عَشْرُ قَوَاعِدَ فِي ٱلِٱسْتِقَامَةِ
مَعَ ٱلْأَدِلَّةِ وَشَرْحِ ٱلْعُلَمَاءِ
SEPULUH KAIDAH
ISTIQAMAH DISERTAI DALIL DAN PENJELASAN PARA ULAMA
Muqaddimah
ٱلْـحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ ٱلصَّالِحَاتُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ
إِلَّا ٱللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ.
Segala puji
bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala amal shalih menjadi sempurna. Aku
bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata,
tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan
utusan-Nya. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarganya, dan
seluruh sahabatnya.
Amma ba‘du.
Istiqamah
merupakan satu kalimat yang mencakup.
Oleh karena
itu Allah dan Rasul-Nya mememrintahkan agar senantiasa istiqamah.
Allah ta’ala
berfirman:
فَاسْتَقِمْ
كَمَا أُمِرْتَ.
“Dan
istiqamahlah sebagaimana yang diperintahkan kepadamu.” (QS. Hud[11]:112).
Al Baghawi
berkata:
أَيِ:
اسْتَقِمْ عَلَى دِينِ رَبِّكَ، وَالْعَمَلِ بِهِ، وَالدُّعَاءِ إِلَيْهِ كَمَا
أُمِرْتَ.
“istiqamahlah
di atas agama Tuhanmu, beramal dengannya, berdoa kepadanya sebagaimana yang
diperintahkan kepadamu.” (Tafsir Al-Baghawi, QS. Hud[11]:112).
Dari Abu
‘Amr—ada yang menyebut pula Abu ‘Amrah—Sufyan bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu,
ia berkata,
قُلْتُ
يَارَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِيْ فِي الإِسْلامِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدَاً
غَيْرَكَ؟ قَالَ: “قُلْ آمَنْتُ باللهِ ثُمَّ استَقِمْ” رَوَاهُ مُسْلِمٌ
“Aku berkata:
Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak
perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu.” Beliau bersabda,
“Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim 38).
Ibnu Rajab Al-Hambali berkata:
|
|
"Istiqomah adalah menempuh jalan yang lurus,
yaitu agama yang tegak lurus tanpa ada kebengkokan sedikitpun baik ke kiri maupun ke kanan,
yang mencakup di dalamnya semua perbuatan taat
baik yang dhohir (nampak) maupun yang bathin (tersembunyi), dan meninggalkan
seluruh larangan. Sehingga menjadikan wasiat ini (untuk istiqomah) merupakan
wasiat yang mencakup seluruh dari cabang agama semuanya". (Jaami'ul ulum wal hikam hal 383-384).
Keimanan seseorang dituntut agar bisa istiqamah di saat diuji kesenangan
maupun kesusahan, di mana seseorang bisa saja goyah imannya setelah berkumpul
dan terpengaruh dengan orang yang tidak baik, atau di saat menerima ujian, atau
melakukan maksiat sehingga Allah titik hatinya, atau memang memiliki niat-niat
yang tidak baik sehingga Allah sesatkan berdasarkan hikmah-Nya.
Kejadian
semacam ini telah terjadi semenjak dahulu maupun sekarang.
Diantara kisah
tersebut yaitu:
Orang yang
turut berperang bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, namun tidak
bersabar ketika terluka dan akhirnya bunuh diri.
Bahwasanya ada seorang muslimin yang gagah berani dalam peperangan ikut
serta bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian Nabi shallallahu
'alaihi wasallam memperhatikan orang itu kemudian berkata: "Barangsiapa
ingin melihat lelaki penghuni neraka, silahkan lihat orang ini." Seorang
laki-laki akhirnya mengikutinya, dan rupanya lelaki tersebut merupakan orang
yang paling berani terhadap orang-orang musyrik. akhirnya lelaki tersebut
terluka dan dia ingin segera mati sebelum waktunya, maka ia ambil pucuk
pedangnya dan ia letakkan di dadanya kemudian ia hunjamkan hingga tembus
diantara kedua lengannya. Orang yang mengikuti lelaki tersebut langsung menemui
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata, 'Saya bersaksi bahwa
engkau utusan Allah.' 'apa itu? ' Tanya Nabi. Orang tadi menjawab; 'anda
berkata terhadap orang tersebut; 'siapa yang ingin melihat penghuni neraka,
silahkan lihat orang ini, ' orang itu merupakan orang yang paling pemberani
diantara kami, kaum muslimin. Lalu aku tahu, ternyata dia mati tidak diatas
keislaman, sebab dikala ia mendapat luka, ia tak sabar menanti kematian, lalu
bunuh diri.' Seketika itu pula Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Sungguh ada seorang hamba yang melakukan amalan-amalan penghuni neraka,
namun berakhir menjadi penghuni surga, dan ada seorang hamba yang mengamalkan
amalan-amalan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka, sungguh
amalan itu ditentukan dengan penutupan." (HR.
Bukhari 6607, Ahmad, 22835, Thabrani dalam Al-Mu’jamul Al-Kabir 5799).
Kisah muadzin
yang murtad.
Diceritakan
bahwa di Mesir pernah ada seorang pria yang senantiasa ke masjid untuk
mengumandangkan adzan dan iqomat sekaligus melaksanakan shalat. Dalam dirinya
terdapat sinar ketaatan dan cahaya ibadah.
Pada suatu
hari ia naik ke menara masjid untuk mengumandangkan adzan seperti biasanya. Di
bawah menara tersebut terdapat rumah seorang Nasrani.
Entah mengapa
ketika pria ini menengok ke dalam rumah tadi, tanpa sengaja ia melihat seorang
gadis pemilik rumah. Dia terfitnah dengan kecantikanya. Ia pun turun menemuinya
gadis tersebut dan meninggalkan adzan.
Sesampai di
rumah tersebut, bertanyalah wanita nashrani itu, “Ada perlu apa? Apa yang kamu
inginkan?
“Aku
menginginkanmu.”
“Mengapa?”
“Karena kamu
telah menawan akal pikiranku dan mengambil seluruh isi hatiku.”
“Aku tidak
akan tertipu dengan rayuanmu.”
“Aku Ingin
menikah denganmu.”
“Engkau
muslim, sedangkan aku Nasrani, ayahku tidak akan menikahkanku denganmu,”
sanggah wanita tadi.
“Kalau begitu
aku akan pindah ke agama Nashrani.”
“Jika engkau
melakukannya, maka aku akan menikah denganmu “ tegas wanita itu.
Maka si pria
langsung memeluk aagama Nashrani demi menikahi gadis tersebut dan tingggal di
rumahnya.
Masih pada
hari yang sama, siang harinya pria tadi naik ke atap rumah untuk satu
keperluan. Tiba tiba dia terjatuh dari atap rumah dan akhirnya meninggal.
Ironisnya, dia belum sempat menggauli gadis tersebut padahal sudah mengorbankan
agamanya.
Kisah ini bisa
menjadi pelajaran bagi setiap muslim, agar kita berhati-hati menjaga imannya
supaya tidak mudah terjebak oleh kemilaunya dunia, cantiknya wanita dan segala
rayuan yang ada. Karena menjual agama demi kesenangan dunia adalah sebuah
kerugian yang nyata dan penyesalan yang tiada tara.
Seorang muslim
seharusnya menundukkan pandangan, karena fitnah setiap saat datang dan kita
tidak tahu berawal dari mana kebinasaan itu muncul, sebagaimana kita juga tidak
tahu kebaikan kecil atau kebaikan yang dianggap besar yang akan memasukkan kita
kedalam surga.(Ibnu Qaiyyim Al jauziah dalam kitabnya Ad-dha’ wa Ad-dhawa’).
Kisah orang
yang sakit komplikasi.
Kisah
seseorang yang di uji dengan istrinya dirinya tidak bersabar dan akhirnya bunuh
diri.
Seseorang
telah di uji dengan sakit komplikasi, dirinya tidak sabar dan akhirnya bunuh
diri dengan menggantung.
Oleh karena
itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَوَ اللهِ
الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ
الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ
عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ
أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ
وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ
أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا.
“Demi Allah
yang tidak ada Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang
melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal
sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan
ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. sesungguhnya di antara kalian
ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka
tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan
perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga.” (HR. Bukhari
3208, Muslim 2643).
إِنَّمَا
الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
“Sesungguhnya
amal itu tergantung akhirnya.” (HR. Bukhari 6607).
Adapun sepuluh
kaidah istiqamah agar kita bisa istiqamah tersebut yaitu:
١ مِنْ
أَعْظَمِ أَسْبَابِ ٱلِٱسْتِقَامَةِ: ٱلْإِخْلَاصُ لِلَّهِ فِي ٱلْقَوْلِ وَٱلْعَمَلِ.
Kaidah
Pertama: Di antara sebab terbesar untuk istiqamah adalah ikhlas kepada Allah
dalam ucapan dan perbuatan.
Allah ta’ala
berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا
اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا
تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ
تُوعَدُونَ.
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, "Tuhan
kami ialah Allah, " kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka
malaikat akan turun kepada mereka (dengan
mengatakan), "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih;
dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah
dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fusilat[41:30).
Disebutkan di
dalam tafsir Ibnu Katsir, firman Allah ta’ala:
إِنَّ
الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا.
Sesungguhnya
orang-orang yang mengatakan, "Tuhan kami ialah Allah, " kemudian
mereka meneguhkan pendirian mereka. (QS. Fushshilat[41]: 30).
Yakni mereka
ikhlas dalam beramal semata-mata karena Allah subhanahu wa ta’ala saja, yaitu
dengan menaati apa yang telah diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala
kepada mereka. (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Fusilat [41]:30).
Dari Sa'id ibnu Imran yang mengatakan bahwa ia pernah membaca ayat berikut
di hadapan sahabat Abu Bakar As-Siddiq radhiyallahu ‘anhu, yaitu firman Allah
subhanahu wa ta’ala: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, "Tuhan
kami ialah Allah, " kemudian mereka meneguhkan
pendiriannya. (Fushshilat: 30) Lalu Abu Bakar mengatakan bahwa mereka
adalah orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun. (Tafsir
Ibnu Katsir, QS. Fusilat [41]:30).
Berdasarkan
penjelasan para sahabat dan para ulama dari ayat diatas istoqamah mencakup pada
tiga hal:
1) Istiqamah
di atas tauhid.
2) Istiqamah
di atas ketaatan.
3) Istiqamah
di atas keikhlasan.
Oleh karena
itu memahami kalimat syahadat dengan benar akan diberi pertolongan dengan
istiqamah di dunia dan di akhirat.
Allah ta’ala
berfirman:
يُثَبِّتُ
اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
وَفِي الْآخِرَةِ.
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh
(dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat.” (QS. Ibrahim [14]:27).
Qotadah As
Sadusi mengatakan, “Yang dimaksud Allah meneguhkan orang beriman di dunia
adalah dengan meneguhkan mereka dalam kebaikan dan amalan shalih. Sedangkan di
akhirat, mereka akan diteguhkan di kubur.” (Tafsir Al Qur’an Al
‘Azhim, 4/502.)
Siapapun yang
memahami tauhid dengan benar, niscaya akan menyadari bahwa tauhid dibutuhkan
dalam kehidupannya setiap saat, tauhid akan masuk keseluruh aspek kehidupan
manusia, menuntut manusia agar ikhlas di dalam melakukan semua bentuk ibadah,
muamalah maupun musibah yang menimpanya, yang wajib dia bersabar dan ikhlas
kepada Allah.
Allah ta’ala
berfirman:
ومَا أُمِرُوْا
إِلاَّلِيَعْبُدُاللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ.
"Padahal
mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan
kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…”(QS. Al-Bayyinah[98] : 5).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّمَا
الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى.
“Amal itu
tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya.” (HR
Bukhari 1, 6689, Muslim 1907).
Diantara
perkataan ulama agar di dalam ibadah hanya ditujukan kepada Allah semata:
Sufyan
ats-Tsauri rahimahullah mengatakan, “Tidaklah aku mengobati suatu penyakit
yang lebih sulit daripada masalah niatku. Karena ia sering
berbolak-balik.” (lihat Hilyah thalabul ilmi syaikh Bakar bin Abdullah Abu
Zaid).
Diriwayatkan
dari Mutharrif bin Abdullah rahimahullah bahwa dia mengatakan,
”Baiknya hati adalah dengan baiknya amalan. Sedangkan baiknya amalan adalah
dengan baiknya niat.” (Jami’ul ‘Ulum, hal. 17).
Dari Ibnul
Mubarak rahimahullah, dia mengatakan, ”Betapa banyak amal yang kecil
menjadi besar gara-gara niat. Dan betapa banyak amal yang besar menjadi kecil
gara-gara niat.” (Jami’ul ‘Ulum, hal. 17).
Sahl bin
Abdullah rahimahullah mengatakan, ”Tidak ada sesuatu yang lebih berat
bagi jiwa daripada keikhlasan, karena di dalamnya hawa nafsu tidak ambil bagian
sama sekali.” (Jami’ul ‘Ulum, hal. 25).
قَالَ ٱبْنُ ٱلْقَيِّمِ رحمه الله: وَالإِخْلَاصُ
لِلَّهِ هُوَ أَسَاسُ ٱلِٱسْتِقَامَةِ، وَبِقَدْرِ مَا يَكُونُ مَعَ ٱلْعَبْدِ مِنْ إِخْلَاصٍ يَكُونُ ثَبَاتُهُ.
“Keikhlasan
kepada Allah adalah dasar istiqamah. Sejauh mana keikhlasan seseorang, sejauh
itu pula keteguhannya.” (Miftaḥ Dar as-Sa‘adah, 1/106).
٢ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ ٱلِٱسْتِقَامَةِ: ٱلدُّعَآءُ بِالثَّبَاتِ.
Kaidah
Kedua: Di antara sebab terbesar untuk istiqamah adalah berdoa meminta
keteguhan.
Allah ta’ala:
قَالَ
تَعَالَى : رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا
وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً.
“Wahai Rabb
kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk kepada
kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu.” (QS. Ali ‘Imran[3]:
8).
قَالَ رَسُولُ ٱللَّهِ صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا
مُقَلِّبَ ٱلْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَىٰ دِينِكَ.
“Wahai Dzat
yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Bukhari di
dalam Al-Adabu Al-Mufrad 683, Tirmidzi 2140, di shahihkan Syaikh al-Albani di
dalam Dzilalul Jannah 225).
٣
مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الاِسْتِقَامَةِ:
التَّزَوُّدُ بِالْعِلْمِ النَّافِعِ
Kaidah Ketiga
: Di antara sebab terbesar untuk istiqamah adalah membekali diri dengan
ilmu yang bermanfaat.
Allah ta’ala
berfirman:
يَرْفَعِ
اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ.
“Allah akan
mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang orang
yang di beri ilmu dengan beberapa derajat.” (QS Al-Mujadilah[58]:11).
قُلْ هَلْ
يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا
يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ.
“Katakanlah,
“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
mengetahui?” Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima
pelajaran. (QS. Az-Zumar[39:9).
اِنَّمَا
يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤا.
“Hanya saja
yang takut kepada Allah dari sekian hamba-Nya adalah ulama.” (QS.
Fatir[35]:28).
Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
طَلَبُ
الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu
itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah. Dishahih oleh Syaikh Albani
dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah 224).
مَنْ يُرِدِ
اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ.
“Barangsiapa
yang Allah kehendaki kebaikan baginya maka Allah akan memberikan kefaqihan
(pemahaman) agama baginya. “ (HR. Bukhari 71, 3116, Muslim 1037).
مَنْ سَلَكَ
طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى
الْجَنَّةِ.
“Barang siapa
meniti suatu jalan untuk mencari ilmu padanya, Allah akan memudahkan baginya
jalan menuju surga.” (HR. Ahmad 8316, Tirmidzi 2646, Ibnu Majah 223,
dishahihkan Syaikh al-Albani di dalam Shahih Ibnu Majah 225).
فَضْلُ
العَالِمِ عَلىَ العَابِدِ كَفَضْلِ القَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ عَلىَ سَائِرِ
الكَوَاكِبِ.
“Keutamaan
orang yang berilmu (yang mengamalkan ilmunya) atas orang yang ahli ibadah
adalah seperti utamanya bulan di malam purnama atas semua bintang-bintang
lainnya.” (HR. Abu Dawud 3641, Ibnu Majah 223 di shahihkan Syaikh al-Albani di
dalam Al-Miskah 212).
قَالَ ٱبْنُ ٱلْقَيِّمِ رحمه الله : فَإِنَّ
مَصَابِيحَ ٱلْهُدَىٰ أَهْلُ ٱلْعِلْمِ وَٱلْإِيمَانِ، وَبِهِمْ تَهْتَدِي ٱلْأُمَمُ.
“Pelita
petunjuk adalah para ahli ilmu dan iman, dan dengan merekalah umat mendapatkan
petunjuk.” (Miftaḥ Dar as-Sa‘adah, 1/73).
٤ مِنْ
أَعْظَمِ أَسْبَابِ ٱلِٱسْتِقَامَةِ: تِلَاوَةُ ٱلْقُرْآنِ وَتَدَبُّرُهُ
Kaidah
Keempat: Di antara sebab terbesar untuk istiqamah adalah membaca Al-Qur'an
dan mentadabburinya.
Allah ta’ala
berfirman:
قَالَ
تَعَالَى : كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ
بِهِۦ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَـٰهُ تَرْتِيلًا
“Demikianlah
agar Kami teguhkan hatimu dengannya, dan Kami membacakannya secara tartil.”
(QS. Al-Furqan[25]: 32).
وَنُنَزِّلُ
مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا
يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an
suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al
Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (QS.
Al-Israa’ [17]: 82).
قَالَ ٱبْنُ تَيْمِيَّةَ رحمه الله : وَلَا
شَيْءَ أَنْفَعُ لِلْعَبْدِ فِي ٱثْبَاتِ قَلْبِهِ مِنْ تِلَاوَةِ ٱلْقُرْآنِ مَعَ ٱلتَّدَبُّرِ.
“Tidak ada
yang lebih bermanfaat bagi seseorang dalam meneguhkan hatinya selain membaca
Al-Qur’an disertai tadabbur.” (Majmu‘ al-Fatawa, 14/16).
٥ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ ٱلِٱسْتِقَامَةِ: مُجَالَسَةُ ٱلصَّالِحِينَ وَٱلِٱسْتِفَادَةُ مِنْهُمْ.
Kaidah
Kelima: Di antara sebab terbesar untuk istiqamah adalah duduk bersama
orang-orang shalih dan mengambil manfaat dari mereka.
Allah ta’ala
berfirman:
قَالَ
تَعَالَى : وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَاةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ.
“Bersabarlah
engkau bersama orang-orang yang menyeru Rabb mereka di pagi dan petang hari
dengan mengharap wajah-Nya.” (QS. Al-Kahf[18]: 28).
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ.
Wahai
orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama
orang-orang yang benar (jujur).” (QS. At-Taubah[9]:119).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَثَلُ ٱلْجَلِيسِ ٱلصَّالِحِ وَجَلِيسِ ٱلسُّوْءِ كَحَامِلِ ٱلْمِسْكِ وَنَافِخِ ٱلْكِيرِ.
“Perumpamaan
teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan
tukang besi. (HR. Bukhari 5534. Muslim 2628).
Allah ta’ala
berfirman:
الرَّجُلُ
عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ.
“Seseorang itu
mengikuti agama teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaknya seseorang di antara
kalian memperhatikan siapa yang dia jadikan teman dekat.” (HR. Abu Dawud,
4833;Tirmidzi, 2378. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani di dalam Shahihu Al-Jami’
3545).
قَالَ ٱبْنُ ٱلْجَوْزِيِّ رحمه الله : فَٱلْمُجَالَسَةُ لِلصَّالِحِينَ تُزَكِّي
ٱلنُّفُوسَ وَتُثَبِّتُ عَلَى ٱلْخَيْرِ.
“Bersahabat
dengan orang-orang shalih akan menyucikan jiwa dan meneguhkan di atas
kebaikan.” (Ṣayd al-Khaṭir, hlm. 14).
٦ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ ٱلِٱسْتِقَامَةِ: مُلَازَمَةُ
ذِكْرِ ٱللَّهِ.
Kaidah Keenam
diantara sebab seseorang istiqamah: Selalu berdzikir kepada Allah.
Allah ta’ala
berfirman:
قَالَ
تَعَالَى : ي يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ
ذِكْرًا كَثِيرًا. وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا.
“Wahai
orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang
sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. (QS.
Al-Aḥzab[33]: 41–42).
Ibnul Qayyim
rahimahullah berkata:
قَالَ ٱبْنُ ٱلْقَيِّمِ رحمه الله : وَٱلذِّكْرُ يُثَبِّتُ ٱلْقَلْبَ وَيَقْذِفُ فِيهِ ٱلنُّورَ وَٱلْقُوَّةَ.
“Dzikir
mengokohkan hati dan memancarkan cahaya serta kekuatan ke dalamnya. (Al-Wabil
as-Sayyib, hlm. 73).
٧ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ ٱلِٱسْتِقَامَةِ: ٱلِٱفْتِقَارُ إِلَى ٱللَّهِ.
Kaidah Ketujuh
diantara sebab istiqamah : Merasa sangat butuh kepada Allah.
Allah ta’ala
berfirman:
قَالَ
تَعَالَى : وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِى أَسْتَجِبْ لَكُمْ.
“Dan Rabb
kalian berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untuk
kalian." (QS. Ghafir[40]: 60).
قَالَ ٱلْحَسَنُ ٱلْبَصْرِيُّ رحمه الله : ٱلْعِبَادُ فِي فَاقَةٍ إِلَى ٱلدُّعَآءِ كَمَا هُمْ فِي فَاقَةٍ إِلَى
ٱلرِّزْقِ.
Para hamba
sangat membutuhkan doa sebagaimana mereka membutuhkan rezeki. (Jami‘ al-‘Ulum
wa al-Ḥikam, 1/225).
٨ ٱلصَّبْرُ عَلَى
ٱلطَّاعَةِ وَعَنِ ٱلْمَعْصِيَةِ وَعَلَى ٱلْأَقْدَارِ.
Kaidah
Kedelapan: Bersabar dalam ketaatan, meninggalkan maksiat, dan terhadap
takdir Allah.
Allah ta’ala
berfirman:
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ
لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ .
“Wahai
orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, dan
tetaplah bersiap siaga di perbatasan serta bertakwalah kepada Allah agar kamu
beruntung.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 200).
قَالَ ٱبْنُ تَيْمِيَّةَ رحمه الله : بِٱلصَّبْرِ وَٱلْيَقِينِ تُنَالُ ٱلْإِمَامَةُ فِي ٱلدِّينِ.
“Dengan
kesabaran dan keyakinan, seseorang akan meraih kedudukan sebagai pemimpin dalam
agama.” (Majmu‘ al-Fatawa, 10/38).
٩ ٱلرَّجَآءُ فِي رَحْمَةِ
ٱللَّهِ وَحُسْنُ ٱلظَّنِّ بِهِ.
Kaidah
Kesembilan: Berharap kepada rahmat Allah dan berbaik sangka kepada-Nya.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَا يَمُوتَنَّ
أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ ٱلظَّنَّ بِٱللَّه.
Janganlah
salah seorang dari kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan berbaik sangka
kepada Allah. (HR. Muslim 2877).
قَالَ ٱبْنُ رَجَبٍ رحمه الله : وَحُسْنُ
ٱلظَّنِّ يَكُونُ بِرَجَآءِ رَحْمَتِهِ
وَٱلتَّوَكُّلِ عَلَيْهِ وَطَلَبِ مَغْفِرَتِهِ.
Berbaik sangka
kepada Allah adalah dengan berharap pada rahmat-Nya, bertawakal kepada-Nya, dan
memohon ampunan-Nya. (Fatḥ al-Bari, 13/397).
١٠ ٱلتَّوْبَةُ وَٱلْإِنَابَةُ إِلَى ٱللَّهِ عَلَىٰ دَوَامٍ.
Kaidah
Kesepuluh: Selalu bertaubat dan kembali kepada Allah secara terus-menerus.
Allah ta’ala
berfirman:
قَالَ
تَعَالَى : وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ
لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.
“Dan
bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar
kalian beruntung.” (QS. An-Nur[24]: 31).
قَالَ ٱلنَّوَوِيُّ رحمه الله : ٱلتَّوْبَةُ وَاجِبَةٌ عَلَى ٱلْفَوْرِ، وَيَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ ٱلْمُبَادَرَةُ بِهَا دَائِمًا.
”Taubat wajib
dilakukan segera, dan seorang Muslim seharusnya selalu bersegera dalam
bertaubat.” (Syarḥ Ṣaḥiḥ Muslim, 17/59).
Semoga
bermanfaat Aamiin.
-----000-----
Sragen
9-4-2025
Junaedi
Abdullah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar