SEBAB-SEBAB DATANGNYA MUSIBAH
Dunia makin tua, isi penghuninya
beraneka warna, semakin jauh dari bimbingan agama sehingga banyak yang
memperturutkan nafsu belaka.
Akibatnya datanglah berbagai macam
musibah dan bencana sebagai peringatan kepada manusia.
Namun yang menyedihkan musibah dan bencana
tersebut dianggap fenomena alam biasa, seperti gempa bumi karena lempengan
kerak bumi yang retak atau bergeser, banjir karena cuaca extrem dan lainnya.
Allah ta’ala berfirman:
وَمَا
أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ.
“Dan apa saja musibah yang
menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah
memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (QS. Asy Syura [42]:
30).
قَالَتْ زَيْنَبُ بِنْتُ جَحْشٍ
فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ: أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ قَالَ: نَعَمْ
إِذَا كَثُرَ الخَبَثُ.
“Apakah kami akan binasa sementara orang-orang
shalih masih ada di antara kami?” Beliau menjawab, “Betul, ketika kemaksiatan merajalela.”
(HR Bukhari 3346, Muslim 2880)
Adapun dosa-dosa yang menyebabkan datangnya
musibah yaitu:
1. Kesyirikan.
Dosa kesyirikan merajalela di bumi pertiwi ini,
saat mereka punya hajat, tasyakuran bersama ketika mendapatkan nikmat seperti
melarung saji kelaut, melempar saji ke gunung, upacara sajen di tempat yang
dianggap keramat, membuat sesaji rumah masing-masing, mencari pesugihan, dan
keyakinan-keyakinan tatayyur lainnya.
Padahal Allah ta’ala melarang keras kesyirikan
tersebut.
Allah ta’ala berfirman:
وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا
يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ.
“Dan janganlah kamu
menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat
kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, Maka
Sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim." (QS
Yunus[10]:106).
وَلَقَدْ أُوحِيَ
إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ
عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
“Dan Sesungguhnya telah
diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan
(Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang
yang merugi.” (QS Az Zumar[39]:65).
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا
كَانُوا يَعْمَلُونَ.
“Seandainya mereka
mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang Telah mereka
kerjakan.” (QS Al An’am[6]:88).
وَلَا
تَدْعُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۚفَاِنْ فَعَلْتَ فَاِنَّكَ
اِذًا مِّنَ الظّٰلِمِيْنَ.
“Dan jangan engkau menyembah sesuatu yang tidak memberi
manfaat dan tidak (pula) memberi bencana kepadamu selain Allah, sebab jika
engkau lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang
zalim.”(QS. Yunus[10]:106)
وَقَالُوا
اتَّخَذَ الرَّحْمٰنُ وَلَدًا. لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا. تَكَادُ السَّمٰوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ
وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا.
أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمٰنِ وَلَدًا.
“Mereka
berkata, ‘Yang Maha Pengasih mengambil seorang anak.’ Sungguh kalian telah
membawa sesuatu yang sangat mungkar. Hampir saja langit pecah karena ucapan
itu, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh berkeping-keping, karena mereka
menganggap bahwa Yang Maha Pengasih mempunyai anak.” (QS. Maryam [19]: 88-92).
Dari Abu Hurairah
radiallahu ‘anhu Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:
اجْتَنِبُوا السَّبْعَ المُوبِقَاتِ قَالُوا:
يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ: الشِّرْكُ بِاللَّهِ, وَالسِّحْرُ, وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالحَقِّ, وَأَكْلُ الرِّبَا, وَأَكْلُ مَالِ اليَتِيمِ, وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ, وَقَذْفُ المُحْصَنَاتِ المُؤْمِنَاتِ الغَافِلاَتِ.
“Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan.
Mereka (sahabat) berkata: “Wahai Rasulullah apakah tujuh perkara yang
membinasakan itu?” Beliau bersabda: “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa
yang diharamkan Allah kecuali dengan haq, memakan harta anak yatim, memakan
riba’, lari dari medan perang (jihad), menuduh berzina wanita baik-baik lagi
beriman serta tidak tahu menahu (dengan zina tersebut).” (HR. Bukhari 2766
Muslim 86).
Banyak yang masih meyakini tiyarah(anggapan
sial)
Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dia berkata
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ
وَلاَ صَفَرَ.
"Tidak dibenarkan
menganggap penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah), tidak
dibenarkan beranggapan sial, tidak dibenarkan pula beranggapan nasib malang
karena tempat, juga tidak dibenarkan beranggapan sial di bulan Shafar” (HR.
Bukhari 5757 Muslim 2220).
اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ, اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ, وَمَا مِنَّا إِلاَّ, وَلَكِنَّ اللهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ.
“Thiyarah itu syirik,
thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik dan setiap orang pasti terbetik dalam
hatinya, Hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepadaNya.” (HR.
Bukhari di dalam Adabul Mufrad 909, Tirmidzi 1614).
Sebagiannya beramal tetapi
melakukan syirik kecil yaitu riya’.
Allah ta’ala berfirman:
وَّاَنَّ الْمَسٰجِدَ لِلّٰهِ فَلَا
تَدْعُوْا مَعَ اللّٰهِ اَحَدًا.
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu
adalah untuk Allah. Maka janganlah kamu menyembah apa pun di dalamnya selain
Allah.” (QS. Al-Jin[72]18).
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ
الأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالَ
الرِّيَاءُ.
“Sesungguhnya yang paling aku takutkan dari apa yang aku takutkan menimpa
kalian adalah syirik kecil.” Maka para shahabat bertanya, ”Apa yang dimaksud
dengan syirkul ashghar?” Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam
menjawab,“Ar-riya’.” (HR. Ahmad 23636, Baihaqi, dishahihkan Syaikh al-Albani di
dalam At-Targhib 29, ash-Shahihah 951).
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam
hadits Qudsi :
أَنَا
أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ
عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيْهِ مَعِيْ غَيْرِيْ تَرَكْتُهُ وَ شِرْكَهُ.
“Aku adalah sekutu yang Maha Cukup,
sangat menolak perbuatan syirik. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal yang
dicampuri dengan perbuatan syirik kepadaKu, maka Aku tinggalkan dia dan (Aku
tidak terima) amal kesyirikannya” (HR Muslim 2985 dan Ibnu Majah 4202).
Umat-umat dahulu dibinasakan karena kesyirikan ini, begitu pula
kondisi sekarang ini selain maksiat yang lain.
Kisah kaum Saba’
Allah ta’ala berfirman:
لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي
مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ
رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ . فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ
سَيْلَ الْعَرِمِ .
Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan
Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu: dua buah kebun di sebelah kanan dan di
sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), ‘Makanlah olehmu dari rezki yang
(dianugerahkan) Rabbmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya!’ (Negerimu) adalah
negeri yang baik dan (Rabbmu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun. Tetapi mereka
berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar.” (QS. Saba’[34]:15-17).
Ibnu Katsir
berkata: “Kemudian datanglah kepada kaum Saba' para rasul yang menyuruh mereka
mengesakan Allah ta'ala. Mereka menaati perintah itu (sehingga Allah berikan
nikmat yang berlimpah terbut) hingga waktu yang dikehendaki Allah. Kemudian
mereka berpaling dari perintah rasul. Karena itu, mereka pun disiksa dengan
mengirimkan banjir besar. (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Saba’ [34]:15-17).
2. Kebid’ahan.
Bagaimana kebid’ahan merajalela di mana-mana,
saking banyaknya sampai-sampai orang yang mengamalkan sunnah terasa asing dan
dianggap aneh.
Allah ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ كُبِتُوا كَمَا كُبِتَ الَّذِينَ
مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ وَقَدْ أَنْزَلْنَا آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ ۚ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ
مُهِينٌ.
“Sesungguhnya
orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya pasti akan dihinakan,
sebagaimana orang-orang sebelum mereka telah dihinakan...” (QS. Al-Mujadilah[58]:
5).
Ibnu Katsir berkata: “Yakni mereka
dihina, dilaknat, dan direndahkan, sebagaimana yang telah dilakukan terhadap
orang-orang yang serupa dengan mereka sebelum mereka.” (QS.
Al-Mujadilah[58]:5).
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ
لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى
وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا.
“Dan barang siapa
menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan
yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang
telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahanam, dan
Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisaa [4]: 115).
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: Dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ
أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ.
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam
agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari
20)
مَنْ
عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan
ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim 1718).
Rasulullah shallallahu
‘alahi wa sallam bersabda:
قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى
الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ.
“Aku tinggalkan
kalian dalam keadaan terang-benderang, siangnya seperti malamnya. Tidak ada
yang berpaling dari keadaan tersebut kecuali ia pasti celaka.”
(HR. Ahmad 17142 Ibnu Majah 43 Thabrani 619 dan disahihkan Syaikh al-Albani di
Shahihul Jami’ 4369).
Bagaimana keadaan umat sekarang, mereka banyak
beramal namun tidak memperhatikan benar salahnya amalan tersebut.
3. Tersebarnya
berbagai macam maksiat.
Di antara maksiat yang mengundang Adzab
tersebut yaitu:
1) LGBT (Lesbian,
Gay, Bisexual, dan Transgender).
Allah ta’ala berfirman:
وَلُوطًا
إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ
مِنَ الْعَالَمِينَ .إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ
الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ
Dan
(ingatlah) Luth ketika dia berkata kepada kaumnya: “Apakah kalian melakukan
perbuatan keji yang belum pernah dilakukan seorang pun sebelum kalian di
seluruh alam semesta? Sesungguhnya kalian mendatangi laki-laki untuk
melampiaskan syahwat, bukan kepada perempuan. Bahkan kalian adalah kaum yang
melampaui batas.” (QS. Al-A’raf [7]:80-81).
فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا
عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ.
“Ketika
datang perintah Kami, Kami jadikan negeri itu yang di atas menjadi di bawah,
dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar bertubi-tubi.” (QS.
Hud[11]:82).
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah
shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:
مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ
وَالْمَفْعُولَ بِهِ.
“Barang
siapa kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah pelakunya.”(HR.
Ahmad 2732, Abu Dawud 4482, Ibnu Majah 2561).
2) Perzinaan.
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَا مَعْشَرَ
الْمُهَاجِرِينَ خِصَالٌ خَمْسٌ إِنِ ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَنَزَلْنَ بِكُمْ
أَعُوذُ بِاللهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ: لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ
قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بها إِلَّا فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ
الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ.
“Wahai kaum Muhajirin, ada lima perkara; jika
kalian diuji dengannya dan ia terjadi pada kalian, aku berlindung kepada Allah
agar kalian tidak menemui hal tersebut: Tidaklah perbuatan keji (zina) muncul
pada suatu kaum hingga mereka menampakkannya, kecuali akan tersebar pada mereka
tha‘un dan berbagai penyakit yang belum pernah terjadi pada orang-orang sebelum
mereka.” (HR. Ibnu Majah 4019, Thabrani 4671, Baihaqi 3042 dihasankan
Syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah 106).
Muhammad Fu’ad Abdul
Baqi’ berkata: perbuatan keji yang dimaksud adalah zina. (Syarah Sunan Ibnu
Majah 4019, Muhammad Fu’ad Abdul Baqi’).
3) Mengurangi timbangan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
...وَلَمْ
يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ
الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ.
“Dan tidaklah mereka mengurangi
takaran dan timbangan kecuali mereka akan ditimpa paceklik bertahun-tahun,
beratnya beban hidup, serta kezaliman penguasa atas mereka.” (HR. Ibnu Majah 4019, Thabrani 4671, Baihaqi 3042 dihasankan
Syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah 106).
4) Tidak mengeluarkan zakat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَلَمْ
يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ
وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا.
“Dan tidaklah mereka menahan zakat harta
mereka kecuali mereka akan dihalangi turun hujan dari langit, dan kalau bukan
karena binatang-binatang (yang membutuhkan air), niscaya mereka tidak akan
diberi hujan.” (HR. Ibnu Majah 4019, Thabrani 4671, Baihaqi 3042 dihasankan
Syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah 106).
5) Membatalkan perjanjian Allah dan Rasul-Nya.
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلَّا
سَلَّطَ اللهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ وَيَأْخُذُ بَعْضَ مَا فِي
أَيْدِيهِمْ.
“Dan tidaklah mereka melanggar
janji Allah dan janji Rasul-Nya kecuali Allah akan menjadikan musuh dari luar
mereka berkuasa atas mereka sehingga musuh itu mengambil sebagian dari apa yang
ada di tangan mereka.” (HR.
Ibnu Majah 4019, Thabrani 4671, Baihaqi 3042 dihasankan
Syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah 106).
6) Berhukum dengan selain
hukum Allah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَمَا لَمْ
تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بَيْنَهُمْ بِكِتَابِ اللهِ إِلَّا جَعَلَ بَأْسَهُمْ
بَيْنَهُمْ.
Dan selama para pemimpin mereka
tidak berhukum dengan Kitab Allah, niscaya Allah akan menjadikan permusuhan dan
kekerasan di antara mereka. (HR. Ibnu
Majah 4019, Thabrani 4671, Baihaqi
3042 dihasankan Syaikh al-Albani di dalam ash-Shahihah 106).
7) Musik
dan nyanyian.
Allah
ta’ala berfirman:
وَمِنَ
ٱلنَّاسِ مَن يَشْتَرِى لَهْوَ ٱلْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ بِغَيْرِ
عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُولَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ.
“Dan
di antara manusia ada orang yang membeli lahwal-hadits (perkataan yang melalaikan) untuk menyesatkan
manusia dari jalan Allah tanpa ilmu, dan menjadikan jalan Allah itu
olok-olokan. Mereka itulah yang akan memperoleh azab yang menghinakan.”(QS.
Lukman[31]:6).
Dari
Imran bin Husain, ia berkata , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
فِي
هَذِهِ الأُمَّةِ خَسْفٌ وَمَسْخٌ وَقَذْفٌ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ المُسْلِمِينَ: فِي هَذِهِ الأُمَّةِ خَسْفٌ وَمَسْخٌ وَقَذْفٌ, فَقَالَ رَجُلٌ
مِنَ الْمُسْلِمِينَ: يَا رَسُولَ اللهِ, وَمَتَى ذَاكَ, قَالَ: إِذَا
ظَهَرَتِ القَيْنَاتُ وَالمَعَازِفُ وَشُرِبَتِ الخُمُورُ.
“Umat ini akan mengalami bencana ditenggelamkan
ke dalam bumi, pengubahan bentuk (dan rupa), dan dihukum dengan hujan batu.”
Ada salah seorang yang bertanya, ”Kapan hal itu terjadi wahai Rasulullah?”
Rasulullah menjawab, ”Ketika para penyanyi dan alat-alat musik telah
memasyarakat, dan ketika berbagai jenis khamr dikonsumsi.” (HR. Tirmidzi 2213 dishahihkan Syaikh
al-Albani di dalam Shahihu al-Jami’ 4273).
Dan masih banyak lagi dosa yang mengundang adzab
Allah ta’ala.
4. Solusinya
menghadapi bencana.
1) Bertaubat.
Allah ta’ala
berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا.
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan
tobat yang semurni-murninya.” (QS.At-Tahrim[66]:8).
وَمَا
كَانَ اللّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللّهُ مُعَذِّبَهُمْ
وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ.
“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab
mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan
mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (QS: Al Anfal [8]: 33).
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا
فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا
لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى
مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ.
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan
keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon
ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa
selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka
mengetahui.” (QS. Al-Imran[3]:135).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ
اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي اليَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً.
“Demi Allah. Sungguh aku
selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70
kali.” (HR. Bukhari 6037).
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu
mengatakan:
مَا
نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ.
“Tidaklah musibah tersebut turun melainkan
karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan
dengan taubat.” (Al Jawabul Kaafi, hal. 87).
2) Memerintahkan
manusia agar bertakwa dan mentauhidkan Allah ta’ala.
Allah ta’ala berfirman:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا
وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ.
“Dan sekiranya
penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka
berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat
Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. Al A’raf [7]:96).
إِنْ تَجْتَنِبُوا
كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ
وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا.
“Jika
kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang di larang kamu
mengerjakannya, niscaya kami hapus kesalahan-kesalahanmu. (dosa-dosamu yang
kecil) dan kami masukkan kamu ke tempat yang mulia.” (QS.4.An-Nisa[4]:31)
3) Beramal ma’ruf nahi
mungkar.
Allah ta’ala
berfirman:
إِنَّ اللّهَ لاَ
يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ.
“Sesungguhnya Allah
tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada
pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’du [13]: 11)
Dari sahabat Abu
Sa’id al-Khudri beliau berkata, rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ, فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِلِسَانِهِ, فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِقَلْبِهِ
وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ.
“Aku mendengar Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa
dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa,
ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu
merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim 49)
وَالَّذِي
نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ
أَوْ لَيُوْشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْ عِنْدِهِ
ثُمَّ لَتَدْعُنَّهُ فَلاَ يَسْتَجِيْبُ لَكُمْ
“Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya,
hendaknya kalian betul-betul melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar atau (jika
kalian tidak melaksanakan hal itu) maka sungguh Allah akan mengirim kepada
kalian siksa dari-Nya kemudian kalian berdoa kepada-Nya (agar supaya
dihindarkan dari siksa tersebut) akan tetapi Allah Azza wa Jalla tidak
mengabulkan do’a kalian. (HR Ahmad 23301, Tirmidzi 2168, dihasankan oleh syaikh
al-Albani dalam Shahihul Jami’ 7070)
5. Adapun
hikmahnya adanya musibah
1) Agar
manusia Kembali kepada Allah ta’ala.
Allah ta’ala berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ
وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ
عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ.
“Telah tampak kerusakan di darat dan di
laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka
merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke
jalan yang benar).” (QS.Ar-Rum[30]:41)
2) Agar
manusia tidak menyombongkan diri.
مَا أَصَابَ مِنْ
مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ
أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ. لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا
آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ.
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di
bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab
(Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu
adalah mudah bagi Allah. Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan
berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu
gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai
setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Demikianlah semoga kita semua dijauhkan dari
berbagai bencana dan musibah, oleh karena itu marilan kita saling mengingatkan
di dalam kebaikan dan kesabaran.
Semoga bermanfaat.
-----000-----
Sragen 08 Des 2025
Junaedi Abdullah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar