SYARAH KITAB
TAUHID
BAB 13
بَابٌ مِنَ الشِّرْكِ الِاسْتِعَاذَةُ بِغَيْرِاللَّهِ
TERMASUK
KESYIRIKAN MEMINTA PERLINDUNGAN KEPADA SELAIN ALLAH.
وَقَوْلُ اللَّهِ
تَعَالَى:﴿وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ
مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا﴾ الجن: ٦
“Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari
kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari
kalangan jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesesatan.” (QS.
Al-Jinn: 6)
وَعَنْ خَوْلَةَ بِنْتِ
حَكِيمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: مَنْ نَزَلَ مَنْزِلًا فَقَالَ: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ
اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ حَتَّى
يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ .رَوَاهُ
مُسْلِمٌ .
Dari Khaulah
binti Hakim radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Aku Mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Barang
siapa singgah di suatu tempat, lalu ia mengucapkan: Aku berlindung dengan
kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan,
maka tidak ada sesuatu pun yang akan membahayakannya sampai ia pergi dari
tempat singgah tersebut.’” (HR. Muslim no. 2708, at-Tirmidzi no. 3437, Abu
Dawud no. 3898).
فِيهِ مَسَائِلُ
Di dalam bab
ini terdapat beberapa pembahasan penting:
الأُولَى: تَفْسِيرُ
آيَةِ الْجِنِّ.
Pertama: Penjelasan
(tafsir) ayat dalam surah Al-Jinn.
الثَّانِيَةُ: كَوْنُهُ
مِنَ الشِّرْكِ.
Kedua: Bahwa perbuatan
tersebut (meminta perlindungan kepada selain Allah) termasuk perbuatan syirik.
الثَّالِثَةُ:
الِاسْتِدْلَالُ عَلَى ذَلِكَ بِالْحَدِيثِ لِأَنَّ الْعُلَمَاءَ يَسْتَدِلُّونَ
بِهِ عَلَى أَنَّ كَلِمَاتِ اللَّهِ غَيْرُ مَخْلُوقَةٍ لِأَنَّ الِاسْتِعَاذَةَ
بِالْمَخْلُوقِ شِرْكٌ.
Ketiga: Berdalil
dengan hadits untuk menetapkan hal tersebut, karena para ulama berdalil dengan
hadits ini bahwa kalimat-kalimat Allah tidak diciptakan, sebab meminta
perlindungan kepada makhluk adalah syirik.
الرَّابِعَةُ: فَضِيلَةُ
هَذَا الدُّعَاءِ مَعَ اخْتِصَارِهِ.
Keempat: Keutamaan doa
ini meskipun lafaznya singkat.
الْخَامِسَةُ: أَنَّ
كَوْنَ الشَّيْءِ يَحْصُلُ بِهِ مَنْفَعَةٌ دُنْيَوِيَّةٌ مِنْ كَفِّ شَرٍّ أَوْ
جَلْبِ نَفْعٍ لَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ مِنَ الشِّرْكِ
Kelima:
Bahwa suatu perbuatan yang menghasilkan manfaat duniawi—baik berupa tertolaknya
bahaya atau datangnya manfaat—tidak menunjukkan bahwa perbuatan tersebut bukan
termasuk syirik.
-----000-----
الشرح
Syarah:
قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ كَثِيرٍ رَحِمَهُ اللَّهُ
فِي التَّفْسِيرِ: وَقَوْلُهُ
تَعَالَى:
﴿وَأَنَّهُ كَانَ
رِجَالٌ مِنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا﴾
Al-Hafizh
Ibnu Katsir رحمه الله
berkata dalam kitab tafsirnya:
“Firman
Allah Ta‘ala: ‘Dan sesungguhnya ada beberapa laki-laki dari kalangan manusia
yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari kalangan jin, maka
jin-jin itu menambah bagi mereka rahaqa.’
أَيْ: كُنَّا نَرَى أَنَّ لَنَا فَضْلًا عَلَى
الْإِنسِ لِأَنَّهُمْ كَانُوا يَعُوذُونَ بِنَا إِذَا نَزَلُوا وَادِيًا أَوْ
مَكَانًا مُوحِشًا مِنَ الْبَرَارِي وَغَيْرِهَاكَمَا كَانَتْ عَادَةُ الْعَرَبِ
فِي جَاهِلِيَّتِهَا يَعُوذُونَ بِعَظِيمِ ذَلِكَ الْمَكَانِ مِنَ الْجَانِّ أَنْ
يُصِيبَهُمْ بِشَيْءٍ يَسُوءُهُمْ.
Hal
itu merupakan kebiasaan orang-orang Arab pada masa jahiliyah, mereka meminta
perlindungan kepada jin yang dianggap sebagai penguasa besar di tempat
tersebut, agar jin itu tidak menimpakan sesuatu yang membahayakan mereka.
كَمَا كَانَ أَحَدُهُمْ يَدْخُلُ بِلَادَ
أَعْدَائِهِ فِي جِوَارِ رَجُلٍ كَبِيرٍ وَذِمَامِهِ وَخِفَارَتِهِ.
Keadaan
ini seperti seseorang yang memasuki negeri musuh lalu ia berlindung di bawah
perlindungan, jaminan, dan penjagaan seorang tokoh besar.
فَلَمَّا رَأَتِ الْجِنُّ أَنَّ الْإِنسَ
يَعُوذُونَ بِهِمْ مِنْ خَوْفِهِمْ مِنْهُمْ زَادُوهُمْ رَهَقًا أَيْ: خَوْفًا
وَإِرْهَابًا وَذُعْرًا حَتَّى بَقُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ مَخَافَةً وَأَكْثَرَ
تَعَوُّذًا بِهِمْ.
Ketika
para jin melihat bahwa manusia meminta perlindungan kepada mereka karena takut
kepada jin, maka para jin justru menambah rasa takut, teror, dan kengerian pada
manusia, hingga manusia menjadi semakin takut kepada jin dan semakin banyak
meminta perlindungan kepada mereka.
كَمَا قَالَ قَتَادَةُ: فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
أَيْ: إِثْمًا وَازْدَادَتِ الْجِنُّ عَلَيْهِمْ بِذَلِكَ جَرَاءَةً.
Sebagaimana
perkataan Qatadah: ‘Maka mereka menambah bagi mereka rahaqa,’ yaitu dosa. Dan
dengan sebab itu, para jin menjadi semakin berani terhadap manusia.”
قَوْلُهُ: (اسْتَعَاذَ)
هُوَ عَلَى وَزْنِ (اسْتَفْعَلَ) وَهَذَا
الْبِنَاءُ (الْأَلِفُ وَالسِّينُ وَالتَّاءُ) يَدُلُّ لُغَةً عَلَى أَحَدِ
مَعْنَيَيْنِ:الطَّلَب كَحَدِيثِ
مُسْلِمٍ الْقُدْسِيِّ: يَا ابْنَ آدَمَ
اسْتَطْعَمْتُكَ فَلَمْ تُطْعِمْنِي.
Adapun
kata “ista‘ādza” berasal dari wazan “istaf‘ala”. Bentuk kata ini (dengan
tambahan alif, sin, dan ta) dalam bahasa Arab menunjukkan salah satu dari dua
makna, dan di antaranya:
Pertama:
adalah makna permintaan. Sebagaimana
dalam hadits qudsi riwayat Muslim:
“Wahai
anak Adam, Aku meminta makanan kepadamu, namun engkau tidak memberi-Ku makan.”
وَكَذَلِكَ فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ الْآخَرِ : يَا
عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ.
Dan
dalam hadits qudsi yang lain: “Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali
orang yang Aku beri petunjuk. Maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku
akan memberi kalian petunjuk.”
٢- كَثْرَةُ
الْوَصْفِ فِي الْفِعْلِ
Kedua:
Banyaknya penegasan makna dalam satu perbuatan (bentuk kata).
كَقَوْلِهِ تَعَالَى:﴿وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا
إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ﴾ ]البقرة:
٣٤[
“Dan
(ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kalian kepada
Adam!’ maka mereka pun sujud kecuali Iblis; ia enggan, menyombongkan diri, dan
termasuk golongan orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah [2]: 34).
Maknanya:
Bahwa Iblis menambah kesombongannya, semakin besar rasa takabburnya dan
keangkuhannya.
وَمِثْلُ قَوْلِهِ تَعَالَى أَيْضًا :﴿وَاسْتَغْنَى اللَّهُ وَاللَّهُ غَنِيٌّ
حَمِيدٌ﴾]التغابن: ٦[
“Dan
Allah Maha Tidak Membutuhkan (apa pun), dan Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS.
At-Taghabun [64]: 6).
الاسْتِعَاذَةُ: طَلَبُ الْعَوْدِ
Isti‘adzah
adalah: permintaan perlindungan.
قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ كَثِيرٍ رَحِمَهُ اللَّهُ:وَالِاسْتِعَاذَةُ
هِيَ الِالْتِجَاءُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى وَالِالْتِصَاقُ بِجَنَابِهِ مِنْ
شَرِّ كُلِّ ذِي شَرٍّ.
“Isti‘adzah
adalah berlindung dan bersandar kepada Allah Ta‘ala, serta melekat pada
sisi-Nya dari keburukan setiap yang memiliki keburukan.
وَالْعِيَاذُ يَكُونُ لِدَفْعِ الشَّرِّ
وَالرِّيَاذُ يَكُونُ لِطَلَبِ جَلْبِ الْخَيْرِ.
Adapun
‘iyadz (perlindungan) digunakan untuk menolak keburukan, sedangkan riyadz
digunakan untuk meminta datangnya kebaikan.”
الاسْتِعَاذَةُ تَتَضَمَّنُ عَمَلَيْنِ
Isti‘adzah
mencakup dua macam perbuatan:
١- عَمَلًا
بَاطِنًا وَهُوَ
تَوَجُّهُ الْقَلْبِ وَسُكُونُهُ وَاضْطِرَارُهُ وَحَاجَتُهُ إِلَى هَذَا
الْمُسْتَعَاذِ بِهِ وَاعْتِصَامُهُ بِهِ وَتَفْوِيضُ أَمْرِ نَجَاتِهِ إِلَيْهِ.
Pertama: perbuatan batin, yaitu arah dan
ketergantungan hati, ketenangannya, keterpaksaannya, dan kebutuhannya kepada
tempat berlindung tersebut, bersandar penuh kepadanya, serta menyerahkan
keselamatan dirinya kepadanya.
وَهَذَا لَا يَجُوزُ لِغَيْرِ اللَّهِ وَحْدَهُ
سَوَاءٌ كَانَ الْمَطْلُوبُ فِي طَاقَةِ الْمَخْلُوقِ أَمْ لَا.
Perbuatan
batin ini tidak boleh ditujukan kepada selain Allah semata, baik perkara yang
diminta itu berada dalam kemampuan makhluk ataupun tidak.
٢- عَمَلًا
ظَاهِرًاوَهُوَ الطَّلَبُ وَهَذَا الْقَدْرُ وَحْدَهُ يَجُوزُ مِنَ الْمَخْلُوقِ
إِذَا اجْتَمَعَتْ فِيهِ ثَلَاثُخِصَالٍ:
Kedua: perbuatan lahir, yaitu sekadar permintaan. Batasan
ini saja boleh dilakukan kepada makhluk apabila terpenuhi tiga syarat.
حَيٌّ, حَاضِرٌ, قَادِرٌ.
(Yaitu tiga syarat): hidup, hadir, dan
mampu.
وَخُلَاصَتُهُ:أَنَّ
مَا لَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلَّا اللَّهُ؛ فَإِنْ طُلِبَ مِنْ غَيْرِ اللَّهِ
فَهُوَ شِرْكٌ.
Kesimpulannya: Segala sesuatu yang
tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah, maka jika hal itu diminta kepada
selain Allah, hukumnya adalah syirik.
وَفِي الْحَدِيثِ: سَتَكُونُ فِتَنٌ
الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ, وَالْقَائِمُ خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِي, وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي, مَنْ تَشَرَّفَ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ, فَمَنْ وَجَدَ مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا
فَلْيَعُذْ بِهِ»
(١)
“Kelak
akan terjadi berbagai fitnah. Orang yang duduk di dalamnya lebih baik daripada
yang berdiri, yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, dan yang berjalan
lebih baik daripada yang berlari. Barang siapa menampakkan diri terhadap fitnah
itu, niscaya fitnah itu akan menyeretnya. Maka siapa yang mendapatkan tempat
berlindung atau perlindungan, hendaklah ia berlindung dengannya.” (HR.
al-Bukhari dan Muslim)
الْجِنُّ:
الْجِنُّ جَمْعُ جِنِّيٍّ وَسُمُّوا بِالْجِنِّ
لِاجْتِنَانِهِمْ أَيْ لِاسْتِتَارِهِمْ عَنِ الْأَبْصَارِ.
Kata
jin adalah bentuk jamak dari jinni. Mereka dinamakan jin karena sifat mereka
yang tersembunyi, yaitu tidak terlihat oleh pandangan mata.
وَمِنْهُ سُمِّيَ الْجَنِينُ جَنِينًا لِأَنَّهُ
لَا يُرَى فِي بَطْنِ أُمِّهِ.
Dari
akar kata ini pula dinamakan janin sebagai janin, karena ia tidak terlihat di
dalam perut ibunya.
وَمِنْهُ الْمِجَنُّ الَّذِي يُتَّخَذُ فِي
الْحَرْبِ لِيَتَّقِيَ بِهِ الْمُقَاتِلُ سِهَامَ الْعَدُوِّ فَهُوَ يَجُنُّهُ
مِنَ السِّهَامِ.
Demikian
pula mijan (perisai) yang digunakan dalam peperangan, karena perisai tersebut
melindungi pejuang dari panah musuh.
وَمِنْهُ: الصَّوْمُ جُنَّةٌ أَيْ سِتْرٌ بَيْنَ
الْعَبْدِ وَبَيْنَ الْمَعَاصِي وَالنَّارِ.
Dan
dari makna ini pula sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Puasa adalah perisai,” (HR. Ahmad No. 8045,
at-Tirmidzi No. 2616, al-Baihaqi No. 300, al-Hakim No. 265 dihasankan oleh
at-Tirmidzi).
Yaitu
penghalang antara seorang hamba dengan kemaksiatan dan neraka.
الِاسْتِعَاذَةُ بِغَيْرِ اللَّهِ تَعَالَى
مَنْهِيٌّ عَنْهَا مِنْ أَوْجُهٍ:
Meminta perlindungan kepada selain
Allah dilarang dari beberapa sisi:
١- أَنَّ
اللَّهَ تَعَالَى أَمَرَ بِالِاسْتِعَاذَةِ بِهِ قَالَ تَعَالَى:﴿قُلْ أَعُوذُ
بِرَبِّ الْفَلَقِ﴾]الفلق: ١[
“Katakanlah: Aku berlindung kepada
Rabb yang menguasai waktu subuh.”
(QS. Al-Falaq [113]: 1)
وَهَذَا أَمْرٌ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى فَدَلَّ
عَلَى أَنَّهَا عِبَادَةٌ فَجَعْلُهَا لِغَيْرِهِ شِرْكٌ.
Ayat
ini merupakan perintah dari Allah Ta‘ala, yang menunjukkan bahwa isti‘adzah
adalah ibadah. Maka memalingkan ibadah ini kepada selain Allah adalah perbuatan
syirik.
وَكَذَلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى:﴿وَقُلْ رَبِّ
أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ﴾ ]المؤمنون:
٩٧–٩٨[
Dan katakanlah: Wahai Rabbku, aku
berlindung kepada-Mu dari godaan setan-setan. Dan aku berlindung kepada-Mu,
wahai Rabbku, agar mereka tidak mendekat kepadaku.”(QS. Al-Mu’minun[23]: 97–98).
أَنَّ الِاسْتِعَاذَةَ بِغَيْرِ اللَّهِ هِيَ مِنْ
أَعْمَالِ الْمُشْرِكِينَ. لِأَنَّ الْجِنَّ ذَكَرُوهَا عَنِ
الْجَاهِلِيَّةِ قَبْلَ سَمَاعِهِمْ لِلْقُرْآنِ.
Bahwa
meminta perlindungan kepada selain Allah termasuk perbuatan orang-orang
musyrik, karena para jin menyebutkan hal tersebut sebagai kebiasaan pada masa
jahiliah sebelum mereka mendengar Al-Qur’an.
أَنَّ غَيْرَ اللَّهِ تَعَالَى لَا يَمْلِكُ
كَشْفَ الضُّرِّ وَلَا جَلْبَ النَّفْعِ.
Bahwa selain Allah Ta‘ala tidak
memiliki kekuasaan untuk menghilangkan bahaya dan tidak pula mendatangkan
manfaat.
قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ
اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ
أَرَادَنِيَ بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ
Katakanlah:
Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kalian seru selain Allah, jika Allah
menghendaki keburukan menimpaku, apakah mereka mampu menghilangkan keburukan
itu, atau jika Dia menghendaki rahmat bagiku, apakah mereka mampu menahan
rahmat-Nya. (QS. Az-Zumar [39]: 38)
قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ
الْمُتَوَكِّلُونَ.
Katakanlah:
Cukuplah Allah bagiku, kepada-Nya orang-orang yang bertawakal berserah diri. (QS.
Az-Zumar [39]: 38)
فَصَارَ ذَلِكَ مِنَ اتِّخَاذِ الْأَنْدَادِ مَعَ
اللَّهِ تَعَالَى
Maka
hal tersebut termasuk menjadikan tandingan-tandingan selain Allah Ta‘ala.
أَنَّ الِاسْتِعَاذَةَ هِيَ مِنَ الدُّعَاءِ
وَدُعَاءُ غَيْرِ اللَّهِ تَعَالَى شِرْكٌ
Bahwa
meminta perlindungan termasuk bagian dari doa, dan berdoa kepada selain Allah
adalah syirik.
وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا
يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ.
Dan
janganlah engkau berdoa kepada selain Allah sesuatu yang tidak memberi manfaat
dan tidak pula memberi mudarat kepadamu jika engkau melakukannya, maka sungguh
engkau termasuk orang-orang yang zalim. (QS. Yunus[10]:106).
قُلْ إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا.
Katakanlah:
Sesungguhnya aku hanya berdoa kepada Rabbku dan aku tidak mempersekutukan
seorang pun dengan-Nya.
فِي الْآيَةِ الْكَرِيمَةِ تَحْرِيمُ الِاسْتِعَاذَةِ بِغَيْرِ اللَّهِ
تَعَالَى
Dalam
ayat yang mulia ini terdapat pengharaman meminta perlindungan kepada selain
Allah Ta‘ala.
وَأَنَّ مَنِ الْتَجَأَ إِلَى غَيْرِ اللَّهِ
خَذَلَهُ اللَّهُ
Dan
bahwa siapa yang berlindung kepada selain Allah, maka Allah akan membiarkannya
dalam kehinaan.
وَفِيهَا إِثْبَاتُ وُجُودِ الْجِنِّ وَأَنَّ
فِيهِمْ رِجَالًا وَنِسَاءً
Dan
di dalamnya terdapat penetapan adanya jin serta bahwa di antara mereka ada
laki-laki dan perempuan.
قَوْلُهُ تَعَالَى: فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
Firman
Allah Ta‘ala: Maka mereka menambah bagi mereka rahaq.
يَعْنِي خَوْفًا وَاضْطِرَابًا فِي الْقَلْبِ
Yang
dimaksud adalah rasa takut dan kegelisahan di dalam hati.
أَوْجَبَ لَهُمُ الْإِرْهَاقَ
Hal
itu menimpakan kepada mereka tekanan dan penderitaan.
وَالرَّهَقُ يَكُونُ فِي الْأَبْدَانِ
وَالْأَرْوَاحِ
Dan
rahaq bisa terjadi pada badan maupun ruh.
فَلَمَّا كَانَ كَذَلِكَ تَعَاظَمَتِ الْجِنُّ
وَزَادَ شَرُّهَا
Ketika
demikian, para jin semakin besar kesombongannya dan semakin bertambah
keburukannya.
قَوْلُهُ: بِكَلِمَاتِ اللَّهِ
Maksud
perkataan “dengan kalimat-kalimat Allah”.
المُرَادُ بِالْكَلِمَاتِ هُنَا: الْكَلِمَاتُ
الشَّرْعِيَّةُ وَالْكَوْنِيَّةُ
Yang
dimaksud dengan kalimat-kalimat di sini adalah kalimat-kalimat syar‘i dan
kalimat-kalimat kauni.
فَكَلِمَاتُهُ الدِّينِيَّةُ الشَّرْعِيَّةُ هِيَ
شَرْعُهُ تَعَالَى الَّذِي أَنْزَلَهُ عَلَى عِبَادِهِ
Kalimat-kalimat-Nya
yang bersifat agama dan syariat adalah syariat Allah Ta‘ala yang Dia turunkan
kepada hamba-hamba-Nya.
وَأَمَّا كَلِمَاتُهُ الْكَوْنِيَّةُ
الْقَدَرِيَّةُ
Adapun
kalimat-kalimat-Nya yang bersifat kauni dan qadari,
فَهِيَ الَّتِي يُكَوِّنُ اللَّهُ بِهَا
الْأَشْيَاءَ وَيُقَدِّرُهَا
yaitu
kalimat-kalimat yang dengannya Allah menciptakan sesuatu dan menetapkannya.
فَهِيَ الَّتِي لَا يُجَاوِزُهَا بَرٌّ وَلَا
فَاجِرٌ
Kalimat-kalimat
ini tidak bisa dilampaui oleh orang yang baik maupun orang yang jahat.
فَقَضَاءُ اللَّهِ تَعَالَى وَاقِعٌ لَا مَحَالَةَ
Maka
ketetapan Allah Ta‘ala pasti terjadi dan tidak mungkin tertolak.
لَا يَتَجَاوَزُهُ الْبَرُّ وَلَا الْفَاجِرُ
Tidak
dapat dilampaui oleh orang yang saleh maupun orang yang durhaka.
وَفِي الْحَدِيثِ
Dan
dalam sebuah hadits disebutkan,
أَتَانِي جِبْرِيلُ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ قُلْ
Jibril
mendatangiku lalu berkata, “Wahai Muhammad, ucapkanlah.”
قُلْتُ وَمَا أَقُولُ
Aku
berkata, “Apa yang harus aku ucapkan?”
قَالَ قُلْ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ
التَّامَّاتِ
Dia
berkata, “Ucapkanlah: Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang
sempurna.”
الَّتِي لَا يُجَاوِزُهُنَّ بَرٌّ وَلَا فَاجِرٌ
Yang
tidak dapat dilampaui oleh orang yang baik maupun orang yang jahat.
مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ وَذَرَأَ وَبَرَأَ
Dari
kejahatan apa saja yang Dia ciptakan, Dia adakan, dan Dia bentuk.
وَمِنْ شَرِّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ
Dan
dari kejahatan apa saja yang turun dari langit.
وَمِنْ شَرِّ مَا يَعْرُجُ فِيهَا
Dan
dari kejahatan apa saja yang naik ke langit.
وَمِنْ شَرِّ مَا ذَرَأَ فِي الْأَرْضِ وَبَرَأَ
Dan
dari kejahatan apa saja yang Dia adakan dan Dia ciptakan di bumi.
وَمِنْ شَرِّ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا
Dan
dari kejahatan apa saja yang keluar darinya.
وَمِنْ شَرِّ فِتَنِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ
Dan
dari kejahatan fitnah malam dan siang.
وَمِنْ شَرِّ كُلِّ طَارِقٍ يَطْرُقُ
Dan
dari kejahatan setiap makhluk yang datang di waktu malam.
إِلَّا طَارِقًا يَطْرُقُ بِخَيْرٍ يَا رَحْمَنُ
Kecuali
yang datang membawa kebaikan, wahai Dzat Yang Maha Pengasih.
قَوْلُهُ: التَّامَّاتِ
Maksud
kata “yang sempurna”.
أَيْ الَّتِي لَيْسَ فِيهَا نَقْصٌ وَلَا عَيْبٌ
Yaitu
yang tidak mengandung kekurangan dan tidak ada cacat padanya.
وَتَمَامُ الْكَلَامِ يَكُونُ بِأَمْرَيْنِ
Kesempurnaan
kalam terwujud dengan dua perkara.
الصِّدْقُ فِي الْأَخْبَارِ
Kejujuran
dalam setiap berita.
وَالْعَدْلُ فِي الْأَحْكَامِ
Keadilan
dalam setiap hukum.
وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا
Telah
sempurna kalimat Rabbmu dalam kebenaran dan keadilan.
لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ
Tidak
ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya.
وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Dan
Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
قَوْلُهُ: مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
Maksudnya:
dari kejahatan semua makhluk yang di dalamnya terdapat keburukan.
لِأَنَّ هُنَاكَ خَلْقًا لَيْسَ فِيهِ شَرٌّ
فِيهِمْ شَرٌّ.
Karena
ada sebagian makhluk yang tidak memiliki unsur keburukan sama sekali, pada
sebagian makhluk terdapat unsur keburukan.
كَالْأَنْبِيَاءِ وَالْمَلَائِكَةِ وَغَيْرِهِمْ
berbeda
dengan para nabi, malaikat, dan selain mereka yang tidak mengandung keburukan
sama sekali.
مِنْ فِقْهِ الْمُصَنِّفِ فِي إِيرَادِ الْحَدِيثِ
بَعْدَ الْآيَةِ هُوَ الدَّلَالَةُ عَلَى أُمُورٍ مِنْهَا.
Di
antara pemahaman penulis ketika menyebutkan hadits setelah ayat adalah untuk
menunjukkan beberapa perkara penting, di antaranya:
أَنَّ الِاسْتِعَاذَةَ تَجُوزُ بِصِفَاتِهِ
تَعَالَى أَيْضًا
Bahwa
meminta perlindungan boleh dilakukan dengan menyebut sifat-sifat Allah Ta‘ala.
وَكَمَا فِي الْحَدِيثِ
Sebagaimana
dalam hadits:
أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا
أَجِدُ وَأُحَاذِرُ
Aku
berlindung kepada Allah dan dengan kekuasaan-Nya dari keburukan yang aku
rasakan dan aku khawatirkan.
الإِرْشَادُ إِلَى الْأُسْلُوبِ النَّبَوِيِّ فِي
الدَّعْوَةِ
Petunjuk
kepada metode dakwah Nabi,
أَنَّكَ إِذَا أَغْلَقْتَ بَابًا مِنَ الشَّرِّ
فَافْتَحْ عِوَضًا عَنْهُ بَابًا مِنَ الْخَيْرِ
bahwa
jika engkau menutup satu pintu keburukan, maka bukalah sebagai gantinya satu
pintu kebaikan.
مِثَالُهُ
Contohnya
adalah firman Allah Ta‘ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا
رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Wahai
orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengatakan “ra‘ina”, tetapi
katakanlah “unzurna”, dan dengarkanlah. Dan bagi orang-orang kafir ada azab
yang pedih.
فَائِدَةٌ
Faedah
penting:
كَلَامُ اللَّهِ تَعَالَى صِفَةٌ مِنْ صِفَاتِهِ
وَلَيْسَ بِمَخْلُوقٍ
Kalam
Allah Ta‘ala adalah salah satu sifat-Nya dan bukan makhluk.
وَدَلَّ عَلَى ذَلِكَ الْحَدِيثُ
Hadits-hadits
menunjukkan hal tersebut.
وَقَدْ عُلِمَ أَنَّ الِاسْتِعَاذَةَ لَا تَجُوزُ
إِلَّا بِاللَّهِ تَعَالَى أَوْ بِصِفَةٍ مِنْ صِفَاتِهِ
Dan
telah diketahui bahwa meminta perlindungan tidak boleh kecuali kepada Allah
Ta‘ala atau dengan salah satu sifat-Nya.
قَالَ أَبُو دَاوُدَ بَعْدَ حَدِيثِ
Abu
Dawud berkata setelah menyebutkan hadits:
أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ
مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ
Aku
melindungi kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap
setan, binatang berbisa, dan dari setiap pandangan mata yang berbahaya.
هَذَا دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الْقُرْآنَ لَيْسَ
بِمَخْلُوقٍ
Ini
adalah dalil bahwa Al-Qur’an bukan makhluk.
وَكَمَا فِي الْحَدِيثِ
Sebagaimana
dalam hadits lainnya:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ
سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ
Ya
Allah, aku berlindung dengan keridaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dan dengan
keselamatan dari-Mu dari hukuman-Mu.
-----000----
Sumber
Taudhihu Ar-Rashid fi Syarhi at Tauhid.
Abu
Abdillah Huldun ibn Mahmud.
Diterjemahkan
oleh Abu Ibrahim, Junaedi Abdullah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar