MERAIH KEBAHAGIAAN DI HARI RAYA IDUL FITRI
إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ,
وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ
هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ
لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ . يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي
خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ
وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا
بَعْدُ
Takbir 3 kali.
Ma’asyiral Muslimin
rahimani wa rahimakumullah.
Pada hari ini
tanggal satu syawal seluruh umat muslim di Indonesia dan di belahan dunia
lainnya dengan serentak bertakbir, membesarkan dan mengagungkan nama Allah ta’ala.
Ketahuilah
bahwasanya hari ini adalah hari yang agung yang di dalamnya banyak sekali
kebaikan dan keberkahan, dan hari ini adalah hari besar yang disyari’atkan,
dahulu Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, dan pada
saat itu penduduk Madinah memiliki dua hari besar yang mereka bersuka ria dan
bergembira di dalamnya, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bertanya, “ Ada apa dengan dua hari ini..? kemudian para sahabat menjawab, dahulu
kita merayakan dua hari ini di masa jahiliyah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda, “ Sesungguhnya Allah ta’ala telah mengganti dua hari raya
kalian tersebut dengan yang lebih baik yaitu hari raya I’dul adha dan hari raya
I’dhul fitri. Maka ketahuilah wahai orang-orang yang beriman, bahwa hari Idhul
fitri ini bukanlah hari yang di ada-adakan, melainkan disyari’atkan oleh Allah ta’ala.
Ma’asyiral Muslimin
rahimani wa rahimakumullah.
Sesungguhnya seorang
mukmin hidupnya disiplin, diad mengikuti aturan dan bukan membuat aturan sesuka
dia, dia mengikuti perintah dan bukan untuk menolak perintah, kitab bisa lihat
kenapa satu bulan penuh di bulan Ramadhan kita tidak makan dan minum di siang
hari, kita menahan hawa nafsu dan syahwat kita, dan hari ini, hari I’dul fitri
kita diharuskan makan bahkan haram bagi seseorang yang berpuasa pada hari ini, mengapa
demikian..?!!
Kemarin (makan)
diharamkan sekarang di wajibkan, itulah seorang yang beriman dia diciptakan
untuk mengabdi kepada Allah azz awa jalla.
Allah
subhanahu wa ta’ala berfirman:
اَيَحْسَبُ الْاِنْسَانُ اَنْ يُّتْرَكَ سُدًىۗ
”Apakah manusia mengira mereka
akan dibiarkan begitu saja.?” (QS. Al-Qiyamah [75]:36).
Apakah kita diciptakan
tanpa aturan ..? tanpa diperintah dan tanpa dilarang…? Maka hendaknya kita
menyadari hal ini.
Allah ta’ala
berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ.
“Tidaklah Aku menciptakan jin
dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adzariyat [51]:56).
Takbir 3 kali
…..
Ma’asyiral Muslimin
rahimani wa rahimakumullah.
Marilah kita mengingat
betapa besarnya nikmat Allah yang diberikan kepada kita, kita bisa
menyelesaikan bulan Ramadhan, beramal shalih di dalamnya, dan dapat berkumpul Bersama
di hari yang penuh kebahagiaan dan keberkahan ini, maka hendaklah kita memperbanyak
bersyukur.
Dan termasuk bentuk
mensyukuri nikmat Allah dengan menampakkan kebahagiaan pada hari Idul fitri ini
karena itu termasuk syiar di dalam syari’at ini.
Allah ta’ala
berfirman:
قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ
خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ
“Katakanlah (Wahai nabi Muhammad),
“Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira. Itu
lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan (dunia ini).” (QS. Yunus [10]:
58).
Ma’asyiral Muslimin
rahimani wa rahimakumullah.
Oleh karenanya
hendaklah kita sebarkan kebahagiaan-kebahagiaan di antara kita, dan termasuk hal-hal
yang dapat kita lakukan agar kebahagiaan tersebar di kalangan kaum Muslimin pada
hari yang berbahagia ini:
1. Menyebarkan Salam.
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ
تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا.
أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا
السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ.
“Kalian tidak akan masuk surga sampai
kalian beriman. Dan kalian tidak akan beriman kecuali sampai kalian saling
mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian kepada suatu perkara yang jika
kalian melakukannya kalian akan saling mencintai? Maka tebarkanlah salam di
antara kalian.” (HR Muslim 54, Ahmad 10177).
2. Wajah Berseri-Seri.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ.
“Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim)
adalah sedekah bagimu.“ (HR. Tirmidzi 1956, dishahihkan Syaikh al-Albani
di dalam Ash-Shahihah 572).
3. Saling Memberi Hadiah.
Raslullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تَهَادَوْا تَحَابُّوا
“Salinglah
memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari Adab
al-Mufrad 594, dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam al Irwa’ 1601).
4. Ucapan Yang Baik.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْكَلِمَةُ
الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ
“Perkataan yang baik adalah sedekah.” (HR. Bukhari 2989, Muslim
1009).
5. Menunaikan Hak Allah Ta’ala.
Ketahuilah
setiap nikmat yang kita dapatkan tidak lain dan tidak bukan datangnya dari
Allah ta’ala.
Allah
ta’ala berfirman:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ..
“Dan apa saja nikmat yang ada
pada kamu, maka itu datangnya dari Allah.” (Qs. An Nahl [16]: 53).
Dan
setiap keburukan yang menimpa kita tidak ada yang menyelamatkan kita dari keburukan
tersebut kecuali Allah.
وَاِنْ يَّمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهٗٓ
اِلَّا هُوَ ۗوَاِنْ يَّمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
“Jika
Allah menimpakan kemudaratan kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya
selain Dia; dan jika Dia memberikan kebaikan kepadamu, Dia Maha Kuasa atas
segala sesuatu.”(QS. Al-An’am [6]: 17).
Maka
perlu dipahami bahwasanya Allah memiliki hak yang paling agung yang harus kita
tunaikan, sebelum hak-hak yang lain.
Hak
Allah yang paling utama yaitu mentauhidkan-Nya dan tidak menyekutukan dengan
sesuatu apapun.
Allah
ta’ala berfirman:
وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا
يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ.
“Dan janganlah kamu
menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat
kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, Maka
Sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim." (QS
Yunus[10]:106).
Dari Mu‘adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Aku pernah dibonceng oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas seekor
keledai yang bernama ‘Ufair. Lalu beliau bersabda:
يَا مُعَاذُ، هَلْ تَدْرِي حَقَّ اللَّهِ عَلَى
عِبَادِهِ، وَمَا حَقُّ العِبَادِ عَلَى اللَّهِ؟، قُلْتُ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ
أَعْلَمُ، قَالَ: فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى العِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ
يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقَّ العِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ
مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئً.
“Wahai Mu‘adz, tahukah engkau apa hak Allah atas hamba-hamba-Nya
dan apa hak hamba atas Allah?” Aku menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih
mengetahui.” Beliau bersabda: “Hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah mereka
beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” (HR.
Bukhari 2856, Muslim 30).
مَنْ مَاتَ لاَيُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَخَلَ
الْجَنَّةَ.
“Barang siapa mati tidak menyekutukan Allah
dengan sesuatupun niscaya akan masuk kedalam syurga.” (HR. Muslim 93).
6. Menunaikan Hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam.
Dan itu termasuk konsekuensi dari
syahadat Muhammad Rasulullah yang mencakup empat hal :
تَصْدِيقُهُ فِيمَا أَخْبَرَ، وَطَاعَتُهُ
فِيمَا أَمَرَ، وَاجْتِنَابُهُ فِيمَا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ، وَلَا نَعْبُدُ
إِلَّا بِمَا شَرَعَ.
Membenarkan apa yang dikabarkan,
mentaati apa yang diperintahkan, menjahui apa yang dilarang dan di peringatkan,
dan tidak beribadah kecuali apa yang disyari’atkan. " (Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah" oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin).
Allah ta’ala berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ
فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ.
Katakanlah, "Jika kalian
(benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosa kalian." (QS. Ali Imran [3]:31).
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الجَنَّةَ إِلَّا مَنْ
أَبَى»، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: «مَنْ أَطَاعَنِي
دَخَلَ الجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى.
“Seluruh umatku akan masuk surga kecuali yang
enggan.” Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, siapa yang enggan?” Beliau
bersabda: “Barang siapa yang taat kepadaku maka ia masuk surga, dan barang
siapa yang durhaka kepadaku maka sungguh ia telah enggan.” (HR. Bukhari 7280).
7. Hak Orang Tua.
Dan
termasuk hak yang paling penting adalah menunaikan hak hak orang tua dengan
berbakti kepada keduanya, mendoakan dan memohonkan ampun untuk keduanya, tidak
mengangkat suara dihadapan keduanya, dan
ketahuilah bahwa keberadaan orang tua kita termasuk nikmat pemberian Allah yang
sangat besar, dan nikmat ini akan sangat terasa bila kita telah kehilangan mereka,
Allah
ta’ala berfirman:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ
أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا
وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ
الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu
jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.
Jika salah satu di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut
dalam pemeliharaanmu, maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya
perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada
keduanya perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan
penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya
sebagaimana mereka berdua telah mendidikku waktu kecil.” (QS. Al isra’[17]:23-24).
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ
صَحَابَتِي؟ قَالَ: «أُمُّكَ»، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «أُمُّكَ»، قَالَ: ثُمَّ
مَنْ؟ قَالَ: «أُمُّكَ»، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «أَبُوكَ
Dari
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: “Siapakah manusia yang
paling berhak aku perlakukan dengan baik?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Ia
bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Ia bertanya lagi:
“Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Ia bertanya lagi: “Kemudian siapa?”
Beliau menjawab: “Ayahmu.” (HR. Bukhari 5971, Muslim 2548).
8. Haq Kepada
Kerabat Dan Sanak Saudara
Allah ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ
وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ
وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil
dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari
perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu
agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl [16]: 90)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رزقِهِ وَأَنْ يُنْسَأ
لَهُ فِي أثَرِه فَلْيَصِلْ رَحِمَه.
“Siapa
yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia
menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari 5985, Muslim 2557, Abu Dawud 1693).
Dan
ketauilah bahwasannya haram bagi seseorang mendiamkan saudaranya semuslim serta
memutus tali silaturrahim dan sesungguhnya itu termasuk dosa besar yang dapat
menyebabkan pelakunya terhalang dari kebaikan.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ
فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ يَلْتَقِيَانِ, فَيُعْرِضُ هَذَا, وَيُعْرِضُ هَذَا, وَخَيْرُهُمَا
اَلَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ .
“Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan
saudaranya lebih dari tiga malam. Mereka bertemu, lalu seseorang berpaling dan
lainnya juga berpaling. Yang paling baik di antara keduanya adalah yang memulai
mengucapkan salam.” (HR. Bukhari 6037, dan Muslim 2560, Ahmad 1589, Abu Dawud
4914)
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ
الْإِثْنَيْنِ، وَيَوْمَ الْخَمِيسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ
بِاللهِ شَيْئًا، إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ،
فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى
يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا
“Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan hari
Kamis, maka diampuni setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu
apa pun, kecuali seseorang yang antara dirinya dengan saudaranya terdapat
permusuhan, maka dikatakan: ‘Tangguhkanlah kedua orang ini sampai keduanya
berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tangguhkanlah
kedua orang ini sampai keduanya berdamai.” (HR. Muslim (2565.
9.
Memperhatikan Haq Tetangga
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ
حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ
“Jibril terus-menerus berwasiat
kepadaku tentang tetangga sampai aku mengira bahwa ia akan menjadikannya
sebagai ahli waris.” (HR. Bukhori 6015 dan Muslim 2625).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ
وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ.
“Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir,
hendaklah ia memuliakan tetangganya." (HR Bukhari 6019, Muslim 47).
Takbir 3x.. Allahu akbar
kabiira wal hamdulillahi katsira..
Catatan Wasiat:
Ma’asyiral Muslimin
rahimani wa rahimakumullah.
Pada hari Idhul fitri hari yang berbahagia
ini hendaklah kita tetap memperhatikan perintah-perintah Allah dan larangan-Nya,
agar kebahagiaan kita diridhai oleh Allah dan tidak menjerumuskan kedalam
kemurkaan Allah.
Dan sebagaimana kita membersihkan badan kita
dan memperindah diri kita dengan pakaian-pakaian baru dan wewangian hendaklah
kita juga memperhatikan kebersihan hati kita dan amalan-amalan kita dari
dosa-dosa, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ
لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى
قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ.
“Sesungguhnya Allah tidak memperhatikan rupa dan harta kalian. Akan tetapi
yang Allah lihat adalah hati dan amal kalian” (HR. Muslim 2564).
Dan ketahuilah bahwasanya seorang muslim
tidak akan terlepas dari dua hal kebahagiaan dan kesedihan akan tetapi saat dia
mendapatkan kebahagiaan dia bersyukur mengingat Allah dan saat tertimpa kesedihan
dia bersabar.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ
لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ
سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ
فَكَانَ خَيْراً لَهُ.
“Sungguh
menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya.
Tidaklah hal itu terjadi kecuali pada seorang mukmin. Apabila mendapatkan
kesenangan, dia bersyukur, maka itu baik baginya. Apabila tertimpa kesusahan,
dia pun bersabar, maka itu baik baginya.” (HR. Muslim 2999, shahih
Ibnu Hibban 2896).
Dan cara bahagia terbagi menjadi dua: bahagia
yang diridhai Allah dengan hal-hal yang dibolehkan dan bahagia dengan cara yang
tidak disukai oleh Allah seperti bermaksiat kepada-Nya, menggunakan nikmat yang
Allah berikan untuk perkara yang dibenci oleh Allah.
Ma’asyiral Muslimin
rahimani wa rahimakumullah.
Hendaklah kita selalu bertakwa kepada Allah
subhanahu wa ta’ala kapanpun dan di manapun kita berada, berpegang teguhlah di
jaman penuh fitnah ini dengan Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman yang benar.
Dan jagalah shalat karena sesungguhnya dia
adalah tiang agama, tanpanya bangunan iman yang ada dalam hati kita akan
runtuh, dan dia adalah perkara pertama yang akan dihisab pada hari kiamat
nanti, menunaikannya akan menambah keimanan seseorang dan meninggalkannya
termasuk kekufuran.
Dan hendaknya para wanita agar selalu menjaga
diri, menundukkan pandangan, menjaga kemaluan dan lisannya serta menjahui
pergaulan dan lingkungan yang buruk, karena ketahuilah bahwasannya jalan menuju
Surga dipenuhi dengan rintangan dipenuhi hal-hal yang kurang disukai, dan jalan
menuju neraka di penuhi dengan godaan syahwat dan hawa nafsu, maka selama kita
bersabar, berusaha terus menahan hawa nafsu dari bermaksiat, kita akan mendapatkan
apa yang telah Allah janjikan dari kebahagiaan, kenikmatan dan hal-hal yang
kita sukai.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اضْمَنُوا لِي سِتًّا مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَضْمَنْ لَكُمُ الْجَنَّةَ:
اصْدُقُوا إِذَا حَدَّثْتُمْ، وَأَوْفُوا إِذَا وَعَدْتُمْ، وَأَدُّوا إِذَا
اؤْتُمِنْتُمْ، وَاحْفَظُوا فُرُوجَكُمْ، وَغُضُّوا أَبْصَارَكُمْ، وَكُفُّوا
أَيْدِيَكُمْ
“Jaminlah
untukku enam perkara dari diri kalian, niscaya aku jamin bagi kalian surga:
jujurlah apabila kalian berbicara, penuhilah apabila kalian berjanji,
tunaikanlah apabila kalian diberi amanah, jagalah kemaluan kalian, tundukkanlah
pandangan kalian, dan tahanlah tangan kalian (dari menyakiti).” (HR. Ahmad 22757, dihasankan Syaikh al-Albani di dalam
ash-Shahihah 1470).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي
فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ.
“Aku
tidak meninggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi
laki-laki daripada wanita.”
(HR. Bukhari 5096, Muslim 2740).
اتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ،
فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ.
“Berhati-hatilah terhadap dunia dan berhati-hatilah
terhadap (fitnah) wanita, karena sesungguhnya fitnah pertama yang menimpa Bani
Israil adalah pada wanita.” (HR. Muslim 2742)
Kaum muslimin
yang semoga Allah merahmati kita semua.. bertakwalah kalian kepada Allah,
perhatikanlah anak-anak kalian, ajarkan mereka Al-Qur’an dan ilmu agama, contohkan
kepada mereka adab-adab bagaimana bersikap dengan akhlak yang baik, dan jauhkan
mereka dari lingkungan yang merusak, rangkullah mereka dengan bijaksana dan
kasih sayang, terutama bagi para pemuda, kita lihat di zaman ini banyak yang
terlena dengan hal yang tidak bermanfaat, sosial media dengan berbagai macam ideologi
dan tipu daya, sementara mereka belum mengerti bahaya di dalamnya, juga belum
memahami baik buruknya, dan justru banyak membuat mereka lalai dari perkara agama,
meninggalkan shalat dan dosa-dosa lain yang membahayakan dirinya dan orang
lain, hanya kepada Allah kita berdoa semoga Allah senantiasa memperbaiki
pemuda-pemuda Islam dan menjauhkan mereka dari fitnah serta cobaan-cobaan zaman
ini yang nampak maupun yang tersembunyi.
Takbir..
Ma’asyiral Muslimin
rahimani wa rahimakumullah.
Kaum muslimin yang semoga Allah senantiasa merahmati
kita..
Pada zaman ini kita di hadapkan dengan tantangan yang
besar, dari banyaknya fitnah syubhat dan syahwat sehingga antara kebaikan dan
keburukan, kebenaran dan kesesatan terasa samar, maka hendaknya kita
berhati-hati dan membentengi diri dengan terus mempelajari ilmu agama ini sesuai
pemahaman yang baik dan benar, ketahuilah bila hati seorang hamba telah jujur ingin
mencari kebenaran niscaya Allah akan tunjukkan dia kepada kebenaran yang
sebenarnya dan menjaganya dari keburukan-keburukan;
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ
“Barang
siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat
menyesatkannya.”
Takbir..
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya
bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian
untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. Al Ahzab: [33]:56)
Sholawat.. Doa-doa, Kaffaratul majlis, Salam..
Wallahu a’lam..
----000-----
Sragen
19-03-2026
Musa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar