PERANG
BADAR KUBRA PERTEMPURAN ISLAM PERTAMA YANG MENENTUKAN
Sebab
Terjadinya Peperangan
Sebagaimana
telah kita sebutkan pada pembahasan terdahulu tentang pertempuran Dzul
'Usyairah bahwa kafilah Quraisy berhasil lolos dari sergapan Nabi saat
kepergian mereka dari Mekkah menuju kawasan Syam. Dan tatkala telah dekat waktu
kepulangan-nya dari Syam menuju Mekkah, Rasulullah mengutus Thalhah bin
'Ubaidillah dan Sa'd bin Zaid ke arah utara untuk memantau perkembangan
beritanya. Keduanya pun sampai ke daerah Hawra dan tinggal di sana hingga
akhirnya kafilah yang dipimpin Abu Sufyan melintasi tempat mereka berdua.
Keduanya langsung ber-gegas kembali ke Madinah dan memberitahukan kepada
Rasulullah perihal kafilah tersebut. Versi riwayat lain menyebutkan bahwa
beliau ketika itu tengah dalam perjalanan menuju Badar.
Kafilah
tersebut membawa harta yang melimpah milik pendu-duk Mekkah; seribu ekor onta
yang sarat dengan muatan bernilai lebih kurang 50.000 dinar emas. Kafilah ini
hanya dikawal sekitar empat puluh orang laki-laki.
Hal
itu merupakan kesempatan emas bagi kaum Muslimin untuk melancarkan pukulan
telak terhadap perekonomian penduduk Mekkah. Oleh karena itu, Rasulullah
menyampaikan pengumuman kepada kaum Muslimin. Beliau berkata, "Ini adalah
kafilah Quraisy yang membawa harta-benda mereka, maka keluarlah menyongsongnya,
semoga saja Allah menjadikannya harta rampasan bagi kalian."
Dalam
hal ini, beliau tidak memberikan perintah tegas kepada siapapun untuk ikut
serta, akan tetapi menyerahkan pilihan kepada keinginan mutlak mereka karena
beliau sendiri tidak mengira akan terjadi benturan dengan tentara Mekkah
sebagai ganti benturan dengan kafilah. Yakni, bentrokan yang sengit di Badar.
Oleh karena itu pulalah banyak di antara para sahabat yang tinggal di Madinah
)tidak ikut berperang) karena mengira kepergian Rasulullah ﷺ kali ini tidak ubahnya seperti apa yang biasa mereka alami pada
beberapa pertempuran terdahulu. Karena itu beliau tidak mengingkari siapa pun
yang tidak ikut serta di dalam pertempuran ini.
Besar
Kekuatan Tentara Islam Dan Distribusi Komando
Rasulullah
bersiap-siap untuk bertolak sementara ikut serta bersama beliau sebanyak 313
(riwayat yang lain menyebutkan 314 atau 317) orang laki-laki, 82 orang (riwayat
yang lain menyebutkan 83 atau 86) di antaranya dari kalangan Muhajirin dan 61
orang dari suku Aus serta 170 orang dari suku Khazraj.
Mereka
tidak menggalang kekuatan besar untuk keberangkatan ini dan juga tidak
mengambil persiapan yang matang sehingga mereka tidak memiliki selain satu atau
dua ekor kuda; satu kuda ditunggangi oleh az-Zubair bin al-'Awwam dan satu lagi
oleh al-Miqdad bin al-Aswad al-Kindiy. Mereka juga hanya memiliki 70 ekor onta
yang masing-masing onta ditunggangi oleh dua hingga tiga orang secara
bergantian. Sementara Rasulullah sendiri beserta 'Ali dan Martsad bin Abi
Martsad al-Ghanawiy menunggang seekor onta secara bergantian.
Kali
ini, Rasulullah mengangkat Ibnu Ummi Maktûm sebagai penguasa sementara di
Madinah sekaligus sebagai imam shalat. Namun, tatkala sampai di Rawha beliau
memulangkan Abu Lubabah bin 'Abdul Mundzir dan mengangkatnya sebagai penguasa
sementara di Madinah (menggantikan Ibnu Ummi Maktum, Penj).
Panji
komando umum kali ini diserahkan kepada Mush'ab bin 'Umair al-Qurasyiy
al-'Abdariy dan ia berwarna putih.
Selanjutnya
membagi pasukannya menjadi dua batalyon:
1.
Batalyon al-Muhajirin, benderanya diserahkan kepada 'Ali bin Abi Thalib,
bendera ini dinamai dengan 'Uqab.
2.
Batalyon Anshar, benderanya diserahkan kepada Sa'd bin Mu'adz (kedua bendera
tersebut berwarna hitam).
Untuk
sayap kanan pasukan, beliau mempercayakan komandonya kepada az-Zubair bin
al-'Awwam sedangkan sayap kiri diperca-yakan kepada al-Miqdad bin 'Amr - hanya
kedua orang ini saja yang mengendarai kuda di pasukan kaum Muslimin ini
sebagaimana telah disinggung di muka-. Adapun pasukan garis belakang diserahkan
kepada Qais bin Abi Sha'sha'ah. Sedangkan komando umum tetap dipegang oleh
beliau selaku panglima tertinggi di dalam pasukan.
Pasukan
Islam Bergerak Menuju Badar
Rasulullah
pun bergerak bersama pasukan yang tidak memiliki persiapan ini, lalu keluar
dari arah celah Madinah dan berlalu melewati jalan utama yang mengarah ke
Mekkah hingga akhirnya sampai ke sumur ar-Rawha. Dan tatkala berangkat dari
sana, beliau memposisikan jalan menuju Mekkah di sebelah kirinya dan berbelok
ke arah kanan yang menuju an-Naziyah (dengan tujuan Badar), lalu beliau
menelusuri pinggirannya hingga memotong jalan sepanjang lembah yang diberi nama
Rahqân. Lembah ini terletak antara an-Naziyah dan jalan sempit di kawasan
ash-Shafra. Kemudian melewati jalan sempit tersebut dan dari situ mengarah ke
dekat kawasan ash-Shafra. Di sana, beliau mengutus Basbas bin 'Amr al-Juhaniy
dan 'Adiy bin Abi az-Zaghba' al-Juhaniy ke Badar guna memata-matai kabar
kafilah quraisy.
Genderang
Peringatan Bergema Di Mekkah
Adapun
berita tentang kafilah Quraisy, Abu Sufyan yang bertindak sebagai penanggung
jawabnya bergerak ekstra hati-hati dan penuh kewaspadaan sebab dia mengetahui
dengan pasti bahwa jalan (menuju) Mekkah amat rawan. Karenanya, dia selalu
mencari-cari berita dan bertanya kepada setiap para pengendara yang dia temui.
Tak berapa lama, dia mendapatkan informasi bahwa Muhammad sudah memobilisasi
para sahabatnya untuk mencegat kafilah (dalam riwayat lain disebutkan: untuk
menunjukkan bahwa bahaya sudah ada di hadapannya). Ketika itu, Abu Sufyan
menyewa Dhamdham bin 'Amr al-Ghifariy untuk pergi ke Mekkah guna menyeru
orang-orang Quraisy, agar mereka menyusul kafilahnya sehingga dapat mencegahnya
agar tidak jatuh ke tangan Muhammad dan para sahabatnya. Lalu pergilah Dhamdham
secepatnya hingga tiba di Mekkah. Maka, diapun berteriak dari perut lembah
dengan berdiri di atas ontanya sementara dia sengaja membuat kondisi ontanya
dengan hidung terpotong, posisi kantong pelananya awut-awutan serta bajunya
tercabik-cabik seraya berkata, "Wahai orang-orang Quraisy!
Kafilah...kafilah! Harta-harta kalian yang bersama Abu Sufyan telah dicegat
oleh Muhammad bersama para sahabatnya. Aku rasa kalian tidak akan mampu
menyelamatkannya kirimkan bantuan...kirimkan bantuan!."
Penduduk
Mekkah Bersiap-siap Untuk Berperang
Mendengar
hal itu, orang-orang bergegas secepatnya seraya berkata, "Apakah Muhammad
dan para sahabatnya mengira (akan terjadi pada) kafilah itu sama seperti (yang
terjadi pada) kafilah Ibnu al-Hadhramiy?. Sama sekali tidak, Demi Allah!
Sungguh dia akan tahu bahwa bukan demikian halnya."
Mereka
dalam posisi antara dua pilihan; ikut serta berangkat atau mengirim utusan
sebagai wakilnya. Akhirnya mereka beramai-ramai berangkat sehingga tidak
seorang pun dari kalangan pemuka mereka yang tinggal selain Abu Lahab, dia
lebih memilih untuk mengirim wakilnya yang kebetulan berhutang kepadanya.
Mereka mengumpulkan semua kabilah Arab yang berada di sekitar mereka dan tidak
seorang pun dari marga-marga Quraisy yang tidak ikut selain Bani 'Adiy dimana
tidak seorang pun dari mereka yang ikut serta.
Kekuatan
Pasukan Mekkah
Pasukan
Mekkah ini berkekuatan sekitar 1300 tentara pada permulaan perjalanannya,
bersamanya ada 100 kuda dan 600 perisai serta onta yang banyak sekali sehingga
tidak diketahui berapa jumlahnya secara tepat. Komandan umum mereka dipegang
oleh Abu Jahal bin Hisyam sementara yang bertindak sebagai penyuplai makanan
adalah sembilan pemuka Quraisy, dalam sehari mereka menyembelih sembilan ekor
onta dan hari berikutnya sepuluh ekor.
Kabilah-Kabilah
Bani Bakr Menjadi Kendala
Tatkala
pasukan ini sudah sepakat untuk bergerak, orang-orang Quraisy teringat akan
adanya permusuhan dan peperangan antara mereka dan Bani Bakr. Karenanya, mereka
khawatir kabilah-kabilah ini akan menohok mereka dari belakang sehingga membuat
posisi mereka di antara dua bara api. Hal ini hampir saja mengurungkan niat
mereka akan tetapi ketika itu, muncullah Iblis dalam wujud Suraqah bin Malik
bin Ju'syum al-Mudliji-pemimpin Bani Kinanah -. Dia berkata kepada mereka,
"Akulah yang akan menjadi pelindung kalian dari apapun yang tidak kalian
inginkan yang akan dilakukan Bani Kinanah terhadap kalian dari belakang!."
Pasukan
Mekkah Bergerak
Ketika
itu, keluarlah mereka dari rumah-rumah mereka dalam kondisi sebagaimana yang
dinyatakan Allah dalam firman-Nya,
وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ
خَرَجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ بَطَرًا وَّرِئَاۤءَ النَّاسِ وَيَصُدُّوْنَ عَنْ
سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ
Janganlah
kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampung halamannya dengan
rasa angkuh dan ingin dipuji orang (riya) serta menghalang-halangi (orang) dari
jalan Allah. (QS.Al-Anfal: 47).
Mereka
menyongsong persis seperti sabda Rasulullah, “Dengan tindakan mereka mengasah
besi, berarti mereka telah memerangi Allah dan memerangi Rasul-Nya."
Dan
seperti firman Allah "Dan mereka pergi dengan membawa kemurkaan dan
kedengkian", serta fanatisme, kemarahan dan kemurkaan terhadap Rasulullah
dan para sahabatnya lantaran tindakan mereka menghadang kafilah-kafilah milik
Quraisy.
Mereka
bergerak dengan sangat cepat ke arah utara menuju Badar. Perjalanan mereka ini
menelusuri lembah 'Asfân, terus Qudaid, terus Julifah. Setibanya di sana,
mereka menerima surat baru dari Abu Sufyan yang berisi, "Sesungguhnya
kalian keluar, hanya untuk me-nyelamatkan kafilah, pejuang dan harta-harta
kalian saja. Dan, Allah telah menyelamatkannya, karena itu pulanglah
kembali."
Kafilah
Quraisy Berhasil Lolos
Sementara
kisah Abu Sufyan sendiri, dia menempuh jalan utama namun senantiasa
berhati-hati dan siaga bahkan menambah frekuensi patroli pemantauan. Tatkala
dia sudah mendekati kawasan Badar, kafilahnya lebih dahulu maju hingga bertemu
dengan Majdy bin 'Amr. Abu Sufyan menanyainya perihal pasukan Madinah. Maka dia
menjawab, "Saya tidak melihat seorang pun yang perlu dicurigai, hanya saja
tadi saya melihat dua orang penunggang onta yang berhenti ke arah bukit ini,
kemudian mengisi tempat air mereka, lalu berangkat. Abu Sufyan bergegas menuju
tempat mereka berdua berhenti tadi, lalu mengambil kotoran onta mereka dan
mengamatinya, ternyata didapati bercampur biji kurma. Lalu dia berkata,
"Demi Allah, ini tidak lain adalah makanan binatang orang-orang
Yatsrib." Lalu dia kembali ke kafilahnya dengan cepat dan pergi dengan
merubah perjalannya ke arah barat menuju pesisir. Artinya, dia tidak
menggunakan lagi jalan utama yang melewati Badar dari arah kiri. Dengan begitu,
dia berhasil selamat beserta kafilahnya dari incaran pasukan Madinah. Kemudian
dia mengirimkan surat kepada pasukan Mekkah dan mereka menerimanya ketika
sampai di juhfah.
Tentara
Mekkah Terpecah
Tatkala
pasukan Mekkah menerima surat tersebut, maka mereka pun bermaksud pulang
kembali akan tetapi Abu Jahal, sang thaghut Quraisy berdiri dengan penuh
kesombongan dan kecongkakan seraya berkata, "Demi Allah, kita tidak akan
pulang hingga berhasil mengambil alih Badar, lalu tinggal disana selama tiga
hari sambil menyembelih onta, makan-makan dan meminum arak dengan di-iringi
nyanyian para biduanita sehingga bangsa Arab mendengar tentang keberadaan,
perjalanan dan berkumpulnya kita, sehingga, mereka akan selamanya segan
terhadap kita."
Akan
tetapi sekalipun Abu Jahal telah bersikap demikian, namun al-Akhnas bin Syuraiq
memberikan isyarat agar pasukan kembali saja namun mereka tidak mau menaatinya.
Akhirnya dia dan Bani Zahrah tetap memutuskan kembali kebetulan sebagai sekutu
mereka sekaligus pemimpin mereka dalam pasukan ini-. Maka, tidak ada seorang
pun dari Bani Zahrah yang ikut serta dalam perang Badar tersebut. Jumlah,
mereka saat itu sekitar 300 orang. Setelah kejadian itu, Bani Zahrah tetap menghargai
pendapat al-Akhnas bin Syuraiq sehingga dia senantiasa dita'ati dan diagungkan
oleh mereka.
Bani
Hasyim rupanya ingin kembali juga namun Abu Jahal bersikap keras terhadap
mereka seraya berkata, "Kelompok ini tidak boleh memisahkan diri dari kita
hingga kita kembali nanti."
Pasukan
Mekkah akhirnya terus melanjutkan perjalanan menuju badar dengan berkekuatan
1000 tentara menyusul kembalinya Bani Zahrah dari keikutsertaan mereka. Lalu
pasukan ini meneruskan perjalanan hingga singgah di kawasan yang dekat dengan
Badar, di balik bukit pasir pada pinggiran yang paling jauh dari perbatasan
lembah Badar.
Pasukan
Islam Dalam Posisi Kritis
Sementara
itu, intelejen tentara Madinah sudah menyampaikan berita tentang kafilah dan
pasukan perang Quraisy kepada Rasulullah yang ketika itu masih dalam perjalanan
di sekitar lembah Dzafrân. Setelah merenungkan berita tersebut, beliau dapat
memastikan bahwa tidak ada lagi celah untuk menghindari pertempuran berdarah,
tapi sebaliknya, yaitu kemestian untuk terus melangkahkan kaki, dilandasi
keberanian, heroisme dan kepahlawanan. Sesuatu yang tidak dapat disangkal lagi,
bahwa andaikata tentara Mekkah dibiarkan terus merangsak ke sekitar kawasan
itu, maka hal itu akan dapat memperkokoh posisi Quraisy secara militer,
membentangkan sayap kekuasaannya sekaligus memperlemah persatuan kaum Muslimin
dan menimbulkan rasa takut mereka bahkan barangkali setelah itu gerakan Islam
hanya tinggal jasad tanpa ruh. Hal ini, akan membuat, setiap orang yang
memiliki rasa iri atau sakit hati terhadap Islam di kawasan ini semakin berani.
Kemudian,
apakah kaum Muslimin bisa menjamin bahwa tentara Mekkah tersebut akan berhenti
dan tidak meneruskan perjalanannya menuju Madinah, sehingga berakibat
peperangan melebar hingga ke pinggiran kota, untuk selanjutnya mereka
menghabisi kaum Mus-limin di perkampungannya. Sama sekali tidak, seandainya
tentara Madinah sampai mundur, maka hal ini akan menjadi preseden paling buruk
terhadap citra dan nama baik kaum Muslimin.
Rapat
Majlis Untuk Menentukan Sikap
Mengingat
perkembangan yang demikian kritis dan begitu tiba-tiba, maka Rasulullah pun
mengadakan rapat majlis militer tingkat tinggi. Dalam rapat tersebut beliau
mengisyaratkan akan kondisi yang sedang berjalan dan bertukar pikiran bersama
seluruh pasukan dan para komandannya. Ketika itulah, ada sekelompok orang yang
hatinya menjadi ciut dan takut menghadapi pertarungan berdarah nantinya. Mereka
inilah yang disebutkan Allah dalam firman-Nya,
كَمَا أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنْ بَيْتِكَ
بِالْحَقِّ وَإِنَّ فَرِيقًا مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ لَكَرِهُونَ يُجَادِلُونَكَ فِي
الْحَقِّ بَعْدَ مَا نَبَيَّنَ كَأَنَّمَا يُسَاقُونَ إِلَى الْمَوْتِ وَهُمْ
يَنظُرُونَ
"Sebagaimana
Rabbmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya
sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya. Mereka
membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang),
seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab
kematian itu)." (al-Anfâl: 5-6).
Sedangkan
(sikap) para komandan perang, baik Abu Bakar ash-Shiddiq maupun 'Umar bin
al-Khaththab maka mereka berdua ber-bicara dengan ungkapan yang baik.
Selanjutnya al-Miqdad bin 'Amr berdiri seraya berkata, "Wahai Rasulullah,
teruslah maju berdasarkan apa yang telah ditampakkan oleh Allah padamu. Kami
akan selalu bersamamu. Demi Allah, kami tidak akan berkata kepadamu
seba-gaimana yang dikatakan oleh Bani Israil kepada Musa, 'pergilah kamu
bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk
menanti di sini saja'. Akan tetapi, pergilah engkau bersama Rabb-mu dan
berperanglah, sesunguhnya kami akan berperang bersama kamu berdua. Demi Dzat
Yang mengutusmu dengan kebenaran, andaikan engkau bawa kami berjalan menuju
Bark al-Ghimâd niscaya kami akan berperang bersamamu hingga engkau
mencapainya."
Maka
Rasulullah mengatakan kepadanya sesuatu yang baik dan berdoa agar dia
mendapatkan kebaikan itu.
Tiga
orang komandan tersebut berasal dari kalangan Muhajirin, sedang mereka
minoritas di dalam pasukan. Oleh karena itu, Rasulullah ingin melihat bagaimana
pendapat para komandan dari kaum Anshar, sebab mereka merupakan pihak mayoritas
di dalam pasukan dan beban pertempuran akan berada di pundak mereka. Padahal,
berdasarkan isi teks Bai'at al-'Aqabah, mereka tidak diharuskan untuk berperang
di luar negeri mereka. Dari itu, setelah mendengarkan ucapan ketiga komandan
tadi, beliau berkata, "Wahai manusia, kaum berikan pendapat kalian
kepadaku." Sebenarnya yang beliau bidik adalah kaum Anshar, untung saja sang
komandan kaum Anshar yang juga pembawa panji, Sa'd bin Mu'adz memahami hal itu.
Dia berkata, "Demi Allah, seakan engkau menginginkan kami, wahai
Rasulullah."
Beliau
menjawab, "Benar."
Maka
berkatalah Sa'd, "Sungguh kami telah beriman kepadamu, lalu membenarkanmu.
Kami juga telah bersaksi bahwa wahyu yang engkau bawa adalah haq dan untuk itu
kami telah memberikan janji-janji setia dan kesepakatan-kesepakatan kami
tersebut untuk senantiasa mendengar dan ta'at kepadamu. Karena itu, teruskan langkahmu
sesuai dengan apa yang engkau inginkan, wahai Rasulullah! Demi Dzat Yang
mengutusmu dengan haq (kebenaran), andaikata engkau menawarkan laut ini kepada
kami, lalu engkau mengarunginya, niscaya kami pun akan mengarunginya bersamamu,
tidak ada seorang pun dari kami yang ketinggalan dan kami tidak akan merasa
segan jika engkau mengajak kami bertemu musuh esok hari. Sesungguhnya kami
adalah orang yang tegar di dalam peperangan dan tangguh di dalam pertempuran.
Semoga saja, Allah menampakkan kepadamu dari kami hal yang membuatmu senang.
Maka, berangkatlah bersama kami dengan keberkahan Allah."
Di
dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa Sa'd bin Mu'adz berkata kepada
Rasulullah, “Sepertinya engkau khawatir bahwa kaum Anshar hanya memandang
kewajiban mereka membelamu sebatas di negeri mereka saja. Dan sesungguhnya aku
berkata atas nama kaum Anshar dan menjawab atas nama mereka, 'Berangkatlah
kemana engkau suka, jalinlah hubungan dengan orang yang engkau kehendaki,
putuskan hubungan dengan orang yang engkau kehendaki, ambillah dari harta-benda
kami apa yang engkau inginkan dan berilah kepada kami apa yang engkau inginkan.
Dan apa yang engkau ambil dari kami, kami lebih senang dengannya daripada apa
yang engkau biarkan. Apapun yang engkau perintahkan, maka kami akan tunduk
terhadap perintahmu. Demi Allah, jika engkau membawa kami berjalan hingga
sampai al-Bark Min Ghamdân (bahasa kiasan, maksudnya: sampai ke ujung
manapun-penj.,) niscaya kami akan berjalan bersamamu. Demi Allah, jikalau
engkau tawarkan laut ini kepada kami, lalu engkau mengarunginya niscaya kami
akan mengarunginya bersamamu."
Ucapan
Sa'd ini membuat senang Rasulullah dan menjadikannya bertambah semangat.
Kemudian beliau berkata, "Berjalanlah kalian dan bergembiralah karena
sesungguhnya Allah Ta'ala telah menjanjikan kepadaku salah satu dari dua
kelompok. Demi Allah, seakan aku tengah menyaksikan kematian musuh."
Pasukan
Islam Meneruskan Perjalanan
Kemudian
Rasulullah berangkat dari Dzafrán dengan mene-lusuri celah-celah perbukitan
yang disebut al-Ashafir, kemudian dari sana turun menuju suatu dusun yang
dinamakan ad-Diyah. Dalam hal ini, beliau melewati al-Hanan -sebuah bukit pasir
yang pondasinya amat besar- dan mengambil posisi di sisi kanannya, kemudian
turun lagi ke dekat Badar.
Rasulullah
Melakukan Patroli Pemantauan
Di
tempat tersebut, beliau melakukan sendiri patroli peman-tauan bersama Abu Bakar
ash-Shiddiq,. Tatkala keduanya sedang berjalan-jalan di seputar kamp Militer
Mekkah, tiba-tiba mereka bertemu dengan seorang tua dari bangsa Arab, lalu
beliau bertanya kepadanya tentang Quraisy, Muhammad dan para sahabatnya beliau
sengaja menanyakan tentang kedua tentara untuk lebih meng-hindarkan kecurigaan-
akan tetapi si orang tua ini memotong, "Aku tidak akan memberitahukan
kepada kalian hingga kalian memberi-tahuku dari (suku) apa kalian
berdua?."
Rasulullah
menjawab, "Jika engkau beritahu kami, maka kami akan memberitahukan
kepadamu."
Dia
berkata, "Benarkah demikian?."
Beliau
menjawab, "Ya."
Si
orang tua berkata, "Telah sampai berita kepadaku bahwa Muhammad dan para
sahabatnya telah keluar pada hari ini dan itu; jika memang orang yang
memberitahuku jujur, maka dia hari ini berada di tempat ini dan itu -dia
menyebutkan tempat posisi tentara Madinah saat itu berada-. Dan telah sampai
pula berita kepadaku bahwa orang-orang Quraisy telah keluar pada hari ini dan
itu; jika memang orang yang memberitahuku jujur, maka mereka hari ini berada di
tempat ini dan itu -dia menyebutkan tempat posisi tentara Mekkah saat itu
berada-.
Dan
tatkala dia sudah selesai memberitahukan, dia balik ber-tanya, "Dari
(kelompok) siapa kalian berdua?."
Rasulullah
menjawab, "Kami berasal dari maa' (bahasa Arab berarti air, penj)."
Kemudian beliau berpaling darinya dan tinggallah si orang tua bergumam sendiri,
"Dari maa" (air) apa?." Apakah dari maa' 'Iraq (nama sebuah
kabilah atau sutu di Iraq, penj)?."
Mendapatkan
Informasi Penting Tentang Tentara Mekkah
Pada
petang hari itu juga beliau mengutus kembali para intelejen-nya untuk
mendapatkan berita tentang musuh. Yang melakukan tugas ini adalah tiga orang
komandan dari kalangan Muhajirin, yaitu 'Ali bin Abi Thalib, az-Zubair bin
al-'Awwam dan Sa'd bin Abi Waqqash ber-sama beberapa orang sahabat yang lain.
Mereka pergi menuju sumber air di Badar. Di sana, mereka menjumpai dua orang
budak yang sedang mengambil air untuk tentara Mekkah. Mereka pun menangkap
ke-duanya dan membawa mereka menghadap Rasulullah yang ketika itu sedang
shalat. Lalu para sahabat menginterogasi keduanya. Maka keduanya berkata,
"Kami hanyalah para penimba air orang-orang Quraisy yang diutus untuk
mengambil air buat mereka." Para sahabat yang menginterogasi tersebut
tidak suka mendengar hal itu dan berharap keduanya merupakan kaki tangan Abu
Sufyan-sebab di hati mereka masih tertanam sisa-sisa harapan untuk dapat
mengua-sai kafilah Quraisy-. Karenanya, mereka memukuli keduanya secara kasar
hingga keduanya akhirnya terpaksa berkata, "Kami memang utusan Abu
Sufyan." Maka, mereka berhenti memukuli keduanya.
Saat
Rasulullah selesai melakukan shalat, beliau menegur mereka seraya berkata,
"Jika keduanya berbicara jujur, kalian memukuli-nya, namun bila keduanya
berbicara dusta, kalian berhenti memukulinya. Mereka berdua telah berkata
jujur. Demi Allah, sesungguhnya keduanya memang berasal dari (rombongan)
Quraisy."
Kemudian
beliau berbicara kepada kedua budak tersebut, "Beri-tahukan kepadaku
perihal orang-orang Quraisy."
Keduanya
berkata, "Mereka ada di balik bukit pasir yang engkau lihat di pinggiran
yang paling jauh itu."
Beliau
bertanya lagi, "Berapa jumlah mereka?."
Keduanya
menjawab, "Banyak."
Beliau
bertanya lagi, "Berapa kekuatan mereka."
Keduanyanya
menjawab, "Kami tidak tahu."
Beliau
bertanya lagi, "Berapa ekor onta yang mereka sembelih setiap
harinya."
Keduanya
menjawab, "(kadang-kadang) Sehari sembilan ekor dan kadang-kadang sepuluh
ekor."
Rasulullah
berkata, "Kalau begitu, mereka antara 900 hingga 1000 orang."
Kemudian bertanya lagi, "Siapa saja di kalangan mereka yang merupakan para
pemuka Quraisy?"
Keduanya
menjawab, "Utbah dan Syaibah bin Rabi'ah, Abu al-Bukhturiy bin Hisyam,
Hakîm bin Hizâm, Naufal bin Khuwailid, al-Harits bin 'Amir, Thaimah bin 'Adiy,
an-Nadhr bin al-Hârits, Zam'ah bin al-Aswad, Abu Jahal bin Hisyam dan Umayyah
bin Khalaf...," bersama orang-orang lain yang disebutkan nama-nama mereka
oleh keduanya.
Rasulullah
kemudian menghadap ke arah halayak, seraya berkata, "Inilah (penduduk)
Mekkah telah melemparkan kepada kalian keka-yaannya."
Hujan
Turun
Pada
malam itu, Allah menurunkan sebuah hujan. Hujan ini bagi kaum musyrikin terasa
sangat lebat, sehingga mencegah mereka untuk maju sementara bagi kaum Muslimin
terasa bagaikan gerimis yang dapat menyucikan mereka, menghilangkan gangguan
setan dari diri mereka, mudah untuk menapak bumi, mengeraskan pepa-siran,
memantapkan langkah, menyiapkan posisi dan meriambat hati mereka.
Pasukan
Islam Merebut Posisi Strategis Militer
Rasulullah
bergerak bersama bala tentaranya mendahului kaum musyrikin untuk menguasai mata
air Badar dan menghalangi mereka dari usaha menguasainya. Maka, beliau
mengambil posisi di 'Asya, yang merupakan sumber air paling rendah dari
sumber-sumber air Badar. Di sini, al-Habbab bin al-Mundzir sebagai ahli militer
berdiri seraya berkata, "Wahai Rasulullah, bagaimana pen-dapatmu; apakah
ini posisi yang ditentukan Allah untukmu sehingga kita tidak boleh maju ataupun
mundur ataukah hanya suatu pendapat (bagian dari strategi), perang dan
tipu-daya?."
Beliau
menjawab, "Ini hanya sekedar pendapat, (bagian dari strategi) perang dan
tipu-daya."
Dia
berkata lagi, "Wahai Rasulullah, jika demikian, ini bukan-lah posisi yang
tepat, karenanya, bangkitlah bersama orang-orang hingga kita mendatangi sumber
air yang paling dekat dari posisi (pasukan) Quraisy, lalu kita menempatinya dan
merusak sumur-sumur yang ada di belakangnya, kemudian kita membuat telaga dan
mengisinya dengan air, kemudian memerangi mereka. Dengan begitu, kita bisa
minum sementara mereka tidak bisa melakukannya."
"
Rasulullah bersabda, "Engkau telah memberikan pendapat (yang tepat)
Maka
Rasulullah berangkat bersama pasukannya hingga tiba di sumber air paling dekat
dengan posisi musuh. Beliau mengambil posisi di sana pada pertengahan malam,
kemudian membuat telaga-telaga dan merusak sumur-sumur yang lainnya.
Mendirikan
Pos Komando
Setelah
kaum Muslimin mengambil posisi di sumber air tersebut, Sa'd bin Mu'adz
mengusulkan kepada Rasulullah agar kaum Muslimin mendirikan pusat komando untuk
beliau sebagai upaya mengantisipasi kondisi darurat dan memprediksi kekalahan
sebelum kemenangan. Dia berkata, "Wahai Nabi Allah, tidakkah sebaiknya
kami dirikan tempat berteduh (semacam podium, penj) untukmu dan menyiapkan
kendaraan di dekatmu, kemudian kami akan menghadapi musuh. Jika Allah berkenan
memuliakan dan memenangkan kami atas musuh, maka hal itulah yang kami
damba-kan, namun jika yang terjadi sebaliknya, maka engkau sudah duduk di
kendaraanmu sehingga dapat menyongsong kaum kami yang tidak ikut serta.
Sungguh, tidak sedikit kaum kami yang tidak ikut bersamamu, wahai Nabi Allah!
Kecintaan kami terhadapmu tidaklah jauh lebih besar ketimbang kecintaan mereka
terhadapmu. Jikalau mereka tahu bahwa engkau menghadapi peperangan, niscaya
mereka tidak akan ketinggalan menyertaimu. Semoga Allah melindungimu melalui
mereka, menyampaikan nasehat untukmu dan berjihad ber-samamu."
(mendengar
itu) Rasulullah memujinya dengan pujian yang baik dan mendoakan kebaikan
untuknya. Kaum Muslimin pun men-dirikan tempat berteduh (untuk Rasulullah) di
lokasi yang agak tinggi dan terletak di arah timur laut medan peperangan dan
(dari sana) medan pertempuran dapat dimonitor (secara keseluruhan).
Demikian
pula, telah dipilih suatu regu yang terdiri dari para pemuda Anshar di bawah
komando Sa'd bin Mu'adz yang bertugas menjaga Rasulullah di seputar poskonya.
Memobilisasi
Pasukan Dan Menghabiskan Malam
Kemudian
Rasulullah memobilisasi tentaranya¹ dan berjalan di lokasi pertempuran dan
menunjuk dengan tangannya, "Ini tempat kematian si fulan besok, insya
Allah!? Dan ini tempat kematian si fulan, insya Allah!." Kemudian
Rasulullah semalaman shalat di
1
Lihat Jami' at-Tirmidzi, Abwab al-Jihad, bab: Må Ja a Fi ash-Shaffi Wa
at-Ta'bi'ah, 1/201.
2
HR. Muslim dari Anas. Lihat Misykah al-Mashabih, Op.cit., II/543.