Kamis, 22 Januari 2026

SYARAH KITAB TAUHID BAB 13 TERMASUK KESYIRIKAN MEMINTA PERLINDUNGAN KEPADA SELAIN ALLAH.

 




SYARAH KITAB TAUHID

BAB 13

بَابٌ مِنَ الشِّرْكِ الِاسْتِعَاذَةُ بِغَيْرِاللَّهِ

TERMASUK KESYIRIKAN MEMINTA PERLINDUNGAN KEPADA SELAIN ALLAH.

وَقَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى:﴿وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا الجن: ٦

“Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari kalangan jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesesatan.” (QS. Al-Jinn: 6)

وَعَنْ خَوْلَةَ بِنْتِ حَكِيمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ يَقُولُ: مَنْ نَزَلَ مَنْزِلًا فَقَالَ: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ .رَوَاهُ مُسْلِمٌ .

Dari Khaulah binti Hakim radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Aku Mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Barang siapa singgah di suatu tempat, lalu ia mengucapkan: Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan, maka tidak ada sesuatu pun yang akan membahayakannya sampai ia pergi dari tempat singgah tersebut.’” (HR. Muslim no. 2708, at-Tirmidzi no. 3437, Abu Dawud no. 3898).

فِيهِ مَسَائِلُ

Di dalam bab ini terdapat beberapa pembahasan penting:

الأُولَى: تَفْسِيرُ آيَةِ الْجِنِّ.

Pertama: Penjelasan (tafsir) ayat dalam surah Al-Jinn.

الثَّانِيَةُ: كَوْنُهُ مِنَ الشِّرْكِ.

Kedua: Bahwa perbuatan tersebut (meminta perlindungan kepada selain Allah) termasuk perbuatan syirik.

الثَّالِثَةُ: الِاسْتِدْلَالُ عَلَى ذَلِكَ بِالْحَدِيثِ لِأَنَّ الْعُلَمَاءَ يَسْتَدِلُّونَ بِهِ عَلَى أَنَّ كَلِمَاتِ اللَّهِ غَيْرُ مَخْلُوقَةٍ لِأَنَّ الِاسْتِعَاذَةَ بِالْمَخْلُوقِ شِرْكٌ.

Ketiga: Berdalil dengan hadits untuk menetapkan hal tersebut, karena para ulama berdalil dengan hadits ini bahwa kalimat-kalimat Allah tidak diciptakan, sebab meminta perlindungan kepada makhluk adalah syirik.

الرَّابِعَةُ: فَضِيلَةُ هَذَا الدُّعَاءِ مَعَ اخْتِصَارِهِ.

Keempat: Keutamaan doa ini meskipun lafaznya singkat.

الْخَامِسَةُ: أَنَّ كَوْنَ الشَّيْءِ يَحْصُلُ بِهِ مَنْفَعَةٌ دُنْيَوِيَّةٌ مِنْ كَفِّ شَرٍّ أَوْ جَلْبِ نَفْعٍ لَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ مِنَ الشِّرْكِ

Kelima: Bahwa suatu perbuatan yang menghasilkan manfaat duniawi—baik berupa tertolaknya bahaya atau datangnya manfaat—tidak menunjukkan bahwa perbuatan tersebut bukan termasuk syirik.

-----000-----

الشرح

Syarah:

قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ كَثِيرٍ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي التَّفْسِيرِ: وَقَوْلُهُ تَعَالَى:

﴿وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

Al-Hafizh Ibnu Katsir رحمه الله berkata dalam kitab tafsirnya:

“Firman Allah Ta‘ala: ‘Dan sesungguhnya ada beberapa laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari kalangan jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka rahaqa.’

أَيْ: كُنَّا نَرَى أَنَّ لَنَا فَضْلًا عَلَى الْإِنسِ لِأَنَّهُمْ كَانُوا يَعُوذُونَ بِنَا إِذَا نَزَلُوا وَادِيًا أَوْ مَكَانًا مُوحِشًا مِنَ الْبَرَارِي وَغَيْرِهَاكَمَا كَانَتْ عَادَةُ الْعَرَبِ فِي جَاهِلِيَّتِهَا يَعُوذُونَ بِعَظِيمِ ذَلِكَ الْمَكَانِ مِنَ الْجَانِّ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِشَيْءٍ يَسُوءُهُمْ.

Hal itu merupakan kebiasaan orang-orang Arab pada masa jahiliyah, mereka meminta perlindungan kepada jin yang dianggap sebagai penguasa besar di tempat tersebut, agar jin itu tidak menimpakan sesuatu yang membahayakan mereka.

كَمَا كَانَ أَحَدُهُمْ يَدْخُلُ بِلَادَ أَعْدَائِهِ فِي جِوَارِ رَجُلٍ كَبِيرٍ وَذِمَامِهِ وَخِفَارَتِهِ.

Keadaan ini seperti seseorang yang memasuki negeri musuh lalu ia berlindung di bawah perlindungan, jaminan, dan penjagaan seorang tokoh besar.

فَلَمَّا رَأَتِ الْجِنُّ أَنَّ الْإِنسَ يَعُوذُونَ بِهِمْ مِنْ خَوْفِهِمْ مِنْهُمْ زَادُوهُمْ رَهَقًا أَيْ: خَوْفًا وَإِرْهَابًا وَذُعْرًا حَتَّى بَقُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ مَخَافَةً وَأَكْثَرَ تَعَوُّذًا بِهِمْ.

Ketika para jin melihat bahwa manusia meminta perlindungan kepada mereka karena takut kepada jin, maka para jin justru menambah rasa takut, teror, dan kengerian pada manusia, hingga manusia menjadi semakin takut kepada jin dan semakin banyak meminta perlindungan kepada mereka.

كَمَا قَالَ قَتَادَةُ: فَزَادُوهُمْ رَهَقًا أَيْ: إِثْمًا وَازْدَادَتِ الْجِنُّ عَلَيْهِمْ بِذَلِكَ جَرَاءَةً.

Sebagaimana perkataan Qatadah: ‘Maka mereka menambah bagi mereka rahaqa,’ yaitu dosa. Dan dengan sebab itu, para jin menjadi semakin berani terhadap manusia.”

قَوْلُهُ: (اسْتَعَاذَ)

هُوَ عَلَى وَزْنِ (اسْتَفْعَلَ) وَهَذَا الْبِنَاءُ (الْأَلِفُ وَالسِّينُ وَالتَّاءُ) يَدُلُّ لُغَةً عَلَى أَحَدِ مَعْنَيَيْنِ:الطَّلَب كَحَدِيثِ مُسْلِمٍ الْقُدْسِيِّ: يَا ابْنَ آدَمَ اسْتَطْعَمْتُكَ فَلَمْ تُطْعِمْنِي.

Adapun kata “ista‘ādza” berasal dari wazan “istaf‘ala”. Bentuk kata ini (dengan tambahan alif, sin, dan ta) dalam bahasa Arab menunjukkan salah satu dari dua makna, dan di antaranya:

Pertama: adalah makna permintaan. Sebagaimana dalam hadits qudsi riwayat Muslim:

“Wahai anak Adam, Aku meminta makanan kepadamu, namun engkau tidak memberi-Ku makan.”

وَكَذَلِكَ فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ الْآخَرِ : يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ.

Dan dalam hadits qudsi yang lain: “Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk. Maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian petunjuk.”

٢- كَثْرَةُ الْوَصْفِ فِي الْفِعْلِ

Kedua: Banyaknya penegasan makna dalam satu perbuatan (bentuk kata).

كَقَوْلِهِ تَعَالَى:﴿وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ﴾ ]البقرة: ٣٤[

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kalian kepada Adam!’ maka mereka pun sujud kecuali Iblis; ia enggan, menyombongkan diri, dan termasuk golongan orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah [2]: 34).

Maknanya: Bahwa Iblis menambah kesombongannya, semakin besar rasa takabburnya dan keangkuhannya.

وَمِثْلُ قَوْلِهِ تَعَالَى أَيْضًا :﴿وَاسْتَغْنَى اللَّهُ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَمِيدٌ]التغابن: ٦[

“Dan Allah Maha Tidak Membutuhkan (apa pun), dan Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS. At-Taghabun [64]: 6).

الاسْتِعَاذَةُ: طَلَبُ الْعَوْدِ

Isti‘adzah adalah: permintaan perlindungan.

قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ كَثِيرٍ رَحِمَهُ اللَّهُ:وَالِاسْتِعَاذَةُ هِيَ الِالْتِجَاءُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى وَالِالْتِصَاقُ بِجَنَابِهِ مِنْ شَرِّ كُلِّ ذِي شَرٍّ.

“Isti‘adzah adalah berlindung dan bersandar kepada Allah Ta‘ala, serta melekat pada sisi-Nya dari keburukan setiap yang memiliki keburukan.

وَالْعِيَاذُ يَكُونُ لِدَفْعِ الشَّرِّ وَالرِّيَاذُ يَكُونُ لِطَلَبِ جَلْبِ الْخَيْرِ.

Adapun ‘iyadz (perlindungan) digunakan untuk menolak keburukan, sedangkan riyadz digunakan untuk meminta datangnya kebaikan.”

الاسْتِعَاذَةُ تَتَضَمَّنُ عَمَلَيْنِ

Isti‘adzah mencakup dua macam perbuatan:

١- عَمَلًا بَاطِنًا وَهُوَ تَوَجُّهُ الْقَلْبِ وَسُكُونُهُ وَاضْطِرَارُهُ وَحَاجَتُهُ إِلَى هَذَا الْمُسْتَعَاذِ بِهِ وَاعْتِصَامُهُ بِهِ وَتَفْوِيضُ أَمْرِ نَجَاتِهِ إِلَيْهِ.

Pertama: perbuatan batin, yaitu arah dan ketergantungan hati, ketenangannya, keterpaksaannya, dan kebutuhannya kepada tempat berlindung tersebut, bersandar penuh kepadanya, serta menyerahkan keselamatan dirinya kepadanya.

وَهَذَا لَا يَجُوزُ لِغَيْرِ اللَّهِ وَحْدَهُ سَوَاءٌ كَانَ الْمَطْلُوبُ فِي طَاقَةِ الْمَخْلُوقِ أَمْ لَا.

Perbuatan batin ini tidak boleh ditujukan kepada selain Allah semata, baik perkara yang diminta itu berada dalam kemampuan makhluk ataupun tidak.

٢- عَمَلًا ظَاهِرًاوَهُوَ الطَّلَبُ وَهَذَا الْقَدْرُ وَحْدَهُ يَجُوزُ مِنَ الْمَخْلُوقِ إِذَا اجْتَمَعَتْ فِيهِ ثَلَاثُخِصَالٍ:

Kedua: perbuatan lahir, yaitu sekadar permintaan. Batasan ini saja boleh dilakukan kepada makhluk apabila terpenuhi tiga syarat.

حَيٌّ, حَاضِرٌ, قَادِرٌ.

(Yaitu tiga syarat): hidup, hadir, dan mampu.

وَخُلَاصَتُهُ:أَنَّ مَا لَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلَّا اللَّهُ؛ فَإِنْ طُلِبَ مِنْ غَيْرِ اللَّهِ فَهُوَ شِرْكٌ.

Kesimpulannya: Segala sesuatu yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah, maka jika hal itu diminta kepada selain Allah, hukumnya adalah syirik.

وَفِي الْحَدِيثِ: سَتَكُونُ فِتَنٌ الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ, وَالْقَائِمُ خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِي, وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي, مَنْ تَشَرَّفَ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ, فَمَنْ وَجَدَ مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِهِ» (١)

“Kelak akan terjadi berbagai fitnah. Orang yang duduk di dalamnya lebih baik daripada yang berdiri, yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik daripada yang berlari. Barang siapa menampakkan diri terhadap fitnah itu, niscaya fitnah itu akan menyeretnya. Maka siapa yang mendapatkan tempat berlindung atau perlindungan, hendaklah ia berlindung dengannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

الْجِنُّ:

الْجِنُّ جَمْعُ جِنِّيٍّ وَسُمُّوا بِالْجِنِّ لِاجْتِنَانِهِمْ أَيْ لِاسْتِتَارِهِمْ عَنِ الْأَبْصَارِ.

Kata jin adalah bentuk jamak dari jinni. Mereka dinamakan jin karena sifat mereka yang tersembunyi, yaitu tidak terlihat oleh pandangan mata.

وَمِنْهُ سُمِّيَ الْجَنِينُ جَنِينًا لِأَنَّهُ لَا يُرَى فِي بَطْنِ أُمِّهِ.

Dari akar kata ini pula dinamakan janin sebagai janin, karena ia tidak terlihat di dalam perut ibunya.

وَمِنْهُ الْمِجَنُّ الَّذِي يُتَّخَذُ فِي الْحَرْبِ لِيَتَّقِيَ بِهِ الْمُقَاتِلُ سِهَامَ الْعَدُوِّ فَهُوَ يَجُنُّهُ مِنَ السِّهَامِ.

Demikian pula mijan (perisai) yang digunakan dalam peperangan, karena perisai tersebut melindungi pejuang dari panah musuh.

وَمِنْهُ: الصَّوْمُ جُنَّةٌ أَيْ سِتْرٌ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الْمَعَاصِي وَالنَّارِ.

Dan dari makna ini pula sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Puasa adalah perisai,” (HR. Ahmad No. 8045, at-Tirmidzi No. 2616, al-Baihaqi No. 300, al-Hakim No. 265 dihasankan oleh at-Tirmidzi).

Yaitu penghalang antara seorang hamba dengan kemaksiatan dan neraka.

الِاسْتِعَاذَةُ بِغَيْرِ اللَّهِ تَعَالَى مَنْهِيٌّ عَنْهَا مِنْ أَوْجُهٍ:

Meminta perlindungan kepada selain Allah dilarang dari beberapa sisi:

١- أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَمَرَ بِالِاسْتِعَاذَةِ بِهِ قَالَ تَعَالَى:﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ]الفلق: ١[

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai waktu subuh.”

(QS. Al-Falaq [113]: 1)

وَهَذَا أَمْرٌ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى فَدَلَّ عَلَى أَنَّهَا عِبَادَةٌ فَجَعْلُهَا لِغَيْرِهِ شِرْكٌ.

Ayat ini merupakan perintah dari Allah Ta‘ala, yang menunjukkan bahwa isti‘adzah adalah ibadah. Maka memalingkan ibadah ini kepada selain Allah adalah perbuatan syirik.

وَكَذَلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى:﴿وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ ]المؤمنون: ٩٧٩٨[

Dan katakanlah: Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari godaan setan-setan. Dan aku berlindung kepada-Mu, wahai Rabbku, agar mereka tidak mendekat kepadaku.”(QS. Al-Mu’minun[23]: 97–98).

أَنَّ الِاسْتِعَاذَةَ بِغَيْرِ اللَّهِ هِيَ مِنْ أَعْمَالِ الْمُشْرِكِينَ. لِأَنَّ الْجِنَّ ذَكَرُوهَا عَنِ الْجَاهِلِيَّةِ قَبْلَ سَمَاعِهِمْ لِلْقُرْآنِ.

Bahwa meminta perlindungan kepada selain Allah termasuk perbuatan orang-orang musyrik, karena para jin menyebutkan hal tersebut sebagai kebiasaan pada masa jahiliah sebelum mereka mendengar Al-Qur’an.

أَنَّ غَيْرَ اللَّهِ تَعَالَى لَا يَمْلِكُ كَشْفَ الضُّرِّ وَلَا جَلْبَ النَّفْعِ.

Bahwa selain Allah Ta‘ala tidak memiliki kekuasaan untuk menghilangkan bahaya dan tidak pula mendatangkan manfaat.

قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِيَ بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ

Katakanlah: Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kalian seru selain Allah, jika Allah menghendaki keburukan menimpaku, apakah mereka mampu menghilangkan keburukan itu, atau jika Dia menghendaki rahmat bagiku, apakah mereka mampu menahan rahmat-Nya. (QS. Az-Zumar [39]: 38)

قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ.

Katakanlah: Cukuplah Allah bagiku, kepada-Nya orang-orang yang bertawakal berserah diri. (QS. Az-Zumar [39]: 38)

فَصَارَ ذَلِكَ مِنَ اتِّخَاذِ الْأَنْدَادِ مَعَ اللَّهِ تَعَالَى

Maka hal tersebut termasuk menjadikan tandingan-tandingan selain Allah Ta‘ala.

أَنَّ الِاسْتِعَاذَةَ هِيَ مِنَ الدُّعَاءِ وَدُعَاءُ غَيْرِ اللَّهِ تَعَالَى شِرْكٌ

Bahwa meminta perlindungan termasuk bagian dari doa, dan berdoa kepada selain Allah adalah syirik.

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ.

 

Dan janganlah engkau berdoa kepada selain Allah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi mudarat kepadamu jika engkau melakukannya, maka sungguh engkau termasuk orang-orang yang zalim. (QS. Yunus[10]:106).

قُلْ إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا.

Katakanlah: Sesungguhnya aku hanya berdoa kepada Rabbku dan aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan-Nya.

فِي الْآيَةِ الْكَرِيمَةِ تَحْرِيمُ الِاسْتِعَاذَةِ بِغَيْرِ اللَّهِ تَعَالَى

Dalam ayat yang mulia ini terdapat pengharaman meminta perlindungan kepada selain Allah Ta‘ala.

وَأَنَّ مَنِ الْتَجَأَ إِلَى غَيْرِ اللَّهِ خَذَلَهُ اللَّهُ

Dan bahwa siapa yang berlindung kepada selain Allah, maka Allah akan membiarkannya dalam kehinaan.

وَفِيهَا إِثْبَاتُ وُجُودِ الْجِنِّ وَأَنَّ فِيهِمْ رِجَالًا وَنِسَاءً

Dan di dalamnya terdapat penetapan adanya jin serta bahwa di antara mereka ada laki-laki dan perempuan.

قَوْلُهُ تَعَالَى: فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

Firman Allah Ta‘ala: Maka mereka menambah bagi mereka rahaq.

يَعْنِي خَوْفًا وَاضْطِرَابًا فِي الْقَلْبِ

Yang dimaksud adalah rasa takut dan kegelisahan di dalam hati.

أَوْجَبَ لَهُمُ الْإِرْهَاقَ

Hal itu menimpakan kepada mereka tekanan dan penderitaan.

وَالرَّهَقُ يَكُونُ فِي الْأَبْدَانِ وَالْأَرْوَاحِ

Dan rahaq bisa terjadi pada badan maupun ruh.

فَلَمَّا كَانَ كَذَلِكَ تَعَاظَمَتِ الْجِنُّ وَزَادَ شَرُّهَا

Ketika demikian, para jin semakin besar kesombongannya dan semakin bertambah keburukannya.

قَوْلُهُ: بِكَلِمَاتِ اللَّهِ

Maksud perkataan “dengan kalimat-kalimat Allah”.

المُرَادُ بِالْكَلِمَاتِ هُنَا: الْكَلِمَاتُ الشَّرْعِيَّةُ وَالْكَوْنِيَّةُ

Yang dimaksud dengan kalimat-kalimat di sini adalah kalimat-kalimat syar‘i dan kalimat-kalimat kauni.

فَكَلِمَاتُهُ الدِّينِيَّةُ الشَّرْعِيَّةُ هِيَ شَرْعُهُ تَعَالَى الَّذِي أَنْزَلَهُ عَلَى عِبَادِهِ

Kalimat-kalimat-Nya yang bersifat agama dan syariat adalah syariat Allah Ta‘ala yang Dia turunkan kepada hamba-hamba-Nya.

وَأَمَّا كَلِمَاتُهُ الْكَوْنِيَّةُ الْقَدَرِيَّةُ

Adapun kalimat-kalimat-Nya yang bersifat kauni dan qadari,

فَهِيَ الَّتِي يُكَوِّنُ اللَّهُ بِهَا الْأَشْيَاءَ وَيُقَدِّرُهَا

yaitu kalimat-kalimat yang dengannya Allah menciptakan sesuatu dan menetapkannya.

فَهِيَ الَّتِي لَا يُجَاوِزُهَا بَرٌّ وَلَا فَاجِرٌ

Kalimat-kalimat ini tidak bisa dilampaui oleh orang yang baik maupun orang yang jahat.

فَقَضَاءُ اللَّهِ تَعَالَى وَاقِعٌ لَا مَحَالَةَ

Maka ketetapan Allah Ta‘ala pasti terjadi dan tidak mungkin tertolak.

لَا يَتَجَاوَزُهُ الْبَرُّ وَلَا الْفَاجِرُ

Tidak dapat dilampaui oleh orang yang saleh maupun orang yang durhaka.

وَفِي الْحَدِيثِ

Dan dalam sebuah hadits disebutkan,

أَتَانِي جِبْرِيلُ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ قُلْ

Jibril mendatangiku lalu berkata, “Wahai Muhammad, ucapkanlah.”

قُلْتُ وَمَا أَقُولُ

Aku berkata, “Apa yang harus aku ucapkan?”

قَالَ قُلْ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ

Dia berkata, “Ucapkanlah: Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna.”

الَّتِي لَا يُجَاوِزُهُنَّ بَرٌّ وَلَا فَاجِرٌ

Yang tidak dapat dilampaui oleh orang yang baik maupun orang yang jahat.

مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ وَذَرَأَ وَبَرَأَ

Dari kejahatan apa saja yang Dia ciptakan, Dia adakan, dan Dia bentuk.

وَمِنْ شَرِّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ

Dan dari kejahatan apa saja yang turun dari langit.

وَمِنْ شَرِّ مَا يَعْرُجُ فِيهَا

Dan dari kejahatan apa saja yang naik ke langit.

وَمِنْ شَرِّ مَا ذَرَأَ فِي الْأَرْضِ وَبَرَأَ

Dan dari kejahatan apa saja yang Dia adakan dan Dia ciptakan di bumi.

وَمِنْ شَرِّ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا

Dan dari kejahatan apa saja yang keluar darinya.

وَمِنْ شَرِّ فِتَنِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ

Dan dari kejahatan fitnah malam dan siang.

وَمِنْ شَرِّ كُلِّ طَارِقٍ يَطْرُقُ

Dan dari kejahatan setiap makhluk yang datang di waktu malam.

إِلَّا طَارِقًا يَطْرُقُ بِخَيْرٍ يَا رَحْمَنُ

Kecuali yang datang membawa kebaikan, wahai Dzat Yang Maha Pengasih.

قَوْلُهُ: التَّامَّاتِ

Maksud kata “yang sempurna”.

أَيْ الَّتِي لَيْسَ فِيهَا نَقْصٌ وَلَا عَيْبٌ

Yaitu yang tidak mengandung kekurangan dan tidak ada cacat padanya.

وَتَمَامُ الْكَلَامِ يَكُونُ بِأَمْرَيْنِ

Kesempurnaan kalam terwujud dengan dua perkara.

الصِّدْقُ فِي الْأَخْبَارِ

Kejujuran dalam setiap berita.

وَالْعَدْلُ فِي الْأَحْكَامِ

Keadilan dalam setiap hukum.

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا

Telah sempurna kalimat Rabbmu dalam kebenaran dan keadilan.

لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ

Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya.

وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

قَوْلُهُ: مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

Maksudnya: dari kejahatan semua makhluk yang di dalamnya terdapat keburukan.

لِأَنَّ هُنَاكَ خَلْقًا لَيْسَ فِيهِ شَرٌّ فِيهِمْ شَرٌّ.

 

Karena ada sebagian makhluk yang tidak memiliki unsur keburukan sama sekali, pada sebagian makhluk terdapat unsur keburukan.

كَالْأَنْبِيَاءِ وَالْمَلَائِكَةِ وَغَيْرِهِمْ

berbeda dengan para nabi, malaikat, dan selain mereka yang tidak mengandung keburukan sama sekali.

مِنْ فِقْهِ الْمُصَنِّفِ فِي إِيرَادِ الْحَدِيثِ بَعْدَ الْآيَةِ هُوَ الدَّلَالَةُ عَلَى أُمُورٍ مِنْهَا.

Di antara pemahaman penulis ketika menyebutkan hadits setelah ayat adalah untuk menunjukkan beberapa perkara penting, di antaranya:

أَنَّ الِاسْتِعَاذَةَ تَجُوزُ بِصِفَاتِهِ تَعَالَى أَيْضًا

Bahwa meminta perlindungan boleh dilakukan dengan menyebut sifat-sifat Allah Ta‘ala.

وَكَمَا فِي الْحَدِيثِ

Sebagaimana dalam hadits:

أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

Aku berlindung kepada Allah dan dengan kekuasaan-Nya dari keburukan yang aku rasakan dan aku khawatirkan.

الإِرْشَادُ إِلَى الْأُسْلُوبِ النَّبَوِيِّ فِي الدَّعْوَةِ

Petunjuk kepada metode dakwah Nabi,

أَنَّكَ إِذَا أَغْلَقْتَ بَابًا مِنَ الشَّرِّ فَافْتَحْ عِوَضًا عَنْهُ بَابًا مِنَ الْخَيْرِ

bahwa jika engkau menutup satu pintu keburukan, maka bukalah sebagai gantinya satu pintu kebaikan.

مِثَالُهُ

Contohnya adalah firman Allah Ta‘ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengatakan “ra‘ina”, tetapi katakanlah “unzurna”, dan dengarkanlah. Dan bagi orang-orang kafir ada azab yang pedih.

فَائِدَةٌ

Faedah penting:

كَلَامُ اللَّهِ تَعَالَى صِفَةٌ مِنْ صِفَاتِهِ وَلَيْسَ بِمَخْلُوقٍ

Kalam Allah Ta‘ala adalah salah satu sifat-Nya dan bukan makhluk.

وَدَلَّ عَلَى ذَلِكَ الْحَدِيثُ

Hadits-hadits menunjukkan hal tersebut.

وَقَدْ عُلِمَ أَنَّ الِاسْتِعَاذَةَ لَا تَجُوزُ إِلَّا بِاللَّهِ تَعَالَى أَوْ بِصِفَةٍ مِنْ صِفَاتِهِ

Dan telah diketahui bahwa meminta perlindungan tidak boleh kecuali kepada Allah Ta‘ala atau dengan salah satu sifat-Nya.

قَالَ أَبُو دَاوُدَ بَعْدَ حَدِيثِ

Abu Dawud berkata setelah menyebutkan hadits:

أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

Aku melindungi kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan, binatang berbisa, dan dari setiap pandangan mata yang berbahaya.

هَذَا دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الْقُرْآنَ لَيْسَ بِمَخْلُوقٍ

Ini adalah dalil bahwa Al-Qur’an bukan makhluk.

وَكَمَا فِي الْحَدِيثِ

Sebagaimana dalam hadits lainnya:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ

Ya Allah, aku berlindung dengan keridaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dan dengan keselamatan dari-Mu dari hukuman-Mu.

 

-----000----

Sumber Taudhihu Ar-Rashid fi Syarhi at Tauhid.

Abu Abdillah Huldun ibn Mahmud.

Diterjemahkan oleh Abu Ibrahim, Junaedi Abdullah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SYARAH KITAB TAUHID BAB 13 TERMASUK KESYIRIKAN MEMINTA PERLINDUNGAN KEPADA SELAIN ALLAH.

  SYARAH KITAB TAUHID BAB 13 بَابٌ مِنَ الشِّرْكِ الِاسْتِعَاذَةُ بِغَيْرِاللَّهِ TERMASUK KESYIRIKAN MEMINTA PERLINDUNGAN KEPADA SELA...