturahmi
bukanlah yang saling membalas kebaikan, akan tetapi seseorang yang berusaha
menyambung hubungan persaudaraannya meskipun diputus hubungan persaudaraan
dengan dirinya." (HR. Bukhari 5991, Abu Daud 1697, Tirmidzi 1908).
5) Hak suami
6) Hak istri
7) Hak anak
8) Hak tetangga.
4. Kenikmatan
dunia itu hanya sebentar, sedikit, sedangkan akhirat kekal selamanya.
1) Dunia hanya
sesaat.
Allah ta’ala berfirman:
قَالَ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا
قَلِيلًا لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ.
Allah berfirman, "Kalian tidak
tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kalian sesungguh
mengetahui.” (QS. Al-Mukminun[23]:114).
كَأَنَّهُمْ يَوْمَ
يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا
“Pada hari mereka melihat hari kiamat itu, mereka merasa seakan-akan
tidak tinggal (di dunia) kecuali hanya pada waktu sore atau pagi hari saja.”
(QS. An-Nazi’at [79]:49)
2) Dunia Hanyalah
Sedikit Jika Dibandingkan Akhirat.
Allah ta’ala berfirman:
قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ
خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَى.
“Kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu
lebih baik bagi orang-orang bertakwa". (QS. An-Nisa' [4]: 77).
Dari Sahl bin
Sa’d radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا
سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ.
"Seandainya
dunia ini bernilai di sisi Allah seperti sayap nyamuk, niscaya Dia tidak akan
memberikan seteguk air pun kepada orang kafir." (HR. Tirmidzi 2320, Ibnu
Majah 4110, dishahihkan syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah 940).
وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ
مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ – وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ –
فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ.
“Demi Allah, tidaklah dunia ini bagi akhirat melainkan
seperti jari tangan salah seorang dari kalian yang ini -Yahya (perowi) mengisyaratkan
dengan jari telunjuk- yang
dicelupkan ke dalam
air laut, maka lihatlah air yang kembali.” (HR. Muslim
7376).
3) Dunia Hanyalah
Kesenangan Yang Melalaikan.
Allah ta’ala berfirman:
وَمَا
الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
“Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS.
Al-Imran [3]: 185).
4) Dunia Penjara
Bagi Orang Beriman.
Dari Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
"Dunia
itu adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir."(HR.
Muslim 2956)
5) Dunia Rendah
Di Sisi Allah ta’ala.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ
الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرُ اللَّهِ وَمَا
وَالَاهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ .
“Dunia itu terlaknat dan segala yang
terkandung di dalamnya pun terlaknat, kecuali orang yang berdzikir kepada
Allah, yang melakukan ketaatan kepada-Nya, seorang ‘alim atau penuntut ilmu
syar’i.” (HR. Tirmidzi 2322, Ibnu Majah 4112. Dishahihkan
syaikh al-Albani di dalam shahih at-Targhib wa Tarhib 3244).
5. Wasiat bagi para wanita.
Agar mereka bertakwa kepada Allah,
bersyukur kepada suami-suami mereka.
Allah ta’ala
berfirman:
لَئِنْ
شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
.
"Sesungguhnya
jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada
kalian; dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya
azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]:7).
Hendaknya
menyadari suami adalah pemimpin keluarga.
Allah ta’ala berfirman:
اَلرِّجَالُ
قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ .
“Laki-laki (suami) adalah penanggung jawab atas
para perempuan (istri).” (QS. An-Nisa[4]:34).
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ
شَهْرَهَا، وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ
أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ.
“Apabila
seorang isteri mengerjakan shalat yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan,
menjaga kemaluannya, dan taat kepada suaminya, niscaya ia akan masuk Surga dari
pintu mana saja yang dikehendakinya.” (HR. Ahmad 1661, Ibnu Hibban 4163,
dishahihkan Syaikh al-Albani, di dalam
Shahihul Jami’ 660).
Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ
ِلأَحَدٍ َلأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا.
“Seandainya
aku dibolehkan seseorang bersujud kepada
orang lain, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya.” (HR.Tirmidzi
1159 Ibnu Majah 1853, di shahihkan Syaikh al-Albani di dalam al-Irwaa’1998).
Melihat
orang yang di bawah kita (didalam masalah harta).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ
تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا
نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ.
"Lihatlah kepada orang
yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena
yang demikian lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang
berikan kepadamu" (HR Bukhari 6490 Muslim 2963).
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam
mengatakan hakekat orang yang kaya:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى
غِنَى النَّفْسِ
“Tidaklah
kaya itu diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Akan tetapi yang dikatakan
kaya adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari 6446
Muslim 1051).
أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ قِيلَ:
أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ قَالَ: يَكْفُرْنَ العَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ
الإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ
شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ.
“Diperlihatkan
kepadaku neraka dan aku dapati kebanyakan penghuninya adalah para wanita yang
ingkar. Rasul ‘alaihish shalatu wassalam ditanya: “Apakah mereka ingkar kepada
Allah ? Nabi bersabda: “Mereka ingkar kepada suaminya dan ingkar kepada
kebaikan suaminya. Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang mereka
(istri-istrimu) selama satu tahun, kemuadian wanita tersebut melihat satu
kejelekan darimu, maka ia akan berkata: “Aku tak pernah melihat engkau berbuat
baik sedikitpun”( HR. Bukhari 1052, Muslim 907).
Demikianlah semoga bermanfaat aamiin.
-----000-----
Sragen 20-03-2026
Abu Ibrahim Junaedi Abdullah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar